Rosatom: PLTN Terapung Ramah Lingkungan dan Mampu Beroperasi hingga 60 Tahun

Rosatom menyebut, proyek PLTN Terapung pertama kali beroperasi secara komersial pada 2020 di kota Pevek, Rusia.

Diterbitkan 20 November 2025, 16:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, menegaskan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung (PLTN Terapung) atau Floating Power Unit (FPU) menjadi solusi cepat, ramah lingkungan, dan mampu menyediakan listrik hingga puluhan tahun.

Teknologi tersebut diklaim dapat beroperasi hingga 60 tahun dan dirancang untuk kawasan pesisir serta wilayah kepulauan yang membutuhkan pasokan listrik stabil.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Jenderal Solusi Energi Terapung Rosatom Mechanical Engineering LLC Vladimir Aptekarev dalam acara Electricity Connect 2025 yang digelar di Jakarta International Convention Center, Kamis (20/11/2025).

Aptekarev menjelaskan bahwa Rosatom telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan teknologi PLTN terapung. Proyek pertama mereka, Academic Lomonosov, telah beroperasi secara komersial sejak 2020 di kota Pevek, Rusia.

“Teknologinya bukan hal baru. Kami mengembangkan sistem ini sejak lebih dari 60 tahun, dimulai dari kapal pemecah es bertenaga nuklir pertama, Lenin. TRL-nya (Technology Readiness Level) sudah di tingkat 9 karena terbukti beroperasi secara komersial,” ujarnya.

Teknologi tersebut dikembangkan berdasarkan reaktor di kapal pemecah es nuklir modern milik Rusia, sehingga dinilai aman dan siap diproduksi massal. Rosatom juga menyebut kini sedang mengembangkan model baru, FK-106 untuk pasar domestik, serta FPU-100, yang dirancang khusus untuk pasar internasional.

Menanggapi kekhawatiran terkait dampak lingkungan, Aptekarev menegaskan bahwa FPU memiliki jejak ekologis yang sangat kecil. Sistem pendingin reaktor menggunakan lingkaran tertutup, sehingga air laut tidak terkontaminasi radiasi.

“Kami menggunakan sistem pendingin dengan lingkaran terisolasi. Air laut hanya digunakan untuk menurunkan suhu melalui penukar panas, bukan bersinggungan langsung dengan reaktor. Air buangan sudah melalui proses pengolahan khusus sehingga aman,” jelasnya.

Menurutnya, teknologi nuklir justru memberi kontribusi penting terhadap pengurangan emisi karbon.

“Tidak ada CO₂ yang dihasilkan dalam operasi pembangkit. Energi dari PLTN terapung termasuk energi hijau yang mendukung dekarbonisasi industri,” tegasnya.

 

Solusi untuk Wilayah Kepulauan dan Industri Tambang

Salah satu keunggulan PLTN terapung ialah kemampuannya beroperasi pada jaringan listrik terisolasi, termasuk pulau-pulau kecil atau wilayah terpencil. Hal ini dinilai relevan bagi Indonesia yang memiliki ribuan pulau serta potensi industri tambang yang besar.

“FPU bisa diterapkan di mana pun Anda membutuhkan listrik dan memiliki air. Cocok untuk kepulauan, cocok untuk industri besar di wilayah terpencil, terutama pertambangan,” kata Aptekarev.

Rosatom mengungkap bahwa model ini juga telah digunakan untuk memasok listrik ke tambang tembaga, emas, dan logam langka di Rusia. Menurutnya, manfaat yang diperoleh industri tidak hanya berupa ketersediaan energi, tetapi juga peluang pengembangan produk berlabel ramah lingkungan.

“Produksi logam dapat disertifikasi sebagai produk hijau, seperti tembaga hijau, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar global,” jelasnya.

 

Tidak Menjual PLTN, Hanya Menjual Listrik

Rosatom menekankan bahwa bisnis PLTN terapung dilakukan melalui skema Power Purchase Agreement (PPA). Artinya, negara atau perusahaan di wilayah pengguna tidak membeli pembangkitnya, tetapi membeli listrik dari Rosatom.

“Kami membangun, mengoperasikan, dan melakukan pemeliharaan. Kami tidak menjual FPU-nya. Kami hanya menjual listrik,” kata Aptekarev.

Dengan model tersebut, negara pengguna tidak dibebani infrastruktur nuklir yang kompleks. Pihak pengelola tidak perlu menyiapkan fasilitas bahan bakar ataupun pengelolaan limbah, karena proses itu dilakukan di Rusia melalui sistem rotasi tongkang.

Biaya infrastruktur darat hanya sekitar 10 hingga 15 persen dari investasi total pembangunan pembangkit.

Bisa Beroperasi 60 Tahun

Aptekarev menyebut FPU memiliki masa operasi desain hingga 60 tahun, dan masih memungkinkan untuk diperpanjang setelah melalui studi kelayakan.

“Bisa diperpanjang 5 hingga 7 tahun, tergantung studi di akhir masa operasi. Jadi, teknologi ini memberi pasokan energi jangka panjang bagi wilayah pengguna,” katanya.

Ia menegaskan bahwa PLTN terapung menjadi solusi tercepat untuk adopsi energi nuklir.

“Ini adalah cara tercepat untuk menggunakan energi nuklir. Teknologi ini siap dipakai secara komersial dan hanya Rusia yang memilikinya,” tutup Aptekarev.