Israel Belum Berhenti Serang Lebanon, Klaim Targetkan Hizbullah

Serangan terjadi meski telah disepakati gencatan senjata antara Israel-Hizbullah pada November 2024.

Diterbitkan 20 November 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beirut - Militer Israel meningkatkan serangan udara di Lebanon selatan pada Rabu (19/11/2025), menewaskan sedikitnya satu orang, sebagai bagian dari operasi hampir setiap hari yang mereka klaim diperlukan untuk mencegah Hizbullah kembali memperkuat posisinya di wilayah perbatasan.   

Hizbullah sendiri mengakui telah mematuhi ketentuan gencatan senjata yang mewajibkan mereka mengakhiri keberadaan militernya di wilayah perbatasan dekat Israel dan memungkinkan tentara Lebanon untuk dikerahkan di sana.

Pada hari Rabu seperti dikutip dari CNA, warga mengungsi setelah Israel mengeluarkan peringatan di media sosial yang mengidentifikasi bangunan-bangunan yang akan diserang di empat desa di selatan, dengan mengatakan bahwa mereka menyerang infrastruktur militer Hizbullah.

Serangan terhadap desa-desa — Deir Kifa, Chehour, Aainata, dan Tayr Filsay — menghasilkan gumpalan asap tebal ke udara.

Kementerian kesehatan Lebanon pada Rabu menuturkan bahwa satu orang tewas dalam serangan Israel di Desa Al-Tiri di selatan. Militer Israel mengklaim bahwa mereka membunuh seorang anggota Hizbullah yang bekerja untuk membangun kembali kesiapan Hizbullah di wilayah tersebut.

Pada Selasa (18/11), Israel melakukan salah satu serangan paling mematikan di Lebanon sejak perang tahun lalu dengan Hizbullah, menewaskan 13 orang di sebuah kamp pengungsi Palestina dekat Kota Sidon. Hal ini dikonfirmasi Kementerian Kesehatan Lebanon.

Militer Israel mengatakan mereka menyerang sebuah kompleks di kamp pengungsi Ain al-Hilweh yang digunakan oleh kelompok militan Palestina Hamas untuk melancarkan serangan terhadap Israel. Hamas mengatakan klaim Israel itu rekayasa belaka dan bahwa tidak ada fasilitas militer di kamp-kamp pengungsi.

Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Reuters pada Rabu bahwa tidak ada anggota kelompoknya yang termasuk di antara para korban tewas.

Berdasarkan ketentuan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat dan Prancis, angkatan bersenjata Lebanon harus menyita semua senjata yang tidak sah, dimulai dari area di selatan Sungai Litani — zona yang paling dekat dengan Israel.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem mengatakan bahwa kesepakatan tersebut hanya berlaku untuk wilayah di selatan Sungai Litani, bukan seluruh Lebanon.

Lebanon mengatakan Israel telah melanggar kesepakatan dengan terus menduduki posisi-posisi di selatan Lebanon.