Studi: Emisi Global dari Bahan Bakar Fosil Capai Titik Tertinggi Sepanjang Sejarah

Studi ini dilakukan oleh tim Global Carbon Budget.

OlehDW
Diterbitkan 14 November 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

, Washington D.C - Studi teranyar melaporkan emisi bahan bakar fosil global diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Angka tersebut dikaitkan dengan ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris tahun 2015.

Diterbitkan setiap tahun, laporan Global Carbon Budget meninjau emisi COâ‚‚ ke atmosfer Bumi melalui pembakaran hidrokarbon, produksi semen, dan penggunaan lahan, seperti deforestasi.

Laporan itu selalu mengaitkan data yang diperoleh dengan ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015- sebuah kesepakatan yang menyerukan pembatasan pemanasan global hingga dua derajat Celsius sebagai batas atas, tetapi idealnya 1,5°C, dibandingkan dengan tingkat sebelum masa industri.

Tim ilmuwan internasional yang melakukan studi tersebut menemukan bahwa emisi COâ‚‚ dari bahan bakar fosil akan 1,1% lebih tinggi pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, dikutip dari laman DW Indonesia, Jumat (14/11/2025).

Dengan emisi dari minyak, gas, dan batu bara yang semuanya diperkirakan meningkat, angka keseluruhan akan mencapai rekor 38,1 miliar ton COâ‚‚.

Meskipun penggunaan energi terbarukan terus berkembang di seluruh dunia, hal itu belum cukup untuk menyeimbangkan peningkatan permintaan energi secara keseluruhan.

Dosa iklim

Diterbitkan ketika negara-negara berkumpul untuk pembicaraan iklim COP30 di wilayahAmazon, Brasillaporan baru ini memperkirakan sisa jatah sebesar 170 miliar ton CO₂ untuk menjaga pemanasan tetap di angka 1,5°C dibandingkan dengan tingkat praindustri.

"Ini setara dengan empat tahun emisi pada tingkat saat ini sebelum jatah untuk 1,5°C habis, jadi itu mustahil, pada dasarnya," ungkap Pierre Friedlingstein dari Universitas Exeter,Inggris, yang memimpin tim ilmuwan tersebut.

Artinya, kalau dunia terus menghasilkan emisi karbon sebanyak sekarang, dalam waktu sekitar empat tahun ke depan jatah emisi agar suhu bumi tidak naik lebih dari 1,5°C akan habis. Setelah itu, akan sangat sulit—bahkan hampir tidak mungkin—untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah batas tersebut.

 

Kegagalan dalam Menurunkan Emisi

Kegagalan untuk menurunkan emisi penyebab pemanasan planet membayangi pertemuan COP30 di kota hutan hujan Belem.

Ketidakhadiran Trump di KTT iklim bukan hal yang mengejutkanKonferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim tersebut berlangsung minggu ini tanpa kehadiran Amerika Serikat, negara pencemar terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Washington tidak mengirim tim tingkat tinggi ke KTT iklim COP tahun ini di Belem, Brasil.

Komunitas global sudah memperkirakan hal itu setelah Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris untuk kedua kalinya, memangkas pendanaan untuk energi terbarukan, mendukung proyek bahan bakar fosil, dan mengatakan kepada para pemimpin dunia di Sidang Umum PBB pada bulan September bahwa perubahan iklim adalah "penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia."