Krisis Air Melanda Iran Buntut Kekeringan Parah

Krisis air ini disebut juga tidak lepas dari imbas serangan Israel pada Juni lalu.

Diterbitkan 10 November 2025, 10:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Iran — terutama Teheran — tengah menghadapi kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada musim gugur ini, dengan curah hujan mencapai rekor terendah dan waduk-waduk hampir kosong. Pejabat pemerintah kini menyerukan warga untuk menghemat air seiring krisis yang semakin memburuk.

Presiden Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa jika hujan tak segera turun, pasokan air di Teheran mungkin harus dijatah. Namun, ia mengatakan bahkan langkah itu mungkin tidak cukup untuk mencegah bencana.

"Jika penjatahan tidak berhasil," ungkap Pezeshkian seperti dikutip dari BBC, "Kami mungkin harus mengevakuasi Teheran."

Pernyataannya memicu kritik di surat kabar Iran dan di media sosial. Mantan wali kota Teheran Gholamhossein Karbaschi, menyebut gagasan itu sebagai lelucon. Dia menyatakan bahwa mengevakuasi Teheran sama sekali tidak masuk akal.

Pejabat meteorologi Iran mengatakan tidak ada hujan yang diperkirakan turun dalam 10 hari ke depan.

Sementara itu, krisis air sudah mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari di ibu kota.

"Saya berencana membeli tangki air untuk digunakan di toilet dan keperluan lainnya," kata seorang perempuan di Teheran kepada BBC Persian.

Pada musim panas, rapper Iran Vafa Ahmadpoor mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan keran dapur tanpa air mengalir.

"Sudah empat atau lima jam," ujarnya. "Saya membeli air kemasan hanya agar bisa menggunakan toilet."

Waduk Hampir Kosong

Manajer Bendungan Latian, salah satu sumber air utama Teheran, mengatakan waduk kini hanya berisi kurang dari 10 persen kapasitasnya. Bendungan Karaj di dekatnya — yang memasok air ke Provinsi Teheran dan Alborz — berada dalam kondisi yang sama parahnya.

"Saya belum pernah melihat bendungan ini sekosong ini sejak saya lahir," kata seorang warga lanjut usia kepada televisi pemerintah Iran.

Menurut Mohammad-Ali Moallem, manajer Bendungan Karaj, curah hujan turun drastis.

"Kami mengalami penurunan hujan sebesar 92 persen dibandingkan tahun lalu," jelasnya. "Kami hanya memiliki delapan persen air di waduk — dan sebagian besar tidak dapat digunakan, dianggap sebagai 'air mati'."

Pemerintah kini menaruh harapan pada hujan akhir musim gugur, namun prakiraan cuaca tetap suram. Menteri Energi Iran Abbas Ali Abadi memperingatkan bahwa situasi ini bisa memaksa pihak berwenang untuk memutus aliran air.

"Beberapa malam kami mungkin menurunkan aliran air hingga nol," ujarnya.

Pejabat dilaporkan telah mengumumkan rencana untuk memberikan sanksi kepada rumah tangga dan bisnis yang mengonsumsi air secara berlebihan.

 

Faktor Selain Hujan

Abadi menuturkan krisis air di Teheran tidak hanya disebabkan oleh kurangnya hujan. Ia turut menyalahkan kebocoran air yang disebabkan oleh infrastruktur pipa kota berusia lebih dari satu abad dan dampak konflik bersenjata 12 hari dengan Israel. 

Israel menargetkan kawasan Tajrish di utara Teheran pada 15 Juni. Setelah serangan tersebut, video menunjukkan banjir besar di wilayah itu.

Sehari setelah serangan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menargetkan pusat komando militer Iran.

Namun, krisis saat ini meluas jauh melampaui ibu kota.

Kepala Pusat Nasional Iran untuk Manajemen Iklim dan Krisis Kekeringan Ahmad Vazifeh memperingatkan bahwa selain Teheran, bendungan di banyak provinsi lain — termasuk Azerbaijan Barat, Azerbaijan Timur, dan Markazi — juga berada dalam kondisi mengkhawatirkan, dengan tingkat air hanya satu digit persen.

Di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran, para pejabat pun mengeluarkan peringatan.

Gubernur Provinsi Khorasan Razavi di timur laut Iran mengatakan cadangan air di bendungan Mashhad telah turun hingga kurang dari delapan persen, memperingatkan bahwa provinsi tersebut menghadapi tantangan besar kekeringan.

Direktur Utama Perusahaan Air dan Air Limbah Mashhad Hossein Esmaeilian menyebut angkanya bahkan lebih rendah.

"Tingkat penyimpanan di bendungan utama kota di bawah tiga persen," kata Esmaeilian. "Hanya tiga persen dari total kapasitas gabungan empat bendungan penyedia air Mashhad — Torogh, Kardeh, Doosti, dan Ardak — yang tersisa. Selain Bendungan Doosti, tiga lainnya sudah tidak beroperasi."

Krisis yang Telah Lama Diprediksi

Krisis air Iran telah diperkirakan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei telah berulang kali mengakui ancaman ini — termasuk dalam pidato Nowruz tahun 2011 dan beberapa tahun berikutnya.

Namun, sedikit sekali yang berubah.

Kini, Teheran, Karaj, dan Mashhad — yang menjadi rumah bagi lebih dari 16 juta penduduk secara keseluruhan — menghadapi kemungkinan nyata bahwa keran-keran mereka akan benar-benar kering.