Miliarder Kanada-Israel Donasikan Rp1,6 Triliun untuk Bangun Rumah Sakit Usai Serangan Iran

Selain membangun kembali rumah sakit, apa lagi kontribusi miliarder ini ke Israel?

Diterbitkan 05 November 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yerusalem - Serangan rudal ini terjadi pada 19 Juni di tengah perang selama 12 hari antara Israel dan Iran.

Kehancuran dari serangan rudal Iran kepada Israel membuat banyak bangunan rusak dan hancur, termasuk sebuah rumah sakit di wilayah Negev yang menjadi pusat layanan kesehatan utama bagi warga di Israel selatan.

Melihat kejadian yang menyerang pusat kesehatan, Adams mengumumkan pemberian donasi senilai 100 juta dolar (sekitar Rp1,6 triliun) kepada Pusat Medis Universitas Soroka dalam kabinet Israel pada hari Minggu, dilansir dari AP, Rabu (5/11/2025).

Sementara itu, tindakan yang dilakukan Adams bukan sekadar bentuk bantuan finansial, melainkan juga tersimpan harapan untuk masa depan Israel, yang mendapatkan fasilitas medis kembali untuk membantu para korban saat menghadapi situasi darurat.

Ia juga menjelaskan lokasi tempat berdirinya rumah sakit di Israel setelah terkena serangan rudal.

"Di lokasi persis di mana rudal jatuh, kami akan membangun di Beersheba, ibu kota Negev, yang menjadi sebuah rumah sakit tercanggih di Timur Tengah," ucapnya.

Donasi besar tersebut merupakan bagian dari inisiatifnya dengan senilai satu miliar shekel (sekitar Rp4,8 trilliun), yang digunakan untuk memperkuat sistem layanan kesehatan di Israel selatan.

Pendanaan proyek akan dibagi rata antara donasi Adams, pemerintah Israel, dan perusahaan asuransi kesehatan Clalit Health Services.

Kebaikan yang dilakukannya Adams tidak hanya terbatas pada pembangunan rumah sakit. Ia juga aktif berkontribusi di berbagai bidang lain, seperti olahraga, kedokteran, dan pendidikan.

Sehingga namanya semakin dikenal luas sebagai pengusaha sekaligus dermawan yang aktif mendukung dan memberikan bantuan kemanusiaan.

 

Harapan di Tengah Kehancuran

Ia juga merupakan salah satu pemilik tim balap sepeda Israel Premier Tech, yang bulan lalu mengumumkan perubahan nama dan melepas identitas nasionalnya setelah menghadapi sejumlah protes pro-Palestina di ajang balap internasional.

Hal ini bertujuan agar timnya dapat tetap ikut lomba tanpa kontroversi politik. Meski begitu, Adams menegaskan bahwa langkahnya untuk mendukung Israel tidak akan berhenti.

Harapan dari kontribusinya ini tetap difokuskan pada rumah sakit yang dapat kembali beroperasi penuh dengan fasilitas yang lebih kuat dan modern di tengah kondisi darurat.