16 Oktober 1996: Tragedi Maut di Stadion Guatemala, 84 Orang Tewas Akibat Ricuh Tiket Palsu

Kelebihan suporter yang memadati Stadion Guatemala menewaskan puluhan suporter, bagaimana kelanjutan pertandingan tersebut?

Diterbitkan 16 Oktober 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Guatemala City - Pada 16 Oktober 1996, terjadi keributan besar menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala dan Kosta Rika menewaskan 84 orang dan melukai lebih dari 100 orang.

Masalah ini terjadi karena ada yang menjual ribuan tiket palsu. Akibatnya, sekitar 60.000 suporter memadati stadion yang hanya berkapasitas 45.000 orang, dilansir dari History.com, Kamis (16/10/2025).

Sebagian besar mereka mengenakan warna biru dan putih, sebuah warna kebanggaan nasional Guatemala.

Karena kapasitas stadion tidak dapat menahan muatan yang lebih, malam itu menjadi mimpi buruk bagi mereka yang menikmati pesta sepak bola nasional.

 

Kepanikan di Tengah Antusiasme

Saat itu, terjadi pada Rabu malam di Guatemala City dan stadion sudah penuh sekitar satu jam sebelum pertandingan dimulai.

Tetapi para suporter terus berdesakan untuk masuk ke dalam pertandingan melalui lorong sempit.

Banyak dari mereka terjatuh dan terinjak, hingga akhirnya mereka panik dan kehabisan napas karena padatnya kerumunan.

Suasana yang semula berdebar-debar menunggu cetak gol berubah menjadi kekacauan.

Dorongan dan banyaknya orang semakin memicu emosi, sebagian suporter mulai berkelahi dan mengakibatkan kepanikan massal yang tak terkendali.

Bahkan Presiden Guatemala, Alvaro Arzu, yang turut menyaksikan dari tribun kehormatan, langsung membatalkan pertandingan.

Namun, sudah terlambat bagi 83 orang yang korbannya kebanyakan anak-anak tewas di tempat.

Halaman stadion pun berubah menjadi area darurat dengan jenazah dan korban luka bergeletakan.

Duka Nasional

Presiden Arzu turut merasakan para keluarga yang ditinggalkan orang terkasih, ia menetapkan tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan.

Dan juga, Paus Yohanes Paulus II menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.

Tidak terkecuali Pelatih tim nasional Guatemala, Horacio Cordero, juga mengekspresikan kesedihannya atas suporter yang kehilangan nyawa.

"Apa pentingnya sepak bola sekarang?" ucapnya pilu.

Tragedi di Guatemala City ini menambah daftar dari kerumunan atau bencana stadion yang terjadi di dunia sepak bola.

Pada dekade 1980-an dan 1990-an, setidaknya empat insiden serupa juga menewaskan lebih dari 40 orang di berbagai negara.

Â