Serangan Udara di Lembah Tirah Pakistan Tewaskan 30 Warga Sipil, Picu Kecaman Global

Dewan Hak Asasi Manusia PBB menggelar sidang darurat terkait insiden di Lembah Tirah.

Diterbitkan 25 September 2025, 08:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Islamabad - Lembah Tirah di Khyber Pakhtunkhwa kembali menjadi saksi luka mendalam setelah serangan udara yang diduga dilakukan militer Pakistan pada 21 September 2025 dini hari menewaskan sedikitnya 30 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Serangan yang berlangsung sekitar pukul 02.00 waktu setempat itu menghantam desa Matre Dara, kawasan pegunungan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan, dikutip dari laman dailymirror, Jumat (26/9/2025).

Jet tempur JF-17 buatan Tiongkok menjatuhkan delapan bom LS-6 berpemandu presisi ke permukiman warga yang tengah terlelap. Pemandangan yang tersisa hanyalah puing-puing rumah dan jeritan keluarga yang kehilangan orang tercinta.

Dugaan Operasi Militer

Militer Pakistan disebut melancarkan serangan ini dalam kerangka operasi antiteror, menargetkan kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP). Namun, skala kehancuran dan korban sipil yang besar membuat banyak pihak menilai tindakan tersebut bukan sekadar salah sasaran, melainkan serangan yang disengaja terhadap warga sipil.

“Ini tidak lebih dari penyerangan terhadap rakyat tak bersenjata,” kata anggota parlemen oposisi Iqbal Afridi.

Sementara Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) menuntut penyelidikan independen serta akuntabilitas dari pihak militer.

Dimensi Internasional

Hal yang membuat insiden ini semakin mengkhawatirkan adalah penggunaan persenjataan canggih buatan Tiongkok terhadap target domestik. Jet tempur JF-17 dan bom LS-6 – simbol kerja sama militer Pakistan–Tiongkok – kini disebut terlibat langsung dalam pelanggaran HAM terhadap warga negaranya sendiri.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di level global: bagaimana transfer teknologi militer internasional dapat dimanfaatkan bukan untuk pertahanan, melainkan untuk represi internal.

 

Reaksi Dunia

Sehari setelah pengeboman, Dewan Hak Asasi Manusia PBB menggelar sidang darurat. India menjadi salah satu negara yang mengecam keras, menyebut serangan ini sebagai “pengeboman rakyat sendiri” yang paradoksal dengan klaim Pakistan memerangi ekstremisme.

Lembaga swadaya masyarakat internasional juga menyerukan investigasi yang bebas dan transparan. Data sementara menyebutkan lebih dari 60.000 warga telah mengungsi dari wilayah konflik, terjebak di antara tekanan militer pemerintah dan ancaman kelompok bersenjata.

Bagi masyarakat Lembah Tirah, tragedi ini menambah daftar panjang trauma akibat militerisasi berkepanjangan. Protes pecah di sejumlah wilayah, dengan suara lantang menuntut diakhirinya kekerasan negara terhadap warga sipil.

Ironisnya, Pakistan yang selama bertahun-tahun mengutuk penggunaan drone AS di wilayahnya kini justru mengoperasikan pesawat nirawak dan jet tempur untuk tujuan serupa – kali ini terhadap rakyatnya sendiri.

Tragedi di Khyber Pakhtunkhwa menjadi peringatan keras tentang bahaya impunitas, pemerintahan yang semakin militeristik, serta keterlibatan senjata asing dalam konflik domestik.

Apakah ada ruang untuk keadilan dan reformasi masih menjadi tanda tanya. Jawabannya bukan hanya bergantung pada keberanian rakyat Pakistan sendiri, tetapi juga pada konsistensi dunia internasional untuk menolak dalih antiterorisme sebagai tameng bagi pelanggaran HAM.