Israel Luncurkan Serangan Darat Besar-besaran ke Jantung Kota Gaza

Sebelum peringatan evakuasi dikeluarkan, diperkirakan ada 1 juta warga Palestina yang tinggal di kawasan Kota Gaza. Kini, menurut militer Israel, sekitar 350.000 orang telah meninggalkan kota itu.

Diperbarui 17 September 2025, 08:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Kota Gaza pada Selasa (16/9/2025). Serangan darat ini ditujukan untuk melumpuhkan pusat utama Hamas di kota yang sudah hancur akibat hampir dua tahun perang. 

Operasi di kota Palestina terbesar itu semakin memperburuk konflik yang telah mengguncang Timur Tengah dan, menurut banyak pengamat, kian menjauhkan harapan tercapainya gencatan senjata dengan Hamas. Militer Israel tidak memberikan perkiraan waktu berlangsungnya operasi, namun media Israel menyebutkan serangan bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

"Gaza sedang membara," sebut Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, saat operasi dimulai seperti dilansir AP. 

Bom-bom berat mengguncang kota, sementara pasukan darat bergerak masuk dari pinggiran setelah berminggu-minggu serangan udara dan persiapan militer.

Serangan ini dilancarkan bertepatan dengan publikasi laporan pakar independen yang ditunjuk Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Dalam laporannya, Israel dituduh melakukan genosida di Gaza. Pemerintah Israel menolak tuduhan tersebut, menyebutnya distorsi dan kebohongan.

Di sisi lain, serangan baru Israel tidak menghentikan agenda diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dia mengumumkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengundangnya ke Gedung Putih pada 29 September, setelah dirinya berpidato di Majelis Umum PBB. Kunjungan itu akan menjadi yang keempat sejak Trump menjabat pada Januari.

 

Pengungsian Massal

Sepanjang perang, pasukan Israel telah berulang kali melakukan penggerebekan besar-besaran ke Kota Gaza. Setiap kali, operasi itu menimbulkan pengungsian massal dan kerusakan parah, namun para militan selalu mampu kembali berkumpul setelahnya. Menurut grafik militer Israel, target akhir operasi ini adalah menguasai hampir seluruh wilayah Jalur Gaza, kecuali satu bentangan luas di sepanjang pesisir.

Seorang pejabat militer Israel yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa "fase utama" operasi di Kota Gaza telah dimulai, dengan pasukan darat mulai bergerak masuk. Menurutnya, masih ada sekitar 2.000 hingga 3.000 militan Hamas di kota itu beserta jaringan terowongan mereka. Namun, kemampuan tempur Hamas disebut sudah sangat berkurang sehingga kini mereka lebih banyak mengandalkan serangan gerilya, seperti menanam bahan peledak atau menyerang pos militer dalam kelompok kecil sebelum menghilang.

Di tengah situasi tersebut, arus pengungsian terus berlanjut.

Ismail Zaydah (39) mengaku melarikan diri dari rumahnya di kawasan Sheikh Radwan menuju daerah dekat jalan pesisir. Dia menceritakan bahwa truk yang mengangkut orang ke selatan, ke arah zona kemanusiaan yang ditetapkan Israel, mematok tarif sekitar USD 1.000, sementara banyak keluarga di Gaza hidup dalam kondisi kelaparan.

"Kami kabur hanya dengan beberapa potong pakaian. Orang-orang mendirikan tenda di bagian barat Kota Gaza dan mereka tidur di antara kotoran manusia karena tidak ada tempat lain untuk dituju," ujarnya.

 

Jeritan Keluarga Sandera

Pada Selasa malam, keluarga para sandera yang masih ditahan di Gaza berkumpul di depan kediaman Netanyahu, memohon agar serangan dihentikan demi menyelamatkan nyawa kerabat mereka.

"Netanyahu memberi perintah untuk mengebom anak saya," kata Anat Angrast, yang putranya masih ditawan di Gaza. "Dia tahu bahwa Matan berada dalam bahaya langsung akibat operasi di Gaza, namun tetap memutuskan mengebomnya sampai mati. Hanya dia yang menentukan apakah Matan hidup atau mati."

Israel memperkirakan sekitar 20 sandera yang ditawan Hamas sejak 7 Oktober 2023 masih hidup. Sementara itu, Hamas menegaskan pihaknya hanya akan membebaskan mereka jika ada pertukaran tahanan, gencatan senjata permanen, dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Dalam kunjungannya ke Israel pada akhir pekan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menekankan bahwa masih ada peluang untuk mengakhiri perang melalui perundingan.

"Pada titik tertentu, ini harus berakhir. Pada titik tertentu, Hamas harus dilucuti, dan kami berharap itu bisa terjadi lewat negosiasi," kata dia. "Tapi saya pikir, sayangnya, waktu semakin menipis."

Rubio kemudian melanjutkan perjalanan ke Qatar dan bertemu dengan emir negara itu. Qatar murka atas serangan Israel pekan lalu yang menewaskan lima anggota Hamas dan seorang pejabat keamanan lokal. Meski demikian, Rubio menyampaikan apresiasi karena Qatar tetap menjadi mediator utama dalam upaya gencatan senjata. Dia juga menegaskan eratnya hubungan kedua negara.

Negara-negara Arab dan muslim sebelumnya mengecam serangan itu dalam sebuah pertemuan puncak pada Senin, meskipun belum ada langkah besar yang secara langsung menargetkan Israel.

Â