100% Manusia Film Festival: Ukraina Angkat Isu Hak Anak yang Hilang Akibat Perang

Apa pesan dari film yang menceritakan anak-anak korban perang di Ukraina?

Diterbitkan 12 September 2025, 13:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pameran foto bertajuk Lost Childhood resmi dibuka di Grand Sahid Jakarta, Kamis (11/9/2025). Acara ini digelar Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia dalam rangkaian 100% Manusia Film Festival 2025.

Pameran menyoroti isu hak anak yang terdampak perang, khususnya ribuan anak Ukraina yang dideportasi secara paksa ke Rusia sejak invasi penuh skala dimulai pada 2022.

Dalam pembukaan, Yevhenia Shynkarenko, Charge d’Affaires Kedubes Ukraina, menegaskan bahwa pameran ini menjadi pengingat nyata akan kejahatan perang Rusia yang menargetkan anak-anak.

"Hari ini kita berada di pameran inisiatif internasional Bring Kids Back UA. Saat ini, koalisi internasional bersama sejumlah negara melakukan segala cara untuk mengembalikan anak-anak Ukraina yang dideportasi. Sayangnya, banyak dari mereka dipaksa mengubah nama, bahkan identitasnya dihapus," ujarnya.

Menurut Shynkarenko, pameran ini mungkin kecil, tetapi sarat makna. Foto-foto yang dipamerkan menggambarkan tatapan anak-anak yang seharusnya penuh keceriaan, kini berubah menjadi tatapan orang dewasa yang dipaksa menghadapi trauma perang.

"Mata mereka sudah dipenuhi rasa sakit. Setiap anak yang berhasil pulang punya kisahnya masing-masing, dan itu seharusnya tidak pernah terjadi," tambahnya.

Melalui Lost Childhood, Ukraina berharap dunia tidak tinggal diam. Shynkarenko mengajak lebih banyak negara untuk terlibat dalam upaya pemulangan anak-anak yang hingga kini masih hilang atau berada di bawah pengasuhan ilegal di Rusia.

"Dengan pameran ini, kami ingin melibatkan lebih banyak orang, lebih banyak negara, untuk membantu membawa anak-anak Ukraina kembali ke keluarga mereka, melindungi masa depan, dan hak-hak mereka," tutupnya.

Pameran Lost Childhood berlangsung hingga 14 September 2025. Selain karya fotografi Roman Pashkovskyi, pameran ini juga menampilkan gambar hasil karya anak-anak korban perang yang selamat dan berhasil kembali ke Ukraina.

Tatapan Sunyi

Foto-foto yang dipamerkan di Lost Childhood menyoroti mata anak-anak Ukraina yang pernah diculik dan dideportasi secara paksa ke Rusia. Tatapan mereka tidak lagi menampilkan keceriaan khas masa kecil, melainkan beban yang jauh lebih berat dari usia mereka.

Menurut fotografer Ukraina Roman Pashkovskyi, mata anak-anak ini mencerminkan bagaimana masa kecil mereka, yang seharusnya dipenuhi permainan dan kegembiraan, direnggut dalam sekejap, digantikan trauma perang, penderitaan, dan kehilangan.

Melalui potret sederhana ini, ia ingin menyampaikan bahwa setiap anak yang berhasil kembali membawa cerita unik tentang perjuangan, sekaligus seruan untuk dunia agar tidak melupakan hak-hak anak di tengah konflik.