Dinamika Baru dalam Hubungan AS-Pakistan, Bagaimana Sikap China?

Pakistan-AS sempat memburuk pada 2018 ketika Trump menangguhkan bantuan militer, menuding Islamabad gagal menindak jaringan teroris.

Diperbarui 06 September 2025, 10:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Pernyataan pujian Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Pakistan, disusul kunjungan ganda Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir ke Washington, memicu pertanyaan. Bagaimana posisi Beijing.

Optimisme bercampur kecemasan kini mewarnai Beijing. Negeri Tirai Bambu berharap Pakistan tetap setia, tidak mempererat hubungan dengan Washington dengan mengorbankan relasi strategis dengan Tiongkok.

Bagi Beijing, Pakistan adalah batu loncatan penting dalam ambisinya menjadi kekuatan adidaya global, dikutip dari laman Maldives Insight, Kamis (5/9/2025).

Di sisi lain, Pakistan tampaknya mulai sadar bahwa kerja sama dengan China tidak selalu menguntungkan. Proyek Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC) membuat Islamabad terjerat utang besar, sementara manfaat bagi rakyat terasa minim. Selain itu, senjata buatan Tiongkok yang dibeli Pakistan dinilai kurang efektif di medan tempur.

Situasi ini mendorong Islamabad melirik Washington. Presiden Trump bahkan memuji Pakistan karena membantu membuka jalur komunikasi dengan Iran. Pada 18 Juni lalu, Munir dijamu secara eksklusif di Gedung Putih, hanya beberapa hari sebelum AS melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran.

Tak lama kemudian, Trump juga mengumumkan kesepakatan dengan Islamabad untuk mengembangkan cadangan minyak Pakistan—meski data menunjukkan cadangan tersebut relatif kecil secara global.

Faktor Ekonomi dan Senjata

Kebutuhan akan dana segar dan sistem persenjataan andal menjadi alasan utama Pakistan mendekat ke AS. Utang luar negeri Pakistan mencapai 130 miliar dolar AS pada 2024, dengan Tiongkok sebagai kreditor bilateral terbesar senilai 29 miliar dolar AS.

Karena itu, Islamabad terpaksa mencari kucuran dana dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang dipengaruhi Washington. Tahun lalu, IMF menyetujui paket talangan senilai 7 miliar dolar AS, termasuk pencairan 1 miliar dolar AS pada Mei.

Sementara itu, proyek CPEC menimbulkan masalah baru. Tarif listrik di Pakistan melonjak karena skema pembayaran kepada perusahaan Tiongkok. Nelayan di Pelabuhan Gwadar kehilangan sumber penghidupan, sementara kelompok separatis Baloch terus melancarkan serangan terhadap warga dan fasilitas Tiongkok di Pakistan.

 

Peran AS dalam Isu Keamanan

Dalam bidang keamanan, Washington memberikan dukungan simbolis dengan memuji keberhasilan Pakistan memerangi kelompok teroris. Pada Agustus lalu, kedua negara sepakat memperdalam kerja sama melawan Balochistan Liberation Army (BLA), ISIS-K, dan Taliban.

Padahal, hubungan Pakistan-AS sempat memburuk pada 2018 ketika Trump menangguhkan bantuan militer, menuding Islamabad gagal menindak jaringan teroris.

Sejak itu Pakistan makin bergantung pada Tiongkok sebagai pemasok senjata. Antara 2020–2024, sekitar 63 persen ekspor senjata Tiongkok dikirim ke Pakistan. Namun, dalam bentrokan singkat dengan India, sistem persenjataan Tiongkok—termasuk rudal HQ-9, HQ-16, serta jet J-10C dan JF-17—dinilai tak mampu menahan serangan India.

Beijing kini mencermati dengan cemas setiap langkah Islamabad. Menlu Tiongkok Wang Yi bahkan segera terbang ke Pakistan usai kunjungan ke India pada Agustus untuk menghadiri Dialog Strategis Tiongkok-Pakistan.

Amerika Serikat juga terus menekan Pakistan agar tidak membuka jalan bagi militer Tiongkok di Pelabuhan Gwadar. Pada latihan gabungan angkatan laut tahun lalu, Islamabad menolak permintaan Tiongkok untuk berlabuh di pelabuhan tersebut. Bahkan, negosiasi terkait kemungkinan pendirian pangkalan militer di Gwadar kandas setelah Pakistan menuntut Tiongkok berbagi teknologi nuklir, yang ditolak Beijing karena takut sanksi Barat.

 

Harapan Beijing

Meski begitu, sejumlah analis Tiongkok berusaha menunjukkan optimisme.

“Pakistan tidak akan mengembangkan hubungan dengan AS dengan mengorbankan Tiongkok,” ujar Hu Shisheng dari Institut Hubungan Internasional Kontemporer Tiongkok.

Pandangan senada disampaikan Jesse Wang dari Pusat Pertukaran Ekonomi dan Budaya Asia Selatan Huaxia.

Menurutnya, “Tawaran manis Trump hanyalah gangguan sesaat, tidak cukup untuk menggoyahkan fondasi hubungan Tiongkok-Pakistan.”

Pernyataan semacam ini mencerminkan kekhawatiran Beijing. Meski masih percaya pada loyalitas Islamabad, bayang-bayang kedekatan baru Pakistan dengan Washington jelas membuat Tiongkok harus lebih waspada.