Kekerasan Antar Suku Pecah di Suriah, 37 Orang Tewas dan 180 Lainnya Terluka

Konflik antar suku di Suriah Selatan pecah dan menewaskan 37 orang. Kekerasan sektarian ini menyoroti ketidakstabilan yang terus berlanjut di negara tersebut.

Diterbitkan 14 Juli 2025, 18:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Damaskus - Setidaknya 30 orang tewas dalam bentrokan di Suriah selatan. Pihak berwenang mengerahkan pasukan untuk meredakan situasi.

Puluhan orang juga terluka dalam kekerasan antara Suku Badui Sunni dan pejuang dari minoritas agama Druze di Kota Sweida.

Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan setidaknya 30 orang tewas, sementara Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah lembaga pemantau perang yang dikutip BBC, Senin (14/7/2025), menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 37 orang.

Pertempuran antar kelompok minoritas telah meningkat sejak runtuhnya rezim Assad pada bulan Desember 2023.

Sebuah pemerintahan baru yang dipimpin oleh kelompok Islam sedang berupaya membangun kendali di dalam negeri, yang masih berada dalam situasi yang rapuh.

Pada akhir tahun 2024 lalu, pemberontak Islam Sunni yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyerbu Damaskus. Mereka menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, yang keluarganya telah memerintah negara itu selama 54 tahun.

Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan pada Senin (14/7) pagi bahwa pasukannya akan langsung turun tangan untuk menyelesaikan konflik dan menghentikan bentrokan, yang menurut mereka telah menyebabkan 100 orang terluka.

Gubernur Sweida, Mustapha al-Bakur, meminta konstituennya untuk "menahan diri dan menanggapi seruan nasional untuk reformasi".

Para pemimpin spiritual juga menyerukan agar tetap tenang.

 

Bentrokan Terbaru

Sebelumnya pada bulan April dan Mei, bentrokan antara pasukan keamanan baru dan pejuang Druze menewaskan puluhan orang.

Keyakinan Druze merupakan cabang dari Syiah, dengan komunitas yang cukup besar juga di Lebanon, Yordania, dan Israel. Di bawah rezim Assad, banyak yang diam-diam setia kepada negara dengan harapan negara akan memberikan perlindungan selama perang saudara yang telah berlangsung selama 13 tahun.

Awal bulan ini, orang-orang dari komunitas Druze mengatakan kepada BBC bahwa mereka tidak hanya khawatir akan serangan fisik tetapi juga tidak dilindungi oleh pemerintahan baru.

Dalam beberapa bulan terakhir, ratusan orang dari kelompok minoritas Alawi, salah satu cabang Syiah, juga telah terbunuh, dan jemaah di sebuah gereja di Damaskus juga telah diserang.

Adapun negara-negara Barat sejauh ini telah berupaya memulihkan hubungan dengan Suriah. AS telah menghapus HTS dari daftar organisasi teroris asing bulan ini, sementara Menteri Luar Negeri David Lammy menjadi menteri Inggris pertama yang mengunjungi Suriah sejak pemberontakan yang memicu perang saudara di negara itu dimulai 14 tahun lalu.