Kapal Misi Kemanusiaan Freedom Flotilla Berlayar Kian Dekat ke Gaza, Israel Sebut Ancaman Keamanan

Kapal Madleen berangkat dari Sisilia, Italia, menuju Gaza pada Minggu (1/6/2025), dengan membawa bantuan kemanusiaan seperti susu formula bayi, popok, tepung, beras, penyaring air, perlengkapan kebersihan, dan peralatan medis.

Diterbitkan 08 Juni 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Kapal pembawa bantuan milik Koalisi Freedom Flotilla yang mengangkut 12 aktivis, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, telah mencapai pantai Mesir dan kini semakin mendekati Gaza, wilayah Palestina yang tengah terkepung.

"Kami sekarang sedang berlayar di lepas pantai Mesir," kata aktivis hak asasi manusia asal Jerman, Yasemin Acar, kepada AFP. "Kami semua dalam kondisi baik."

Dalam pernyataan dari London pada Sabtu (7/6/2025), Komite Internasional untuk Mematahkan Blokade Gaza – yang merupakan bagian dari Koalisi Freedom Flotilla mengabarkan pula bahwa kapal telah memasuki perairan Mesir.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka terus menjalin komunikasi dengan badan-badan hukum dan hak asasi manusia internasional guna menjamin keselamatan semua orang di kapal. Mereka memperingatkan bahwa setiap bentuk penyergapan akan menjadi pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional.

Anggota Parlemen Eropa, Rima Hassan, yang ikut berada di kapal tersebut, menyerukan kepada pemerintah-pemerintah di seluruh dunia untuk menjamin jalur pelayaran yang aman bagi kapal Koalisi Freedom Flotilla.

Israel telah menyatakan bahwa mereka akan mencegah kapal bernama Madleen ini mendekati, terlebih mencapai Gaza. Juru bicara militer Israel seperti dikutip dari Al Jazeera menegaskan bahwa kapal Madleen sedang diperlakukan sebagai ancaman keamanan.

Berdasarkan data pelayaran saat ini, kru kapal diperkirakan akan mencapai jarak 185 kilometer dari Gaza pada Senin (9/6), titik di mana kapal kemungkinan besar akan dicegat Israel, mengacu pada insiden-insiden sebelumnya.

Upaya Berani Freedom Flotilla

Yasmin Acar, salah satu dari beberapa aktivis yang berada di atas kapal Madleen, menuturkan kepada Al Jazeera bahwa perjalanan Freedom Flotilla dengan kapal Madleen membawa pesan kepada dunia tentang pentingnya mendukung warga Gaza.

"Kami mencoba membawa bantuan saat Israel melanggar hukum internasional," ujarnya, sebelum menambahkan bahwa dunia telah bungkam selama 20 bulan atas genosida yang terjadi di Gaza.

Israel mendapat semakin banyak kritik dari komunitas internasional atas situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza, di mana PBB memperingatkan pada Mei bahwa seluruh penduduk di wilayah itu berada dalam risiko kelaparan.

Gaza telah berada di bawah blokade laut Israel bahkan jauh sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan militer Israel telah menegaskan niat mereka untuk terus memberlakukannya.

Pada 2010, pasukan Israel melancarkan operasi terhadap kapal Turki, Mavi Marmara, yang merupakan bagian dari upaya Koalisi Freedom Flotilla untuk menembus blokade laut Israel. Operasi itu berakhir dengan tewasnya 10 warga sipil.    

Â