Tenaga Kerja Perempuan Tiongkok Hadapi Masalah di Tengah Badai Ekonomi

Dihadapkan dengan menyusutnya peluang kerja konvensional, tak sedikit kaum perempuan yang akhirnya beralih ke jalur pekerjaan alternatif.

Diperbarui 07 Juni 2025, 00:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Pasar tenaga kerja Tiongkok tengah mengalami tekanan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan bagi perempuan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan kian besar. Salah satu fenomena yang mencolok adalah "batas usia 35 tahun", di mana banyak perempuan—terutama di sektor yang menonjolkan kaum muda seperti industri hiburan, perhotelan, dan korporat—merasa terpinggirkan setelah melewati usia tersebut.

Dihadapkan dengan menyusutnya peluang kerja konvensional, tak sedikit dari mereka yang akhirnya beralih ke jalur pekerjaan alternatif, mulai dari layanan pengiriman makanan, dunia hiburan malam, hingga pekerjaan yang berada di area abu-abu seperti hubungan transaksional.

Pergeseran ini tidak hanya mencerminkan perubahan arah karier individu, tetapi juga mengungkap problem struktural mendalam dalam perekonomian China: meningkatnya pengangguran, melemahnya konsumsi, dan lesunya sektor swasta, dikutip dari European News, Jumat (6/6/2025).

"Batas Usia" yang Menghantui

Perusahaan-perusahaan di Tiongkok cenderung lebih memilih tenaga kerja muda, terutama di bidang teknologi, keuangan, dan hiburan. Usia muda dianggap identik dengan semangat, produktivitas tinggi, dan kemampuan adaptasi yang cepat. Namun, diskriminasi usia ini paling terasa bagi perempuan, yang meskipun mencakup lebih dari 43 persen tenaga kerja nasional, tetap menghadapi risiko PHK lebih tinggi dan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru setelah diberhentikan.

Faktor gender memperparah situasi. Banyak perusahaan enggan merekrut perempuan usia matang karena dianggap berisiko secara finansial—baik karena potensi tuntutan upah yang lebih tinggi maupun kemungkinan mengambil cuti hamil. Alhasil, jutaan perempuan harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan penghasilan, tidak memiliki tabungan memadai, dan terdesak untuk mencari penghidupan di luar jalur formal.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Dalam situasi sulit ini, pekerjaan di sektor gig economy—terutama layanan pengantaran makanan—menjadi salah satu jalan keluar. Di Beijing saja, jumlah kurir makanan meningkat hampir 50 persen selama paruh pertama tahun 2024. Meski menawarkan fleksibilitas, pekerjaan ini jauh dari stabil. Persaingan ketat dan upah yang kian menurun membuat banyak pekerja merasa pekerjaan tersebut hanya menjadi solusi jangka pendek.

Bagi perempuan yang sebelumnya bekerja di dunia profesional atau industri jasa, beralih menjadi kurir makanan terasa seperti kemunduran besar. Mereka harus menghadapi jam kerja panjang, tekanan fisik berat, dan tidak adanya jaminan kerja. Namun, dengan sedikit pilihan lain, banyak yang tetap bertahan.

Sementara itu, sebagian perempuan memilih bekerja di sektor hiburan malam, seperti bar, panti pijat, atau platform siaran langsung. Laporan ketenagakerjaan tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari satu juta perempuan kini bekerja di industri ini di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, dan Chengdu—angka tertinggi sepanjang sejarah.

 

Dari Siaran Langsung ke Eksodus Lintas Negara

Popularitas industri siaran langsung yang sempat menjanjikan kini mulai meredup seiring penurunan pendapatan. Akibatnya, banyak perempuan yang sebelumnya berkarier sebagai influencer atau host live streaming kini kembali ke pekerjaan malam hari yang lebih konvensional.

Beberapa bahkan melangkah lebih jauh. Laporan menyebutkan bahwa sejumlah perempuan pindah ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia, dengan menyamar sebagai mahasiswa internasional sambil bekerja di tempat hiburan kelas atas. Fenomena ini mencerminkan arus migrasi yang dipicu oleh tekanan ekonomi, seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Tingkat pengangguran anak muda di Tiongkok melonjak hingga 40 persen pada 2025, jauh melampaui angka resmi pemerintah. Dengan lebih dari 12 juta lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja tahun ini, persaingan kian ketat. Banyak lulusan terpaksa menerima pekerjaan yang tidak sesuai bidang, bahkan kembali ke kampung halaman tanpa kejelasan masa depan.

Upaya pemerintah seperti Rencana Barat—yang mendorong lulusan bekerja di pedesaan—tidak membuahkan hasil signifikan. Minimnya infrastruktur, upah rendah, dan terbatasnya peluang pertumbuhan karier membuat banyak lulusan enggan mengambil opsi ini. Bahkan, beberapa pegawai negeri mulai melaporkan keterlambatan gaji, mengindikasikan tekanan keuangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah.

 

Ketika Keputusasaan Berbenturan dengan Nilai Sosial

Lonjakan perempuan dalam pekerjaan malam dan dunia seks komersial memicu perdebatan sengit. Beberapa pihak menuding adanya kemerosotan moral, sementara yang lain menyoroti sisi kemanusiaan dan keterpaksaan ekonomi. Banyak perempuan merasa tidak punya pilihan lain, dan memilih bertahan dengan cara apa pun.

Tekanan sosial dari budaya konsumtif turut berperan. Media sosial dan iklan gaya hidup mewah menciptakan standar tidak realistis tentang kesuksesan finansial. Ketika jalur karier tradisional tidak lagi menjanjikan, sebagian perempuan muda memilih mengejar uang melalui hubungan transaksional dan dunia malam.

Masa Depan yang Perlu Jawaban Nyata

Krisis kerja yang dihadapi perempuan di Tiongkok mencerminkan lebih dari sekadar ketimpangan gender—ia adalah sinyal keretakan dalam fondasi ekonomi. Ketika semakin banyak perempuan terdorong keluar dari dunia kerja bahkan sebelum usia 35, dan hanya sedikit peluang karier berkelanjutan yang tersedia, muncul pertanyaan besar bagi para pembuat kebijakan.

Apakah diskriminasi usia dan gender dalam perekrutan akan diberantas? Bisakah pemerintah menciptakan lebih banyak pekerjaan bermartabat dan berkelanjutan? Ataukah tren ini akan terus berlanjut, memperlebar jurang ketimpangan sosial dan ekonomi?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan sangat menentukan arah masa depan pasar tenaga kerja Tiongkok—dan nasib jutaan perempuan yang kini berada di ambang keputusasaan.