Arti Majas Sinisme: Pengertian, Ciri-ciri, Fungsi, Perbedaan dan Contohnya

Pelajari arti majas sinisme secara lengkap mulai dari pengertian, ciri-ciri, fungsi, perbedaan dengan ironi dan sarkasme, serta contoh kalimatnya.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Majas sinisme digunakan dengan maksud menyindir atau mencemooh secara tidak langsung dan menggunakan ungkapan yang lebih kasar dibandingkan majas ironi. Memahami arti majas sinisme menjadi penting bagi siapa saja yang ingin memperdalam kemampuan berbahasa dan bersastra Indonesia.

Dalam dunia sastra dan retorika, majas sindiran memiliki beberapa tingkatan, mulai dari yang halus hingga yang kasar. Arti majas sinisme sendiri berada di posisi tengah antara ironi yang halus dan sarkasme yang sangat tajam.

Sinisme secara umum merupakan sikap gelap terhadap dunia, terutama terhadap manusia, di mana orang-orang sinis percaya bahwa manusia pada dasarnya dimotivasi oleh keserakahan dan kepentingan pribadi, serta cenderung tidak mempercayai orang lain. Konsep inilah yang mendasari penggunaan gaya bahasa sinisme dalam kesusastraan Indonesia.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (27/6/2026).

Pengertian dan Arti Majas Sinisme

Untuk memahami arti majas sinisme secara menyeluruh, perlu dimulai dari definisi dasarnya. Majas sinisme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk memberi sindiran secara langsung kepada orang lain. Berbeda dengan majas ironi yang menyampaikan sindiran secara terselubung, majas sinisme cenderung lebih terang-terangan dan tidak menyembunyikan maksud di balik kata-kata kiasan yang digunakan.

Mengacu pada Merriam-Webster, seorang sinis (cynic) didefinisikan sebagai seorang kritikus pencari kesalahan, terutama seseorang yang percaya bahwa perilaku manusia sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Definisi ini sejalan dengan bagaimana majas sinisme bekerja dalam konteks bahasa Indonesia, yakni sebagai alat untuk mengungkapkan ketidakpercayaan atau kekecewaan terhadap sikap dan perilaku seseorang secara verbal.

Dalam konteks kesusastraan Indonesia, majas sinisme termasuk dalam kelompok majas sindiran. Kelompok ini terdiri dari beberapa jenis dengan tingkat ketajaman yang berbeda-beda. Jenis-jenis majas sindiran utama adalah ironi, sinisme, sarkasme, satire, dan innuendo, di mana sindiran halus termasuk ironi dan satire, sementara sinisme dan sarkasme termasuk sindiran kasar yang lebih langsung dan mencela.

Majas sinisme juga kerap ditemui dalam percakapan sehari-hari, tidak hanya dalam karya tulis. Seseorang yang menggunakan majas ini biasanya ingin menyampaikan kritik atau kekecewaan secara langsung tanpa banyak basa-basi, sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih tegas dan menohok bagi pendengarnya.

Asal-usul Kata Sinisme dari Filsafat Yunani Kuno

Satu aspek menarik yang jarang dibahas ketika membicarakan arti majas sinisme adalah sejarah kata itu sendiri. Istilah cynic berasal dari bahasa Yunani Kuno κυνικός (kynikos) yang berarti "seperti anjing" dan κύων (kyôn) yang berarti "anjing". Asal-usul linguistik ini memberi warna tersendiri pada bagaimana sinisme dipahami sebagai sikap yang blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling.

Sinisme (Cynicism) merupakan aliran pemikiran dalam filsafat Yunani Kuno yang berasal dari periode Klasik. Menurut ajaran sinisme, manusia adalah makhluk yang berakal budi, dan tujuan hidup serta jalan menuju kebahagiaan adalah mencapai kebajikan yang selaras dengan alam, dengan mengikuti nalar alami melalui hidup secara sederhana dan bebas dari kendala sosial. Ajaran ini dibawa oleh para filsuf yang kemudian dikenal sebagai kaum Cynics.

Berdasarkan Encyclopaedia Britannica, Diogenes dari Sinope (sekitar 412–323 SM) adalah tokoh utama dalam Mazhab Sinis (Cynics), sebuah sekte filsafat Yunani yang menekankan kemandirian dan penolakan terhadap kemewahan. Ia menjadi perwujudan utama aliran ini, menyampaikan ajarannya melalui contoh kehidupan nyata daripada sistem pemikiran terstruktur.

Pada abad ke-19, penekanan pada aspek-aspek negatif filsafat Cynics memunculkan pemahaman modern tentang sinisme sebagai sikap ketidakpercayaan terhadap ketulusan atau kebaikan motif dan tindakan manusia. Pergeseran makna inilah yang kemudian diadopsi ke dalam gaya bahasa sastra, termasuk dalam bahasa Indonesia, sehingga sinisme menjadi bentuk sindiran yang meragukan kebaikan hati seseorang.

Ciri-ciri Majas Sinisme

Mengenali ciri-ciri majas sinisme akan memudahkan pembaca dalam membedakannya dari jenis majas lainnya. Berikut sejumlah karakteristik utama yang melekat pada majas sinisme:

  1. Mengandung sindiran yang bersifat mencemooh. Ungkapan yang digunakan bukan sekadar menyindir secara halus, melainkan mengandung unsur cemoohan yang lebih terasa. Sebagaimana diungkapkan dalam 1000-Word Philosophy, para Cynics mempraktikkan apa yang disebut parrēsia, yakni tuturan yang langsung, lugas, terus terang, dan bebas. Prinsip inilah yang tercermin dalam majas sinisme.
  2. Disampaikan secara langsung dan terang-terangan. Majas sinisme tidak bersembunyi di balik kata-kata yang bertentangan dengan makna aslinya. Penutur menyatakan kekecewaan atau kritiknya secara frontal.
  3. Mengandung unsur ejekan atau ketidakpercayaan. Kalimat majas sinisme kerap memuat keraguan terhadap ketulusan, kemampuan, atau niat seseorang.
  4. Bersifat merendahkan sesuatu dan menganggapnya salah. Penutur menilai bahwa tindakan atau sikap objek yang disindir tidak layak dihargai.
  5. Lebih kasar daripada ironi tetapi belum sekeras sarkasme. Majas sinisme berada di tingkat menengah dalam spektrum majas sindiran.
  6. Dapat berupa hinaan atau makian ringan. Meski tidak selalu menggunakan kata-kata kasar, nada sindiran dalam majas sinisme cukup kuat sehingga pendengar atau pembaca bisa langsung merasakan ketidaksetujuan penuturnya.
  7. Mampu memengaruhi pembaca untuk bersikap kritis. Penggunaan majas sinisme dalam karya sastra sering kali bertujuan mengajak audiens ikut mempertanyakan hal yang disindir.

Perbedaan Majas Sinisme dengan Ironi dan Sarkasme

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul saat membahas arti majas sinisme adalah bagaimana membedakannya dari ironi dan sarkasme. Ketiganya memang sama-sama termasuk dalam kelompok majas sindiran, tetapi memiliki perbedaan mendasar yang perlu dipahami agar tidak keliru dalam penggunaan.

Sarkasme dan ironi berkaitan dengan pernyataan individual, sedangkan sinisme melangkah jauh melampaui keduanya karena merupakan pola pikir yang menolak norma-norma yang ada dan menganggapnya menggelikan. Dengan kata lain, sinisme bukan sekadar teknik berbahasa, melainkan mencerminkan cara pandang tertentu terhadap dunia.

Secara praktis dalam bahasa Indonesia, berikut perbedaan ketiganya:

  1. Majas Ironi — Majas ironi adalah majas sindiran yang menyatakan sesuatu hal yang bertentangan dengan makna yang sesungguhnya. Penyampaiannya paling halus, sering menggunakan pujian yang bermakna sebaliknya. Contoh: "Rajin sekali kamu datang, sudah dua jam bel masuk berbunyi."
  2. Majas Sinisme — Majas sinisme adalah majas sindiran yang menggunakan kata-kata sebaliknya, seperti ironi tetapi lebih kasar. Penutur menyampaikan kekecewaan secara lebih langsung. Contoh: "Percuma saja kau bersekolah tetapi malas-malasan."
  3. Majas Sarkasme — Majas sarkasme adalah majas sindiran yang sangat kasar dan menyakitkan, sehingga orang yang merasa tersindir akan sadar dan sakit hati. Sarkasme menggunakan kata-kata yang paling tajam dan berkonotasi kasar. Contoh: "Dasar bodoh! Sudah diajarkan ribuan kali masih saja tidak mengerti."

 

Contoh Kalimat Majas Sinisme

Setelah memahami pengertian, ciri-ciri, serta perbedaannya dengan majas lain, berikut adalah contoh kalimat majas sinisme yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari maupun karya sastra. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana sindiran disampaikan secara langsung tanpa banyak basa-basi:

  1. Percuma saja kau bersekolah tinggi, tetapi perilakumu tidak mencerminkan orang berpendidikan.
  2. Aku sudah muak mendengar alasan-alasanmu yang selalu sama setiap kali berbuat kesalahan.
  3. Kenapa kamu seperti orang kelelahan? Padahal kerjaanmu hanya makan dan duduk saja.
  4. Jangan buang waktumu untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti itu.
  5. Bau mulutmu sungguh memabukkan, apakah kau tidak pernah gosok gigi?
  6. Melihat wajahmu saja sudah membuatku kehilangan selera untuk bicara.
  7. Apa yang kau lakukan itu adalah tindakan bodoh yang tidak perlu diulang.
  8. Aku bahkan berharap menjadi tuli agar tidak perlu mendengar ocehanmu lagi.
  9. Lulusan perguruan tinggi ternama tetapi tidak bisa diandalkan sama sekali.
  10. Baru satu hari mulai bekerja, tapi sudah membuat masalah sebanyak ini.
  11. Sudahi ucapanmu yang penuh kebohongan itu, tidak ada yang percaya lagi.
  12. Badanmu memang besar, tetapi untuk mengangkat benda ringan ini saja kamu tidak sanggup.
  13. Jijik aku mendengar kebiasaanmu yang tidak pernah berubah sejak dulu.
  14. Kamu mengurus diri sendiri saja tidak becus, apalagi mengurus tanggung jawab yang lebih besar.
  15. Bagaimana bisa kamu akan juara kelas kalau kerjaanmu hanya bermain game setiap hari?

Setiap contoh di atas memperlihatkan bagaimana majas sinisme menyampaikan sindiran secara terang-terangan. Berbeda dengan majas ironi yang menyembunyikan maksud di balik pujian palsu, majas sinisme langsung menunjukkan ketidaksetujuan atau kekecewaan penuturnya. Dalam karya sastra Indonesia, penggunaan majas ini kerap ditemui dalam dialog-dialog karakter yang sedang berkonflik atau mengkritik keadaan sosial tertentu.

 

Pertanyaan Seputar Arti Majas Sinisme

1. Apa perbedaan utama majas sinisme dan majas ironi?

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara penyampaiannya. Majas ironi menyindir secara halus dengan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan makna sebenarnya, misalnya memuji seseorang padahal bermaksud mengejek. Sementara itu, majas sinisme menyampaikan sindiran secara lebih langsung dan terang-terangan tanpa bersembunyi di balik kata-kata yang berlawanan makna, sehingga pendengar atau pembaca bisa langsung menangkap maksud negatif dari ungkapan tersebut.

2. Apakah majas sinisme selalu bersifat negatif?

Meski identik dengan sindiran dan cemoohan, majas sinisme tidak selalu bertujuan menyakiti. Dalam konteks sastra, majas ini sering digunakan sebagai alat kritik sosial agar masyarakat menyadari kekeliruan tertentu. Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, majas sinisme terkadang dipakai untuk menegur seseorang secara tegas agar ia berubah menjadi lebih baik, bukan semata-mata untuk menjatuhkan.

3. Di mana saja majas sinisme biasanya ditemukan?

Majas sinisme dapat ditemukan di berbagai jenis teks dan karya sastra, mulai dari puisi, cerpen, novel, hingga naskah drama. Selain itu, majas ini juga kerap muncul dalam percakapan sehari-hari, dialog film, lirik lagu, bahkan kolom komentar di media sosial. Pada dasarnya, setiap kali seseorang mengungkapkan sindiran secara langsung dengan nada yang meragukan ketulusan atau kemampuan orang lain, majas sinisme sedang digunakan.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence