Kota di China Terapkan Jam Kerja Hanya 4,5 Hari, Apa Tujuannya?

Bagaimana respons publik terhadap aturan jam kerja baru di Kota Mianyang, China?

Diterbitkan 06 Juni 2025, 09:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Kota Mianyang di China menerapkan aturan jam kerja baru yakni empat setengah hari dengan akhir pekan yang diperpanjang. Harapannya adalah untuk memberikan kelonggaran waktu bagi para pekerja, sekaligus mendorong belanja dan pariwisata lokal.

Model "setengah hari Jumat plus akhir pekan" ini merupakan bagian dari rencana kerja kota untuk tahun 2025 dalam rangka membangkitkan kembali konsumsi domestik yang lesu.

Meski baru diumumkan awal Mei lalu, antusiasme warganet Tiongkok langsung membludak setelah beberapa media lokal mulai memberitakannya.

Di media sosial seperti Weibo, tagar "2,5-day weekend is coming (Akhir Pekan 2,5 Hari Akan Datang)" telah dilihat lebih dari 24 juta kali.

Banyak yang menyambut hangat, berharap kebijakan serupa diterapkan di kota mereka.

Namun, tak sedikit pula yang skeptis: "Akhir pekan dua hari saja belum merata, kok sudah mau tambah setengah hari?" tulis seorang pengguna yang disukai ribuan lainnya.

Bagi warga Mianyang seperti Yang, tambahan setengah hari libur di Jumat berarti kesempatan untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

"Waktu sangat terbatas. Kalau ada tambahan waktu, saya bisa lebih sering bersama istri dan anak," kata seorang pekerja lainnya, seperti dikutip dari laman CNA, Jumat (6/6/2025). 

Pemerintah kota juga berharap kebijakan ini bisa menghidupkan kembali sektor ekonomi malam, pariwisata domestik, dan penyelenggaraan acara. Namun, belum ada aturan resmi yang mewajibkan perusahaan untuk menerapkan sistem ini. Saat ini, sifatnya masih sukarela.

Mereka yang tidak bisa menyelesaikan target kerja 40 jam seminggu tetap harus mengganti waktu yang kurang dengan lembur di hari kerja lainnya. 

Masih Perlu Dikaji

Kebijakan ini muncul di tengah upaya luas di Tiongkok untuk mengurangi tekanan dari budaya kerja 996—bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam, enam hari seminggu—yang selama ini jadi momok para pekerja, terutama generasi muda.

Meski begitu, pakar seperti Prof. Yang Haiyang dari Southwestern University of Finance and Economics menekankan bahwa pemangkasan jam kerja bukan solusi instan untuk semua industri.

"Ini tren alami dari kemajuan sosial, tapi tidak bisa diterapkan seragam. Masih perlu dikaji lebih dalam agar sejalan dengan kondisi di lapangan," ujarnya kepada People’s Daily.

Para pengamat juga mengingatkan soal potensi peningkatan biaya operasional perusahaan dan penurunan produktivitas jika kebijakan ini diterapkan secara luas tanpa perhitungan matang.