Liputan6.com, London - Dua anak perempuan Palestina yang menderita penyakit serius telah dibawa ke Inggris untuk menjalani pengobatan medis.
"Ghena (5) dan Rama (12) tiba di Inggris dari Mesir pada Sabtu untuk menerima perawatan atas kondisi medis yang tidak dapat ditangani di Jalur Gaza yang dilanda perang," demikian menurut keterangan dari organisasi kemanusiaan Project Pure Hope (PPH) seperti dilansir BBC.
Keduanya menderita penyakit bawaan yang membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di Jalur Gaza, di mana sistem layanan kesehatan mengalami tekanan luar biasa akibat konflik yang sedang berlangsung.
Advertisement
Rama, yang mengidap gangguan usus seumur hidup, menceritakan kehidupannya di Khan Younis — tempat rumah keluarganya hancur. Meski demikian, dia tetap membagikan harapannya untuk masa depan.
"Kami sangat ketakutan. Kami tinggal di tenda, dan serpihan dari serangan udara sering jatuh di sekitar kami. Ibu sangat menderita setiap kali harus ke rumah sakit saat bom berjatuhan dan harus berdiri dalam antrean panjang hanya demi mendapatkan satu strip obat. Di sini, aku akan mendapat pengobatan, sembuh, dan menjadi seperti anak-anak lainnya," tutur Rama.
Sementara itu, ibu dari Rama menuturkan, "Aku sangat bahagia untuk Rama karena dia akan mendapatkan perawatan di sini. Sebagai seorang ibu, aku sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya di Gaza. Melihat anak sendiri perlahan sekarat di depan mata, hari demi hari, melihat tubuhnya melemah dan penyakitnya makin parah — itu sungguh menyayat hati."
Ghena mengalami penumpukan cairan yang menekan saraf optik matanya. Jika tidak segera dioperasi, dia berisiko kehilangan penglihatan pada mata kirinya.
Ibunya, Haneen, mengatakan kepada BBC, "Sebelum perang, Ghena rutin menjalani pengobatan di rumah sakit khusus di Gaza. Dia melakukan tes setiap enam bulan."
Namun, kata Haneen, rumah sakit itu hancur seminggu setelah perang dimulai dan sejak itu Ghena tak lagi bisa mendapatkan perawatan.
"Dia mulai mengeluh kesakitan," lanjut Haneen. "Dia sering terbangun tengah malam sambil menjerit karena kesakitan."
"Saya berharap dia bisa sembuh di sini. Di Gaza, ada ribuan anak yang terluka atau sakit dan sangat membutuhkan perawatan medis. Saya berharap mereka juga bisa mendapat kesempatan seperti Ghena."
Daftar yang Terus Bertambah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3458272/original/073942800_1621312328-000_9A73TF.jpg)
PPH dan Palestinian Children’s Relief Fund (PCRF) bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengurus izin tinggal sementara di Inggris serta pendanaan privat untuk perawatan medis mereka.
Ketua PCRF Vivian Khalaf mengungkapkan kepada BBC, "Kami menemukan kasus-kasus ini dari daftar anak-anak yang membutuhkan pengobatan mendesak di luar Gaza — daftar yang terus bertambah panjang dari waktu ke waktu. Para dokter dan rumah sakit yang masih bisa beroperasi, sejauh kemampuan mereka, sudah menyatakan bahwa pengobatan tersebut tidak tersedia di Gaza."
Khalaf menyebutkan bahwa sejauh ini sudah ada 200 anak yang berhasil dipindahkan untuk menjalani perawatan medis ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Yordania, Qatar, serta beberapa negara Eropa. Namun, dia belum bisa memastikan berapa banyak lagi anak yang masih menunggu untuk dipindahkan guna menerima pengobatan di luar negeri.
Salah satu pendiri PPH sekaligus eksekutif di bidang kesehatan, Omar Din, menyampaikan apresiasinya kepada para donatur pribadi yang telah membiayai perawatan kedua anak tersebut tanpa membebani Sistem Layanan Kesehatan yang didanai publik (NHS) atau pembayar pajak Inggris.
Dia menjelaskan bahwa sistem kesehatan di Jalur Gaza kini berada dalam kondisi hampir sepenuhnya runtuh.
"Rumah sakit kewalahan atau hancur, obat-obatan dasar sangat langka, dan tingkat infeksi meningkat tajam," kata dia. "Anak-anak ini telah mengalami trauma fisik yang luar biasa serta penderitaan psikologis yang mendalam."
WHO menyatakan awal bulan ini bahwa kondisi rumah sakit di Jalur Gaza — banyak di antaranya telah rusak akibat pertempuran — kini berada dalam situasi yang "tidak bisa digambarkan dengan kata-kata".
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264115/original/018567300_1782092996-Tugas__39_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258254/original/075445200_1781330306-Tugas__34_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263843/original/065734300_1782021578-Tugas__38_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370367/original/028709700_1759546468-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-04T093301.745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/535776/original/009019900_1469705798-share.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5186043/original/004066900_1744536820-20250413-Israel_Serang_RS_Al_Ahli-AFP_8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411698/original/040353100_1479708120-Inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264299/original/095323600_1782105973-AP26172695358194.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257116/original/079220400_1781213800-000_B6TP7D2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264181/original/054321300_1782097612-063_2282690679.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264068/original/012778200_1782078495-000_B7TT4GU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264045/original/061909400_1782061462-063_2282633998.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264088/original/090012000_1782087024-000_B7TY6Z7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264089/original/060388300_1782087027-000_B7TZ2WM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3349267/original/077140300_1610621666-WhatsApp_Image_2021-01-14_at_12.19.22_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5588581/original/050291200_1778143307-000_A7Y77KU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5708017/original/026143600_1778591877-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3227323/original/078041600_1599115120-handcuffs-921290_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1207552/original/064728100_1461032751-20160418-Saat-Patung-patung-Bersejarah-London-Kenakan-Masker-AFP-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261528/original/063654800_1781737862-063_2282108380.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262481/original/011971700_1781803398-Croatia_s_Luka_Modric.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261725/original/039534800_1781755837-000_B7G27VV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261195/original/014580500_1781688516-WhatsApp_Image_2026-06-17_at_16.13.18.jpeg)