Astronom Temukan Planet Berekor, Ini yang Terjadi

TESS dirancang untuk mendeteksi planet ekstra surya dengan memantau kecerahan ribuan bintang di langit. Ketika sebuah planet melintas di depan bintangnya, cahaya bintang tersebut akan sedikit meredup—a fenomena yang disebut transit.

Diterbitkan 29 April 2025, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Para astronom dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan sebuah fenomena langit luar biasa. Mereka menemukan sebuah planet kecil, seukuran Merkurius, yang perlahan-lahan hancur saat mengorbit sangat dekat dengan bintangnya.

Melansir laman SciTechDaily pada Senin (28/04/2025), planet yang terletak sekitar 140 tahun cahaya dari bumi ini kehilangan material setiap kali menyelesaikan satu orbit. Planet yang diberi nama resmi BD+05 4868 Ab terdeteksi melalui misi Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA.

TESS dirancang untuk mendeteksi planet ekstra surya dengan memantau kecerahan ribuan bintang di langit. Ketika sebuah planet melintas di depan bintangnya, cahaya bintang tersebut akan sedikit meredup—a fenomena yang disebut transit.

Dengan mengamati perubahan kecerahan ini, para ilmuwan dapat menentukan ukuran, orbit, bahkan karakteristik atmosfer planet. Namun, dalam kasus BD+05 4868 Ab, para peneliti menemukan pola peredupan yang tidak biasa.

Setiap 30,5 jam sekali, terjadi perubahan kecerahan yang tidak konsisten, kedalaman dan bentuk keredupan tersebut bervariasi dari waktu ke waktu. Hal ini mengindikasikan adanya material yang berubah-ubah, bukan hanya sebuah planet padat yang melintas.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa planet ini tidak hanya melintas di depan bintangnya, tetapi juga meninggalkan jejak debu panjang menyerupai ekor komet. Tidak seperti komet biasa yang terbentuk dari es dan gas, ekor ini terdiri dari partikel mineral yang menguap akibat suhu ekstrem di sekitarnya, yang diperkirakan mencapai 1.600 derajat Celsius.

Panjang ekor debu BD+05 4868 Ab sangat mengejutkan, diperkirakan mencapai 9 juta kilometer, hampir setengah dari keseluruhan orbitnya. Fenomena ini menciptakan pemandangan spektakuler yang memungkinkan para ilmuwan menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah planet kecil perlahan-lahan terkikis dan hancur di bawah kekuatan radiasi bintangnya.

Selain itu, para astronom menemukan bahwa gravitasi planet ini terlalu lemah untuk mempertahankan materialnya sendiri. Setiap kali sebagian material terlepas, massa planet berkurang, sehingga daya tarik gravitasinya semakin melemah.

Proses ini membentuk pola, semakin banyak massa yang hilang, semakin cepat kehancurannya. Sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah runaway mass loss.

Menurut estimasi, BD+05 4868 Ab hanya memiliki waktu hidup sekitar 1 hingga 2 juta tahun lagi sebelum benar-benar menghilang, meninggalkan bintang induknya yang bersinar.

 

Planet Langka

BD+05 4868 Ab adalah planet langka. Sebab dari hampir 6.000 eksoplanet yang ditemukan, hanya ada empat planet yang diketahui sedang mengalami proses disintegrasi seperti BD+05 4868 Ab hingga saat ini.

Planet serupa sebelumnya ditemukan lebih dari 10 tahun lalu melalui data Kepler Space Telescope. Menariknya, BD+05 4868 Ab memiliki ekor terpanjang dan keredupan paling dalam di antara semua planet yang hancur tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penguapan di planet ini jauh lebih parah dibandingkan tiga planet lainnya. Karena jarak bintang induknya relatif dekat dan cukup terang, sistem ini menjadi kandidat sempurna untuk diamati lebih dalam dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).

Dengan JWST, para ilmuwan berharap dapat mengidentifikasi komposisi mineral dalam ekor debu tersebut melalui spektrum cahaya inframerah.

(Tifani)