Inggris Mengklaim Menguasai Semenanjung Al Faw

Sejumlah bom diledakkan di semenanjung Al Fawa, Irak selatan, oleh marinir Inggris subuh tadi. Baghdad juga kembali diserang. Lima diplomat Irak di Yordania diusir karena dianggap melanggar aturan.

Diterbitkan 24 Maret 2003, 08:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Al Faw: Pasukan sekutu terdiri dari marinir Inggris dan Amerika Serikat membombardir sejumlah bangunan di semenanjung Al Faw, Irak selatan, dengan amunisi berdaya hancur tinggi, Senin (24/3) subuh. Menurut laporan kantor berita Associated Press (AP), dalam penyerangan ini Inggris mengklaim telah berhasil menguasai semenanjung Al Faw. Dengan demikian, langkah mereka mengepung Baghdad semakin mantap.

Belum lama berselang, Kota Baghdad, Irak, tepatnya di sebelah selatan juga kembali dihujani rudal pasukan koalisi, Ahad sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat atau Senin 02.30 WIB. Menurut laporan televisi Aljazeera yang berpusat di Doha, Qatar, serangan ini dilakukan pesawat-pesawat Amerika Serikat yang terbang rendah dengan target serangan Istana Kepresidenan Saddam Hussein yang tersebar di seluruh pelosok Baghdad.

Meski bagian selatan Baghdad dipenuhi dentuman rudal dan suara sirene yang meraung-raung, sisi lain kota itu justru tampak sunyi. Hanya satu-dua kendaraan nonmiliter seperti sedan dan bus yang terlihat melintasi kota itu menjelang tengah malam. Beberapa jam sebelumnya, pasukan koalisi dilaporkan juga menggempur Kota Mosul, Irak Utara. Serangkaian ledakan sempat terekam jaringan televisi APTN dengan alat infra merah.

Sepanjang Ahad kemarin, Kota Baghdad memang tak henti-hentinya didera bom maupun rudal pasukan AS dan koalisinya. Dimulai saat menjelang Subuh atau sekitar pukul 04.30 waktu setempat atau pukul 09.30 WIB. Rudal-rudal tentara koalisi dilaporkan menghantam sejumlah kawasan di pinggiran Ibu Kota Irak itu [baca: Baghdad Kembali Dihujani Bom]. Serangan berlangsung sekitar lima menit dan kemudian berhenti menjelang kumandang adzan Subuh.

Dari Yordania, reporter SCTV Merdi Sofansyah melaporkan, pemerintah Yordania mendeportase lima diplomat Irak karena dianggap menjalankan tugas melebihi tanggung jawab yang seharusnya. Namun, Perdana Menteri Yordania Ali Abu Al Ragheb yang menyampaikan informasi ini lewat sebuah konferensi pers, menolak mengatakan pelanggaran yang dimaksud dengan alasan rahasia negara. Dia juga tak mau menjelaskan cara mengusir kelima pejabat itu. Tapi dapat dipastikan mereka diberangkatkan ke Irak lewat jalur darat dengan waktu tempuh sekitar 13 jam karena jalur udara terlalu berbahaya. PM Yordania juga memanfaatkan konferensi pers ini untuk membantah berita yang menyatakan negaranya telah dijadikan basis serangan udara AS ke Irak.(MTA/Idr)