Sukses

Boris Johnson Batal Jadi PM Inggris, Jalan Rishi Sunak Mulus

Liputan6.com, London - Mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson siap kembali menjadi  perdana menteri lagi. Ia baru saja diganti oleh Liz Truss pada September 2022, namun Truss memutuskan untuk mundur.

Keputusan mundur Liz Truss membuat geger dunia politik karena masa jabatannya baru memasuki hari ke-45 saja. Pada pekan ini, Partai Konservatif akan kembali memilih pemimpin baru untuk menjadi perdana menteri. 

Sebelumnya diberitakan bahwa dua tokoh yang akan dijagokan adalah mantan PM Boris Johnson dan mantan Menteri Keuangan (Chancellor of Exchequer) Rishi Sunak. Sebelumnya, Sunak adalah menjabat sebagai menteri di kabinet Boris Johnson, sama seperti Liz Truss yang menjabat sebagai menteri luar negeri. 

Berdasarkan laporan BBC, Minggu (23/10), politisi Partai Konservatif Jacob Rees-Mogg, menyebut bahwa Boris Johnson akan ikut berlaga di panggung politik melawan Rishi Sunak. 

Rees-Mogg merupakan sekutu dekat Boris Johnson dan menjabat sebagai menteri di kabinet Johnson dan Truss. 

Pada Minggu malam waktu setempat, Boris akhirnya mengumumkan bahwa ia tidak akan maju lagi.

Untuk mencalonkan diri sebagai ketua Partai Konservatif, seorang politisi butuh 100 suara dari anggota parlemen (Member of Parliament atau MP). Rishi Sunak dilaporkan sudah mengantongi total suara tersebut, sementara Rees-Mogg juga mengklaim bahwa Johnson sudah mendapatkannya. 

Namun, perhitungan BBC menyebut Johnson baru mendapatkan sekitar 50 suara, sementara Sunak telah meraih 136 dukungan anggota parlemen.

Apabila Rishi Sunak sukses menjadi perdana menteri, maka ia akan menjadi PM pertama Inggris yang merupakan keturunan India.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Calon Terkuat

Pendukung Sunak, yang menjabat sebagai kanselir di bawah Johnson, mengatakan pada Jumat malam dia telah menerima nominasi dari 100 anggota parlemen Tory untuk melewati ambang batas yang diperlukan jauh sebelum batas waktu Senin, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (22/10/2022).

Sunak telah resmi berdeklarasi bahwa ia akan maju sebagai calon PM.

Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris telah dilanda kekacauan dengan dua perdana menteri mengundurkan diri dalam waktu beberapa bulan.

Liz Truss secara dramatis mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Kamis setelah rencana pemotongan pajak dan pembatalan kebijakan ekonominya sendiri menjerumuskan pasar ke dalam kekacauan.

"Merasa terhormat menjadi anggota parlemen Tory ke-100 yang mendukung #Ready4Rishi," cuit backbencher senior Tobias Ellwood, karena pendukung Sunak lainnya juga mengatakan dia telah melewati penghalang.

Sunak secara otomatis akan menjadi pemimpin partai dan perdana menteri jika lawan-lawannya gagal juga memenangkan 100 nominasi dari sesama anggota parlemen Tory.

Menteri keamanan Tom Tugendhat, yang mencalonkan diri sebagai pemimpin setelah Johnson digulingkan pada Juli, juga mendukung Sanak.

"Kami membutuhkan stabilitas ekonomi. Itu sebabnya saya mendukung Rishi Sunak," cuitnya di Twitter.

3 dari 4 halaman

Liz Truss Jadi PM Inggris dengan Masa Jabatan Paling Singkat

Perdana Menteri Inggris Liz Truss mengumumkan ia mundur dari jabatannya pada Kamis (20/10/2022). Padahal, ia baru menjabat selama 45 hari 

Hal ini membuat Liz Truss menjadi perdana menteri Inggris dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah. Rekor itu sebelumnya dipegang George Canning yang meninggal pada 1827 ketika baru menjabat 119 hari.  

Pada 100 tahun terakhir, PM Inggris lainnya yang menjabat secara singkat adalah Sir Alec Douglas-Home. Ia menjabat kurang dari setahun pada 19 October 1963 hingga 16 October 1964. Namun, ia sempat kembali menjabat sebagai menteri luar negeri pada 1970.

Sebelum Douglas-Home, ada nama Sir Anthony Eden yang menjabat pada 6 April 1955 hingga 9 January 1957. Kondisi kesehatan Eden dilaporkan memburuk ketika menjabat dan ia didera Krisis Terusan Suez.

4 dari 4 halaman

Sri Mulyani Ikut Komentari Mundurnya PM Inggris Liz Truss

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai, keputusan mundurnya Perdana Menteri Inggris Liz Truss semakin menambah ketidakpastian global. Hal itu disampaikan Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Oktober 2022, secara virtual, Jumat (21/10).

“Kita semua mengikuti politik Inggris dimana mulai dari Menteri keuangan diganti dan sekarang perdana menteri turun. Ini menggambarkan bahwa yang terjadi baik dari sisi ekonomi dan keuangan juga berimbas pada politik,” kata Sri Mulyani. 

Sebagai informasi, PM Inggris Liz Truss mengumumkan ia mundur dari jabatannya pada Kamis 20 Oktober 2022. Padahal, ia baru menjabat selama 45 hari.

Hal ini membuat Liz Truss menjadi Perdana Menteri Inggris dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah. Rekor itu sebelumnya dipegang George Canning yang meninggal pada 1827 ketika baru menjabat 119 hari.

Lebih lanjut Menkeu menjelaskan, krisis atau risiko sekarang beralih dari pandemi ke risiko ekonomi dan keuangan, terutama lingkungan global yang makin bergejolak, terutama dari sisi komoditas.

Harga dari komoditas-komoditas utama dunia yang sangat mempengaruhi kesehatan ekonomi di berbagai negara masih relatif dalam posisi namun volatilitasnya juga cukup tinggi atau sangat tinggi dalam hal ini.

Hal ini yang kemudian menyebabkan inflasi yaitu kenaikan dari harga-harga umum di berbagai negara. Misalnya, di inggris bahkan baru saja dipublikasikan inflasi di atas 10 persen yaitu 10,1 persen dan ini masih diperkirakan bertahan di level tinggi ke depannya.

“Amerika Serikat inflasi headline di 8,2 persen dan core inflation masih tinggi, sehingga makin membulatkan tekad dan dari determinasi dari Federal reserve untuk menaikkan suku bunga. Diperkirakan sampai akhir tahun mencapai 4,5 persen,” ujarnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS