Sukses

Perang Ukraina Picu Populasi Jerman Tertinggi Sepanjang Masa, Tembus 84 Juta

Liputan6.com, Berlin- Jerman mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa populasinya, yang menembus angka 84 juta penduduk.

Kantor Statistik Federal Jerman, Selasa 27 September 2022 melaporkan bahwa penduduk Jerman kini berada di angka tertinggi karena masuknya pengungsi Ukraina ke Jerman.

Seperti yang kita ketahui, Ukraina kini sedang dalam ancaman invasi Rusia dan hal tersebut telah berjalan sekitar 7 bulan lamanya, sejak invasi pertama Rusia ke Ukraina pada Februari.

Pada akhir Juni, tercatat populasi Jerman meningkat 843.000 jiwa, atau 1% jika dibandingkan dengan akhir 2021.

Dilansir dari ABC, Kamis (29/9/2022), sekitar 750.000 pengungsi Ukraina datang ke Jerman untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari invasi Rusia ke Ukraina.

Kantor statistic melaporkan, sebagian besar dari para pengungsi adalah wanita. Pada akhir Juni, tercatat ada penambahan sebanyak 501.000 wanita dan anak perempuan asal Ukraina tinggal di Jerman dibandingkan dengan akhir 2021. Sementara itu, jumlah pria dan anak laki-laki Ukraina juga jumlahnya meningkat sebanyak 248.000 jiwa.

Sebelumnya, Jerman juga pernah mengalami peningkatan populasi sebesar ini pada 1992 dan 2015, dan keduanya terkait dengan imigrasi.

Setelah komunisme runtuh dan reunifikasi Jerman pada 1992, sekitar 700.000 orang tiba karena melarikan diri dari peranng di Yugoslavia dan datang dari Eropa Timur.

Sementara itu, pada 2015, terhitung hampir 1 juta migran datang dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Diaspora Indonesia di Jerman Bantu Pengungsi Ukraina

Berbicara soal pengungsi Ukraina yang datang ke Jerman, beberapa bulan lalu warga Indonesia Fransiska Fischerauer membantu sejumlah pengungsi Ukraina di Jerman.

"Memprihatinkan sekali kondisinya. Mereka terlihat sedih, kecewa, lelah. Mereka benar-benar membutuhkan bantuan, baik itu fisik maupun mental," demikian diceritakan warga Indonesia Fransiska Fischerauer yang turut membantu para pengungsi Ukraina di Jerman seperti dikutip dari DW Indonesia, Rabu (27/4/2022).

Fransiska mengatakan mereka umumnya merasa khawatir dengan orang terkasih yang ditinggalkan.

"Mereka diselimuti kekhawatiran karena harus meninggalkan suaminya. Suami-suami mereka harus berjuang di Ukraina, di negaranya. Lalu juga harus meninggalkan keluarga, seperi nenek dan kakek yang tidak bisa ikut ke Jerman atau ikut ke negara lain, Polandia, karena kondisi mereka yang tidak memungkinkan, terlalu tua atau sakit."

Fransiska menuturkan bahwa para pengungsi terlihat dalam kondisi seadanya, meski ada sebagian yang sempat membawa sejumlah barang bawaan.

"Ada yang membawa koper, baju-baju. Ada juga yang hanya dengan membawa badan saja, yang penting menyelamatkan anak-anak mereka. Kebanyakan mereka perempuan. Jadi istri-istri ini, perempuan, atau remaja perempuan, membawa adik-adik dan anak-anaknya untuk mengungsi ke negara-negara yang lebih aman. Jadi, benar-benar menyedihkan kondisi mereka, memprihatinkan," ungkap Fransiska.

 

3 dari 4 halaman

Pengungsi Ukraina Jadi Tunawisma di Inggris

Selain ke Jerman, ratusan keluarga Ukraina yang kehilangan tempat tinggal di Inggris setelah tiba dengan visa yang dirancang untuk mengamankan tempat tinggal mereka.

Dilansir dari laman The Guardian, Jumat (17/6/2022), sejak akhir Februari, setidaknya 480 keluarga Ukraina dengan anak-anak dan 180 orang dewasa lajang telah mengajukan permohonan ke dewan untuk bantuan tunawisma.

Meskipun pemerintah bersikeras bahwa "Rumah untuk Ukraina" dan skema visa keluarga akan memastikan bahwa pengungsi memiliki perumahan, keduanya membuat para pengungsi berjuang ketika prosesnya gagal.

Data tersebut memperlihatkan celah yang sudah muncul dalam skema Rumah untuk Ukraina, dengan 145 penempatan telah berakhir dengan tunawisma pada 3 Juni. Dari jumlah tersebut, 90 berakhir karena pengaturan gagal dan 55 lainnya tidak pernah turun dengan benar karena akomodasi tidak tersedia atau tidak sesuai pada saat kedatangan.

Lauren Scott, direktur eksekutif Refugees at Home, mengatakan: “Kami frustrasi dan sedih tetapi tidak terkejut melihat penempatan mulai rusak. Mengharapkan pengungsi yang rentan dan trauma untuk mengandalkan niat baik orang asing yang mereka temui di Facebook selalu berisiko.

“Kami sangat membutuhkan rencana cadangan nasional gabungan untuk membantu keluarga yang penempatannya salah. Di seluruh negeri tidak ada pendekatan yang konsisten untuk mencocokkan tamu dengan tuan rumah baru, tidak ada cara standar bagi warga Ukraina untuk mengubah sponsor visa mereka, dan tidak ada mekanisme tunggal untuk memindahkan dana dari satu tuan rumah ke tuan rumah lainnya.”

4 dari 4 halaman

Tunawisma di Inggris

Banyak otoritas lokal memperlakukan keluarga Ukraina sebagai tunawisma daripada mencoba untuk mencocokkan mereka dengan tuan rumah baru, meninggalkan mereka di hostel dan hotel, seperti yang terjadi dengan pengungsi Afghanistan. Dari 145 penempatan Homes for Ukraina yang gagal , hanya 20 yang dicocokkan ulang dengan host baru.

Scott berkata: "Ini adalah situasi mimpi buruk - situasi yang sangat kami harapkan untuk dihindari."

Anna (37) melarikan diri dari Kiev bersama suaminya dan putra mereka yang berusia tiga tahun ketika perang pecah. Mereka datang ke Inggris pada akhir Maret setelah mencocokkan dengan keluarga empat yang tinggal di sebuah rumah besar di Northampton.

Selengkapnya di sini...

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.