Sukses

Palestina dan Hamas Kecam Rencana Pembangunan Kereta Gantung ke Yerusalem Milik Israel

Liputan6.com, Yerusalem - Otoritas Palestina dan Hamas, pada Senin 16 Mei 2022 memperingatkan rencana Israel untuk membangun jaringan kereta gantung ke Kota Tua Yerusalem Timur.

Penolakan dan peringatan Palestina datang setelah kelompok sayap kiri Israel dan warga Palestina kalah dalam sebuah kasus di hadapan Mahkamah Agung Israel pada Minggu 15 Mei.

Orang-orang Palestina berpendapat bahwa proyek tersebut, yang menghubungkan bagian barat dan timur kota suci itu, akan berdampak buruk dan mengubah lanskap Yerusalem.

Namun, para pejabat Israel mengharapkan proyek itu segera dimulai setelah keputusan pengadilan, demikian dikutip dari laman Xinhua, Selasa (17/5/2022).

Menteri Palestina Urusan Yerusalem Fadi al-Hadmi mengatakan dalam sebuah pernyataan pers bahwa "persetujuan proyek tersebut sama dengan eskalasi berbahaya dari permukiman di Yerusalem Timur dan memperdalam upaya Israel untuk me-Yahudikan kota itu."

Dia memperingatkan bahwa proyek tersebut memiliki dampak serius pada Yerusalem Timur dan penduduknya.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan rencana tersebut akan mengorbankan real estate dan merebut tanah Palestina.

Dengan biaya 200 juta Shekel Israel (sekitar 59 juta dolar AS), proyek tersebut disetujui oleh pemerintah Israel sebelumnya pada Januari 2019.

Media Israel melaporkan bahwa kereta gantung akan mengantar sekitar 3.000 orang per jam dan dapat mengatasi lalu lintas padat di sekitar Kota Tua.

Juru bicara Hamas di Gaza Fawzi Barhoum mengatakan dalam sebuah pernyataan pers bahwa Hamas mengutuk putusan Mahkamah Agung Israel yang mengizinkan proyek kereta gantung di Yerusalem.

"Kereta gantung adalah bagian dari proyek Yudaisasi Israel yang terus menerus yang berusaha untuk mengubah dan melenyapkan fitur Arab dan Islam kota dan identitas peradabannya," kata Barhoum.

Israel menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang diklaim oleh Palestina, dalam perang Timur Tengah 1967.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Palestina Desak PBB Hentikan Aksi Militer Israel di Yerusalem Timur

Palestina mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menghentikan aksi militer Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur. Permintaan itu disampaikan utusan Palestina untuk PBB Riyad Mansour melalui memo resmi.

Mansour mengatakan kepada stasiun radio "Voice of Palestine" bahwa memo yang dikirim kepada Dewan Keamanan PBB, Sekjen PBB dan Presiden Majelis Umum PBB "untuk mencegah pelanggaran Israel di kota tersebut," yakni tindakan dan langkah yang baru saja dilakukan Israel terhadap Palestina selama bulan suci Ramadhan di Masjid Al-Aqsa dan Gerbang Damaskus di Yerusalem Timur.

Mansour menambahkan bahwa kejadian baru-baru ini di wilayah Palestina "akan dipaparkan secara detail selama sidang terbuka Dewan Keamanan yang membahas situasi " di Palestina pada 25 April.

Ia mengatakan bahwa misi Palestina akan menuntut dewan untuk mengemban tanggung jawab mereka "sekaligus menghentikan praktek ilegal otoritas Israel di Yerusalem Timur."

Pada Selasa malam pemuda Palestina dan polisi Israel terlibat bentrok di Yerusalem untuk hari keempat berturut-turut. Selain itu, enam warga Palestina juga ditangkap di dekat Gerbang Damaskus, menurut saksi mata, seperti dikutip dari Xinhua, Jumat (8/4/2022).

Dalam perang Timur Tengah Juni 1967, Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur yang kemudian menguasai wilayah itu. Ketiga wilayah itu diklaim oleh Palestina.

Rakyat Palestina telah berupaya untuk mendirikan sebuah negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

3 dari 4 halaman

Serangan di Masjid Al-Aqsa

Pasukan Israel menahan sedikitnya 20 warga Palestina dan menyerang jemaah yang berkumpul untuk merayakan hari raya umat Islam Isra Miraj pada Senin 28 Februari 2022 di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Demikian aktivis dan media lokal melaporkan.

14 warga Palestina dilaporkan terluka, termasuk seorang anak, empat orang lainnya dibawa ke rumah sakit untuk perawatan, menurut Bulan Sabit Merah Palestina yang mengumumkan pada Senin malam, saat mereka merayakan festival Muslim Isra Miraj.

Mengutip laporan Al Arabiya, Rabu (2/3/2022), video yang dibagikan oleh warga Palestina di media sosial menunjukkan pasukan Israel melemparkan gas air mata dan granat kejut ke kerumunan jemaah -- banyak anak dan bayi di antaranya. Serangan itu memicu kepanikan.

Satu video menunjukkan seorang perwira Israel mendorong seorang wanita muda ke tanah dan meninjunya, sebelum menyeretnya pergi dengan bantuan polisi lainnya.

Jemaah sejatinya berkumpul di dekat Masjid Al-Aqsa - situs tersuci ketiga dalam Islam dan tempat dari mana Nabi Muhammad dikatakan telah naik ke surga - pada hari Senin untuk merayakan hari libur Israa Miraj.

4 dari 4 halaman

Kerap Jadi Sasaran Israel

Sejak Yerusalem diduduki sepenuhnya oleh Israel pada tahun 1967, kompleks yang berisi Masjid Al-Aqsa telah berulang kali menjadi sasaran pemukim, polisi, dan tentara Israel.

Pelecehan terhadap jemaah Palestina telah meningkat selama beberapa bulan terakhir.

Pemukim Israel secara rutin masuk ke kompleks selama salat Jumat untuk menyerang masjid dan jemaah, dengan persetujuan diam-diam dari pasukan Israel yang ditempatkan di dekat masjid.

Pada tahun 2021, kompleks itu diserang oleh lebih dari 34.500 orang Israel menurut kementerian Wakaf Palestina, otoritas yang bertanggung jawab atas tempat-tempat suci Palestina.

Masjid Al-Aqsa telah menjadi medan pertempuran simbolis yang mengkristalkan ketegangan antara pemukim Israel, yang ingin mengklaim seluruh Yerusalem, dan warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel. PBB menganggap Yerusalem Timur sebagai tanah Palestina yang diduduki.