Sukses

Imbas Invasi Rusia ke Ukraina, McDonald's Bakal Keluar Moskow Usai 32 Tahun Operasional

Liputan6.com, Moskow - McDonald's mengumumkan bahwa mereka benar-benar keluar dari Moskow akibat invasi Rusia ke Ukraina yang masih terus berlanjut. Sejak 8 Maret 2022, McDonald's juga telah tutup sementara.

Pihak McDonald's kini berupaya untuk menjual restoran-restoran McDonald's di Rusia, sehingga tak lagi menggunakan nama, logo, branding, dan menu McDonald's, meski perusahaan tetap akan punya trademark di Rusia.

"Krisis kemanusiaan yang dipicu oleh perang di Rusia dan lingkungan operasi yang sulit diprediksi telah membuat McDonald's menyimpulkan bahwa melanjutkan kepemilikan bisnis di Rusia tidak lagi memungkinkan maupun konsisten dengan nilai-nilai McDonald's," tulis rilis McDonald's di situs resminya, dikutip Selasa (17/3/2022).

McDonald's telah operasional tak lama setelah Tembok Berlin jatuh di tahun 1989 yang menjadi tanda kekalahan Uni Soviet. Kehadiran McD menjadi tanda berkembangnya kapitalisme di Rusia usai puluhan tahun ekonomi dikekang oleh Partai Komunis Soviet.

Fokus lain dari McDonald's adalah nasib dari 62 ribu pegawai yang bekerja di Rusia. Pihak korporat berusaha agar para pekerja tetap mendapat upah hingga McDonald's dibeli.

"Dedikasi dan loyalti mereka kepada McDonald's membuat pengumuman hari ini luar biasa sulit. Namun, kita memiliki komitmen kepada komunitas global kami dan harus memegang teguh nilai-nilai kami," ujar Presiden dan CEO McDonald's Chris Kempczinski.

Sementara, McDonald's di Ukraina juga masih tutup, namun pegawai tetap mendapat gaji penuh, dan Ronald McDonald House Charities terus memberikan bantuan kepada para pengungsi, seperti donasi makanan, tempat tinggal, dan pekerjaan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perang Ukraina Masih Berlanjut

Invasi Ukraina masih berlanjut dan belum ada tanda-tanda jelas kapan gencatan senjata akan terjadi. Ukraina mengatakan pada Senin 16 Mei 2022 bahwa pasukannya telah mendorong mundur pasukan Rusia di wilayah Kharkiv, dalam serangan balasan yang memungkinkan pasukan Ukraina mencapai perbatasan Rusia.

Mengutip VOA Indonesia, Senin (16/5/2022), Kementerian pertahanan Ukraina mengunggah video yang menunjukkan apa yang dikatakan pasukannya di perbatasan. Seorang tentara memberi tahu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, “Kami di sini.”

Kendati demikian sejauh ini belum ada konfirmasi tentang perkembangan tersebut.

Setelah memukul mundur Rusia di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, pasukan Ukraina telah merebut kembali wilayah di sana dan berusaha mendorong Rusia dari Izyum. Sementara negara itu berfokus pada wilayah Donbas di Ukraina timur.

"Kremlin bermimpi merebut Kiev, Kharkiv dan Odesa, serta setidaknya wilayah Donetsk dan Luhansk," kata penasihat Zelenskyy, Mykhailo Podolyak, di Twitter, Senin 16 Mei.

Sementara itu, Zelenskyy mengatakan dalam pidato video pada Minggu 15 Mei malam bahwa Ukraina sedang mempersiapkan serangan baru Rusia di Donbas dan Ukraina selatan.

 

3 dari 4 halaman

Rusia Tolak Finlandia Masuk NATO

Seorang anggota parlemen Rusia yang sebelumnya membual tentang kemampuan rudal negaranya di televisi yang didukung Kremlin mengatakan bahwa Finlandia membahayakan keberadaannya jika bergabung dengan NATO.

Wakil Duma Aleksey Zhuravlyov, yang memimpin partai politik nasionalis Rodina, mengatakan kepada outlet berita Ura.ru bahwa Finlandia dan Rusia pernah menikmati hubungan baik setelah Perang Dunia Ii tetapi sekarang Helsinki "akan melakukan sesuatu untuk menciptakan masalah tambahan bagi kita."

"Ketika Anda menciptakan masalah bagi seseorang, Anda harus memahami bahwa Anda akan mendapatkannya sendiri," katanya dalam artikel berjudul, "Bergabung dengan NATO mengancam Finlandia dengan pemusnahan", demikian seperti dikutip dari Newsweek, Minggu (15/5).

Bulan lalu, Zhuravlyov mengatakan pada program 60 Minutes, yang mendorong garis Kremlin pada invasi Rusia ke Ukraina, bahwa ia berharap rudal telah menghantam Kyiv sementara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken sedang berkunjung.

Pada episode lain dari program tersebut, Zhuravlyov menyarankan rudal terbaru Moskow, Sarmat, harus menargetkan Inggris karena dukungan London untuk upaya perang Ukraina.

Dalam wawancara dengan Ura yang diterbitkan pada hari Jumat, Zhuravlyov mengatakan bahwa Finlandia "harus berterima kasih kepada Rusia atas kenegaraan mereka" dan bahwa jika Helsinki bergabung dengan NATO, mereka tidak akan "berperilaku terhadap kami seperti yang mereka lakukan sebelumnya."

"Amerika akan menghasut mereka untuk melakukan provokasi," katanya. "Jika Finlandia ingin bergabung dengan blok ini, maka tujuan kami yang benar-benar sah adalah mempertanyakan keberadaan negara ini. Ini logis."

"Negara-negara ini bergabung dengan aliansi yang ingin menghancurkan Rusia. Oleh karena itu, kami ingin menghancurkan mereka sebagai tanggapan," tambahnya.

4 dari 4 halaman

Presiden Finlandia Pastikan Negaranya Akan Segera Gabung NATO

Presiden Finlandia Sauli Niinisto mengkonfirmasi pada Minggu (15 Mei) bahwa negaranya akan mengajukan keanggotaan aliansi militer NATO.

Pengumuman itu muncul setelah Niinisto dan Perdana Menteri Sanna Marin mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka berdua menyukai keanggotaan NATO, dalam perubahan kebijakan besar yang didorong oleh invasi Rusia ke Ukraina. Demikian seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Minggu (15/5). 

Rusia, yang memiliki perbatasan darat yang panjang dengan Finlandia, mengatakan bahwa bergabung dengan aliansi transatlantik itu akan menjadi kesalahan bagi Helsinki dan itu akan merusak hubungan bilateral.

Sementara itu, Swedia dan Finlandia siap memperkuat kerja sama militer jika keamanan di wilayah Laut Baltik memburuk, misalnya selama proses kemungkinan bergabung dengan NATO, kata Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto.

"Apabila lingkungan keamanan kami menjadi semakin menantang tentunya kami dapat menambahkan rencana bilateral ... dan memasukkan semua sektor dalam kerja sama militer," katanya kepada awak media.

Invasi Rusia ke Ukraina memaksa Swedia dan Finlandia untuk meninjau ulang keyakinan lama bahwa netralitas militer adalah cara terbaik untuk menjamin keamanan nasional.

​​​​​​Kedua negara diharapkan dapat membuat keputusan untuk bergabung dengan aliansi militer dalam beberapa pekan mendatang, Reuters mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (30/4).