Sukses

Presiden Erdogan Dikritik Lantaran Kurang Tanggap Atasi Kebakaran Hutan Turki

Liputan6.com, Ankara - Pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan menghadapi kritik atas tanggapannya yang buruk dan kesiapsiagaan yang tidak memadai untuk mengatasi masalah kebakaran hutan skala besar di Turki.

Dikutip dari laman AP News, Rabu (4/8/2021), kebakaran yang melanda Turki semakin besar lantaran dipicu oleh angin kencang dan suhu yang menyengat. 

Kebakaran ini telah menewaskan delapan orang dan memaksa ribuan penduduk dan turis meninggalkan rumah atau tempat peristirahatan mereka.

Pohon-pohon hangus dan menghitam, sementara banyak penduduk desa kehilangan rumah dan ternak.

Petugas pemadam kebakaran pada Selasa (3/8) masih menangani 11 kebakaran di enam provinsi, termasuk provinsi pesisir Antalya dan Mugla yang merupakan tujuan wisata populer.

Lebih dari 150 titik kebakaran yang terjadi di lebih dari 30 provinsi, kata para pejabat.

Seorang pejabat di dinas kehutanan menggambarkan kebakaran ini sebagai yang terburuk di Turki dalam memori hidupnya, meskipun dia tidak bisa mengatakan berapa hektar lahan hutan yang telah dilahap api.

Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan, angin kencang menyalakan kembali api yang sebelumnya dapat dikendalikan.

Ketika penduduk kehilangan rumah dan ternak, kemarahan beralih ke pemerintah, yang mengakui bahwa mereka tidak memiliki armada pesawat pemadam kebakaran yang dapat digunakan.

 

2 dari 2 halaman

Kritik dari Oposisi

Partai oposisi menuduh pemerintah gagal mendapatkan pesawat pemadam kebakaran dan malah membelanjakan uang untuk proyek-proyek konstruksi yang menurut mereka merusak lingkungan.

Di desa Bozalan, di provinsi Mugla, di mana rumah dan pohon zaitun dibakar, warga mengeluh bahwa tanggapan pemerintah tidak memadai.

"Helikopter pemadam kebakaran kami tidak mencukupi," kata Mahmut Sanli, 58 tahun.

"Jika ada kru pemadam kebakaran di lingkungan kami, ini tidak akan terjadi."

Sementara itu Nevzat Yildirim (30) mengatakan dia telah menelepon pihak berwenang di Mugla untuk meminta bantuan tetapi "tidak ada yang datang."

"Kami mencoba melindungi rumah kami sendiri dengan cara kami sendiri, dengan mengisi ember. Kami melakukannya sendiri dengan tetangga, pemuda untuk menyelamatkan rumah kami," katanya.