Sukses

Jenderal Tertinggi AS-NATO di Afganistan Mengundurkan Diri

Liputan6.com, Jakarta - Jenderal tertinggi Amerika Serikat dan NATO di Afganistan telah secara resmi mengalihkan kendali saat militer yang dimpimpin negara itu mendekati akhir misinya setelah 20 tahun.

Jenderal Austin "Scott" Miller mengundurkan diri pada Senin (12/7), beberapa hari setelah Presiden Joe Biden mengatakan bahwa operasi militer AS di Afganistan akan dihentikan pada 31 Agustus, seperti dilansir dari BBC, Selasa (13/7/2021).

Militer negara-negara NATO lainnya, termasuk Inggris, telah menarik hampir semua tentaranya sebelum tenggat waktu yang ditetapkan oleh Biden pada tentara AS.

Itu terjadi ketika kelompok Taliban merebut lebih banyak wilayah di seluruh Afganistan.

Dalam upacara sederhana yang dilangsungkan pada Senin (12/7), Jenderal Miller menyerahkan tugasnya kepada dua jenderal AS - satu yang akan mengawasi aksi militer AS dari markas Komando Pusat di Florida, dan satu lagi yang akan memimpin sekitar 650 tentara untuk tetap tinggal setelah penarikan resmi AS.

"Penting bagi saya untuk mengucapkan selamat tinggal," kata Jenderal Miller dalam upacara itu, yang juga dihadiri oleh pejabat tinggi Afganistan.

"Tugas kita sekarang bukan untuk melupakan," tuturnya.

Jenderal Miller adalah perwira terlama yang mengawasi pasukan NATO dan AS di Afganistan, yang disebutnya sebagainya "sorotan" dalam karirnya.

2 dari 3 halaman

Biden Yakini Taliban Tak Akan Gulingkan Pemerintah Afganistan di Kabul

Kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet, yang menghadiri upacara tersebut di Kabul, mengatakan bahwa mundurnya Jenderal Miller menggarisbawahi bagaimana sebuah era telah berakhir - bahkan ketika AS menekankan dukungan akan terus berlanjut.

"Akan jauh lebih sulit bagi AS dan sekutunya untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan di Afghanistan, untuk memiliki dampak yang menentukan di daerah-daerah yang dikendalikan oleh pemerintah, dan bahkan lebih sedikit lagi, di semakin banyak distrik di mana Taliban sekarang mengatakan mereka yang bertanggung jawab," kaya Doucet.

Taliban baru-baru ini mengklaim bahwa mereka telah merebut kembali 85% wilayah di Afghanistan - angka yang tidak mungkin untuk diverifikasi secara independen dan disengketakan oleh pemerintah.

Perkiraan lain juga menyebut Taliban menguasai lebih dari sepertiga dari 400 distrik Afghanistan.

Pasukan pimpinan AS menggeser Taliban dari kekuasaan pada tahun 2001.

Kelompok militan itu telah menyembunyikan Osama Bin Laden dan tokoh al-Qaeda lainnya yang terkait dengan serangan 11 September 2001 di AS yang memicu invasi.

Presiden Biden dan para pemimpin AS lainnya telah menyatakan keyakinan mereka bahwa kelompok tersebut tidak akan menggulingkan pemerintah Afghanistan di Kabul, meskipun beberapa analis intelijen khawatir ini bisa terjadi, menurut penilaian yang dibagikan kepada para pejabat pada Juni 2021.

Setelah upacara pelepasan Jenderal Miller, Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan, Hamdullah Mohib mengatakan kepada wartawan bahwa "Tidak akan ada pengambilalihan."

3 dari 3 halaman

Infografis Pedoman Isolasi Mandiri Pasien Tanpa Gejala COVID-19