Sukses

Serangan Bom Mobil Kembali Terjadi di Mali, Sejumlah Tentara Terluka

Liputan6.com, Jakarta - Serangan bom mobil besar-besaran yang menargetkan pasukan Barkhane Prancis di kota Gossi, Mali tengah, Senin 21 Juni, melukai beberapa tentara.

Melansir France24, Selasa (22/6/2021), serangan itu terjadi di lingkungan Kaigourou di Gossi di Mali tengah yang melukai beberapa tentara yang beroperasi di bawah Operasi Barkhane Prancis di Sahel, menurut sumber-sumber lokal.

Saksi mata mengatakan beberapa helikopter militer terlihat menuju ke daerah itu setelah ledakan besar untuk mengevakuasi para korban luka.

"Itu adalah bom mobil, yang jarang terjadi di wilayah ini dan bom mobil itu menargetkan patroli Barkhane," kata Wassim Nasr, pakar terorisme France24.

“Dari sumber lokal, kami tahu bahwa puing-puing dari mobil terbang lebih dari tiga kilometer dari lokasi, yang berarti itu adalah bom besar. Kami juga mendengar tentang baku tembak antara teroris dan pasukan Prancis. Ini bukan di tempat ledakan, tetapi sedikit lebih jauh ke utara kota, yang berarti konfrontasi mereka rumit dan rumit bagi pasukan Prancis.”

2 dari 2 halaman

Terjadi Usai Macron Tarik Pasukan Prancis

Serangan itu terjadi beberapa hari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan pengurangan operasi militer Prancis di wilayah Sahel Afrika, dengan mengatakan pasukan Barkhane yang ada di Prancis membutuhkan "transformasi yang mendalam".

Macron menyerukan kekuatan internasional baru untuk kawasan itu. 

“Kami dapat menduga bahwa pengeboman mobil dan penarikan militer Prancis yang akan datang “berhubungan”, kata Nasr. 

"Serangan itu juga terjadi sehari setelah "pidato pertama kepala Al-Qaeda di Maghreb Islam, yang menyerukan semakin banyak serangan terhadap pasukan Prancis," jelasnya.

Prancis saat ini memiliki 5.100 tentara di wilayah Sahel yang gersang dan bergejolak, yang membentang melintasi Afrika di bawah gurun Sahara meliputi Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger.

Sahel dipandang oleh banyak politisi dan pakar Barat sebagai risiko besar karena meningkatnya kekuatan kelompok ekstremis di sana, serta perannya sebagai persimpangan jalan bagi penyelundupan senjata dan manusia.

“Dalam konteks penarikan ini, para teroris akan semakin menekan pasukan Prancis,” Nasr memperingatkan.