Sukses

Robert Murray Sang Raja Batu Bara AS Meninggal Dunia

Liputan6.com, Ohio - Robert 'Bob' Murray, yang dikenal dalam dunia industri sebagai King of Coal atau raja batu bara di Amerika Serikat, meninggal dunia. Ia mengembuskan napas terakhir di usia 80 tahun.

"Ia meninggal karena komplikasi penyakit paru-paru Minggu 26 Oktober 2020 pagi, dikelilingi oleh keluarganya di Ohio Valley, kata pengacaranya, Michael Shaheen kepada CNN yang dikutip Selasa (27/10/2020).

Murray didiagnosis dengan fibrosis paru idiopatik, atau pneumokoniosis penambang batu bara pada Juli 2016, sejak itu ia berjuang keras melawan penyakit tersebut. Demikian menurut Shaheen dan pernyataan dari American Consolidated Natural Resources.

Sebagai pendukung kuat penambang batu bara dan industri batu bara, Murray baru saja mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua dewan direksi American Consolidated Natural Resources Holdings pekan lalu, 19 Oktober.

"Sepanjang hidup saya, di dalam dan di sekitar tambang batu bara dan di industri kami, saya telah memberikan semua yang saya miliki kepada karyawan kami dan keluarga mereka untuk menopang mata pencaharian keluarga dan pekerjaan mereka, untuk orang-orang pekerja keras di komunitas pertambangan kami," kata Murray dalam sebuah pernyataan mengumumkan pensiunnya.

"Fran dan saya telah kehilangan seorang teman baik. Bob dan Brenda telah menjadi teman kami selama tiga dekade," kata Gubernur Ohio Mike DeWine dalam sebuah pernyataan hari Senin waktu setempat.

"Bob berjuang melalui tantangan medisnya dengan energi, dorongan, keberanian, dan keyakinan yang sama saat ia melakukan segala hal dalam hidup. Dalam percakapan apa pun yang kami lakukan, Bob berbicara tentang imannya kepada Tuhan, kecintaannya pada keluarga, dan dedikasinya kepada karyawannya. Fran dan aku akan sangat merindukannya."

2 dari 3 halaman

Sosok Pendukung Donald Trump hingga Diambang Kebangkrutan

Murray berjuang melawan Badan Perlindungan Lingkungan AS selama bertahun-tahun dan menentang peraturan lingkungan pemerintah. Dia bahkan menyebut Perjanjian Iklim Paris 2015, yang disebut Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari dalamnya, "penipuan tidak berarti yang tidak akan berpengaruh pada emisi karbon dioksida", demikain menurut obituari yang diterbitkan oleh Pittsburgh Post-Gazette.

Dia juga pendukung kuat Trump yang mendukung upaya presiden untuk membatalkan peraturan lingkungan.

Perusahaan Murray, Murray Energy - penambang batu bara swasta terbesar di Amerika - mengajukan Chapter 11 tahun lalu karena tidak dapat melakukan pembayaran kepada pemberi pinjaman. Dari situlah muncul pertanda kebangkrutan pada bulan September, lalu dilakukan penjualan secara substansial semua asetnya ke American Consolidated Natural Resources.

Industri batu bara dinilai belum mampu bersaing dengan gas alam yang murah serta jatuhnya biaya tenaga surya, angin, dan bentuk energi terbarukan lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Juga Video Ini: