Sukses

Peneliti Inggris: Lockdown Bisa Membunuh Lebih Banyak Orang Ketimbang COVID-19

Liputan6.com, London - Hampir 75.000 orang dapat meninggal karena penyebab non-COVID-19 sebagai akibat dari lockdown, menurut hasil penelitian setebal 188 halaman di Inggris.

Penelitian yang baru muncul ke permukaan, yang dipresentasikan kepada Kelompok Penasihat Ilmiah Pemerintah untuk Keadaan Darurat (Sage) beberapa bulan lalu, sempat ditujukan untuk meningkatkan tekanan pada PM Inggris Boris Johnson agar menahan diri dalam kembali memberlakukan pembatasan sosial COVID-19 lebih lanjut.

Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa 16.000 orang tewas akibat 'kekacauan' di rumah sakit dan panti jompo pada Maret dan April 2020, atau periode awal lockdown Inggris, demikian seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (26/9/2020).

Diperkirakan, 26.000 orang lagi bisa kehilangan nyawa dalam satu tahun jika orang terus 'dijauhkan' dari layanan medis reguler dan perawatan sosial non-COVID-19.

Dan 31.900 tambahan bisa mati selama lima tahun ke depan sebagai akibat dari penyebab medis lain yang bisa tak tertangani, seperti diagnosis kanker yang terlewat, operasi medis non-COVID-19 yang dibatalkan, serta dampak kesehatan akibat resesi ekonomi yang dipicu oleh lockdown.

Jumlahnya kematian itu bisa mencapai 75.000 jiwa, lebih besar ketimbang akumulasi kematian yang disebabkan oleh COVID-19 di Inggris --yang saat mencapai 41.936 jiwa, klaim penelitian itu.

Perkiraan, yang dibuat oleh pegawai negeri di Departemen Kesehatan, Badan Statistik Nasional dan Departemen Dalam Negeri, dipresentasikan kepada Sage dalam pertemuan pada 15 Juli 2020.

2 dari 4 halaman

Lockdown Tetap Berimplikasi Krusial Menekan COVID-19

Namun, penelitian tersebut juga menggarisbawahi peran krusial dari lockdown dalam menekan angka kematian.

"Seandainya upaya untuk menghentikan penyebaran tidak dilakukan pada Maret 2020, 400 ribu orang mungkin bisa meninggal akibat COVID-19," tulis Daily Mail yang melihat dokumen penelitian itu.

"Dan, ketika layanan kesehatan Inggris (NHS) mulai kolaps akibat banyaknya korban meninggal, angka kematian bisa menanjak hingga ke 1,4 juta."

Para pejabat mengatakan lockdown juga akan menyebabkan beberapa penurunan angka kematian. Kualitas udara yang lebih baik, lebih sedikit kecelakaan di jalan raya dan lebih sedikit penyakit masa kanak-kanak akan mengurangi kematian secara keseluruhan sekitar 1.000 selama setahun, mereka menghitung.

Dan 4.000 nyawa lagi akan diselamatkan berkat "gaya hidup yang lebih sehat dalam jangka pendek." Mereka memperkirakan 67.000 orang akan kehilangan nyawa langsung dari COVID-19 di seluruh Inggris pada Maret 2021, meskipun angka itu dihitung sebelum infeksi mulai meningkat lagi bulan ini di Inggris.

 

Orang-orang berjalan melewati sebuah reklame di West End, London, Inggris, pada 21 September 2020. Menteri Kesehatan Matt Hancock pada Minggu (20/9) mengatakan Inggris sedang menghadapi

Efek Samping yang Tak Disengaja

Bagaimanapun, keputusan untuk lockdown juga menghasilkan efek samping yang tak disengaja, termasuk kemungkinan 75,000 kematian akibat non-COVID-19 seperti yang dipaparkan sebelumnya, hemat penelitian itu.

Ditambah dengan kematian non-COVID-19, total jumlah kematian umum akibat pandemi diperkirakan akan mencapai 101.000 di seluruh Inggris pada Maret 2021, meningkat menjadi hampir 150.000 dalam lima tahun. Akhirnya, mereka memperingatkan kehancuran ekonomi jangka panjang yang dapat menyebabkan 18.000 kematian berlebih selama dua hingga lima tahun, menurut penelitian itu.

Profesor Chris Gale, seorang ahli jantung di Universitas Leeds, mengatakan: "Ini adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kami lockdown sepenuhnya dan pesan untuk tinggal di rumah dipahami secara harfiah. Orang-orang tidak mencari perawatan dan banyak yang meninggal akibatnya."

"Jumlah kematian tidak langsung mungkin akan melebihi jumlah langsung COVID-19," ujarnya.

Dia mengapresiasi tindakan Pemerintah Inggris menyelamatkan banyak nyawa dengan melindungi NHS, tetapi menambahkan: "Konsekuensinya, keseimbangannya, adalah bahwa orang tidak mencari bantuan, dan mereka meninggal sebagai akibatnya."

Dengan tingkat infeksi virus corona yang meningkat, dan penguncian kedua kemungkinan yang berbeda, para menteri perlu berpikir keras tentang bagaimana NHS bereaksi, tambah Profesor Gale.

Sementara itu, seorang juru bicara untuk NHS Inggris mengatakan, "Sementara beberapa orang memiliki kekhawatiran yang dapat dimengerti tentang datang ke depan untuk perawatan medis (non-COVID-19) selama pandemi, NHS tetap terbuka untuk merawat semua yang membutuhkannya."

"Untuk setiap orang dengan COVID-19 yang dirawat rumah sakit NHS selama gelombang pertama, dokter juga merawat dua pasien rawat inap non-COVID-19 serta 200.000 yang menerima perawatan kanker dan dokter yang melakukan lebih dari 102 juta konsultasi."

3 dari 4 halaman

Infografis Gelombang II COVID-19 di Dunia

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut:

Bagaimanapun, keputusan untuk lockdown juga menghasilkan efek samping yang tak disengaja, termasuk kemungkinan 75,000 kematian akibat non-COVID-19 seperti yang dipaparkan sebelumnya, hemat penelitian itu.

Ditambah dengan kematian non-COVID-19, total jumlah kematian umum akibat pandemi diperkirakan akan mencapai 101.000 di seluruh Inggris pada Maret 2021, meningkat menjadi hampir 150.000 dalam lima tahun. Akhirnya, mereka memperingatkan kehancuran ekonomi jangka panjang yang dapat menyebabkan 18.000 kematian berlebih selama dua hingga lima tahun, menurut penelitian itu.

Profesor Chris Gale, seorang ahli jantung di Universitas Leeds, mengatakan: "Ini adalah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Kami lockdown sepenuhnya dan pesan untuk tinggal di rumah dipahami secara harfiah. Orang-orang tidak mencari perawatan dan banyak yang meninggal akibatnya."

"Jumlah kematian tidak langsung mungkin akan melebihi jumlah langsung COVID-19," ujarnya.

Dia mengapresiasi tindakan Pemerintah Inggris menyelamatkan banyak nyawa dengan melindungi NHS, tetapi menambahkan: "Konsekuensinya, keseimbangannya, adalah bahwa orang tidak mencari bantuan, dan mereka meninggal sebagai akibatnya."

Dengan tingkat infeksi virus corona yang meningkat, dan penguncian kedua kemungkinan yang berbeda, para menteri perlu berpikir keras tentang bagaimana NHS bereaksi, tambah Profesor Gale.

Sementara itu, seorang juru bicara untuk NHS Inggris mengatakan, "Sementara beberapa orang memiliki kekhawatiran yang dapat dimengerti tentang datang ke depan untuk perawatan medis (non-COVID-19) selama pandemi, NHS tetap terbuka untuk merawat semua yang membutuhkannya."

"Untuk setiap orang dengan Covid yang dirawat rumah sakit NHS selama gelombang pertama, dokter juga merawat dua pasien rawat inap non-COVID-19 serta 200.000 yang menerima perawatan kanker dan dokter yang melakukan lebih dari 102 juta konsultasi."