Sukses

Jepang Rilis Bioskop Online, Hibur Penonton Saat Pandemi Corona COVID-19

Liputan6.com, Tokyo - Sebuah layanan bioskop online diluncurkan di Jepang untuk menayangkan film-film yang harusnya tayang di bioskop. Inisiatif ini muncul dari kalangan sineas film agar bisa bertahan di tengah pandemi Virus Corona (COVID-19).

Dilaporkan kantor berita Kyodo, Sabtu (25/4/2020), layanan bernama The Temporary Cinema itu akan merilis film-film Jepang dan asing pada 10 Juni mendatang dan penonton bisa membeli tiketnya secara online. Harga tiket tak jauh berbeda dari tiket bioskop.

Harga tiket online untuk tiap film berbeda-beda. Biasanya, harga tiket bioskop di Jepang seharga 1.800 yen (Rp 259 ribu), namun penonton tak bisa ke bioskop akibat pandemi Virus Corona baru.

Hasil dari penjualan tiket akan diberikan kepada bioskop-bioskop yang berencana menayangkan film ini, distributor, serta produser.

Proyek ini adalah inisiatif distributor film Tofoo LLC dan sutradara film dokumenter Kazuhiro Soda. Film Soda yang berjudul Zero (Seishin 0) juga seharusnya bisa tayang di bioskop pada 2 Mei mendatang, serta salah satu pemenang di Berlin International Film Festival.

Sejumlah film yang dinantikan penonton juga akhirnya batal rilis. Salah satu yang dinantikan fans adalah film animasi Violet Evergarden: the Movie yang harusnya tayang 24 April kemarin.

Jepang saat ini meminta bisnis-bisnis agar tutup demi meredam penyebaran Virus Corona. Tempat ramai seperti bioskop dan tempat ibadah tercatat paling rentan terhadap penyebaran virus itu karena adanya kontak fisik dekat.

 

*(1 yen = Rp 144)

2 dari 3 halaman

Eks-Perawat di Jepang Kembali Bertugas Demi Lawan Corona COVID-19

Pada lain kabar, Jepang menjadi salah satu negara maju yang paling telat dalam melawan Virus Corona (COVID-19). Sistem kesehatan kini mulai kewalahan menghadapi gelombang pasien Corona.

Asosiasi Perawat Jepang meminta para eks-perawat untuk kembali aktif dan membantu pemerintah melawan pandemi Virus Corona (COVID-19). Totalnya, ada 110 eks-perawat yang kembali bekerja. 

Dilansir The Japan Times, para perawat itu dikirim ke penugasan berbeda. Ada yang bekerja di pusat konseling telepon, ada pula yang bekerja di fasilitas mengurus pasien dengan gejala Corona ringan.

Asosiasi meminta 50 ribu mantan perawat untuk kembali bekerja pada 8 April lalu. Permintaan itu dibuat sehari usai pemerintah mendeklarasikan masa darurat di Tokyo dan enam prefektur lain.

Kepala asosiasi, Toshiko Fukui, berharap pemerintah menjamin tunjangan para perawat yang berkontak dengan pasien Virus Corona COVID-19. Pasalnya, gaji perawat tergolong tak terlalu tinggi.

Bantuan finansial juga diharapkan ada bagi perawat pasien Virus Corona baru yang tinggal di hotel karena tak ingin menularkan keluarganya di rumah.

"Tingkat gaji bagi staf perawat tidak tinggi, meski mereka bekerja pada shift malam," ujar Fukui. "Selain itu, mereka menghadapi risiko infeksi, jadi kami harap ada tunjangan bahaya bagi mereka," lanjut Fukui.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: