Malam Panjang di Rumah Maeda Sebelum Proklamasi

Menjelang subuh, Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo merumuskan kalimat yang kemudian menjadi dasar lahirnya Indonesia merdeka.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 05:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - 17 Agustus 1945 lewat tengah malam. Di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, puluhan orang berkumpul dalam suasana yang tegang. Rumah itu merupakan kediaman Laksamana Maeda, petinggi Angkatan Laut Jepang.

Maeda memilih beristirahat di lantai atas. Sementara di lantai satu, Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik masuk ke sebuah ruangan.

Mereka memiliki satu pekerjaan yang harus segera diselesaikan: merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pembicaraan kemudian berfokus pada siapa yang akan menyusun kalimat-kalimat dalam naskah tersebut.

Dalam memoarnya, Hatta menceritakan Sukarno sempat memintanya menyusun teks karena menganggap Hatta memiliki kemampuan bahasa yang baik.

"Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir lengkap," kata Sukarno seperti dikutip Hatta dalam memoarnya.

Namun Hatta memiliki usul berbeda.

"Apabila aku mesti memikirkan, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekan," jawab Hatta.

 

Dari Ingatan Subardjo

Ada versi lain mengenai bagaimana kalimat awal naskah tersebut dirumuskan.

Menurut Ahmad Subardjo, Sukarno sempat bertanya kepadanya tentang Pembukaan Undang-Undang Dasar yang pernah mereka bahas.

"Masih ingatkah Saudara teks dari Pembukaan Undang-undang Dasar kita?" tanya Sukarno.

Subardjo menjawab:

"Ya, masih ingat tapi tidak seluruhnya," balas Subardjo seperti diungkap kembali dalam buku Lahirnya Republik Indonesia.

Subardjo kemudian mendiktekan bagian yang diingatnya kepada Sukarno. Dari proses itulah akhirnya disepakati kalimat pembuka:

"Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia."

Namun, naskah tersebut belum dianggap selesai. Hatta menilai kalimat tersebut belum cukup. Menurutnya, perlu ada penjelasan mengenai bagaimana proses pemindahan kekuasaan akan dilakukan setelah kemerdekaan diproklamasikan.

Hatta kemudian mendiktekan kalimat berikutnya:

"Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."

Dua kalimat itu kemudian menjadi bagian penting dari naskah Proklamasi yang dibacakan beberapa jam kemudian.

 

Menjelang Sahur

Setelah konsep naskah selesai, pekerjaan berikutnya adalah mengetiknya. Sayuti Melik, dengan didampingi Sukarni, mengetik naskah tersebut berdasarkan tulisan tangan Sukarno.

Waktu terus berjalan. Saat itu bulan Ramadan. Para tokoh yang berada di rumah Maeda juga harus memikirkan waktu sahur.

Subardjo mengenang suasana tersebut.

"Sementara teks ditik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, waktu hampir habis untuk ber-saur..." kenang Subardjo.

Setelah selesai diketik, naskah tersebut dibawa kembali ke hadapan para tokoh dan pemuda yang telah menunggu.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.00.

Naskah kemudian dibacakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. Dari ruangan di rumah Maeda itulah teks yang akan dibacakan beberapa jam kemudian mulai mendapatkan bentuk akhirnya.

Pagi harinya, Sukarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6