Sukses

Peringati 6 Bulan Demo Hong Kong, Aksi Terbesar Digelar di Victoria Park

Liputan6.com, Hong Kong - Sejumlah besar demonstran berbaris di jalan-jalan Hong Kong dalam unjuk rasa anti-pemerintah terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk pertama kalinya sejak Agustus, polisi mengizinkan rapat umum oleh Front Hak Asasi Manusia Sipil, sebuah kelompok pro-demokrasi.

Panitia mengatakan sekitar 800.000 orang telah ambil bagian sementara polisi menyebutkan angka hingga 183.000.

Dikutip dari BBC, Senin (9/12/2019), polisi mengatakan 11 orang ditangkap dalam penggerebekan menjelang unjuk rasa dan sebuah pistol ikut disita.

Protes Hong Kong telah dimulai sejak bulan Juni atas RUU ekstradisi yang kontroversial, dan sekarang telah berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang lebih luas.

"Saya akan berjuang untuk kebebasan sampai saya mati," kata June, seorang ibu berusia 40 tahun di Victoria Park, tempat para pemrotes berkumpul.

2 dari 4 halaman

Imbauan Pemerintah

Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, 7 Desember 2019, pemerintah menyerukan agar demonstran tetap tenang dan mengatakan telah "belajar dari kesalahan dan dengan rendah hati akan mendengarkan dan menerima kritik".

Pada akhir pawai, pemerintah mengatakan mereka menantikan dalam menemukan "jalan keluar untuk masalah mendalam Hong Kong melalui dialog".

9 Desember 2019 akan menandai enam bulan sejak rapat umum pada 9 Juni yang memicu krisis politik yang telah mencengkeram wilayah China semi-otonom.

Penyelenggara rapat umum, Front Hak Asasi Manusia Sipil, mengatakan ini adalah kesempatan terakhir pemerintah untuk memenuhi tuntutan mereka, yang meliputi penyelidikan independen terhadap penanganan polisi terhadap protes, amnesti bagi mereka yang ditangkap, dan pemilihan umum yang bebas.

Bentrokan menjadi semakin panas dalam beberapa bulan terakhir, menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kerusuhan bisa dihentikan.

Sekitar 6.000 orang telah ditangkap dan ratusan lainnya cedera, termasuk polisi, sejak Juni lalu.

Namun, pawai hari Minggu itu sebagian besar berlangsung dengan damai, dengan beberapa laporan kekerasan meskipun ketegangan meningkat.

3 dari 4 halaman

Tetap Berakhir Ricuh

Ketika pawai mendekati akhir acara, pengunjuk rasa memegang obor ponsel mereka di atas, menerangi jalan-jalan sambil meneriakkan lagu-lagu anti-pemerintah.

Sementara itu, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Banding Akhir dirusak dan diserang dengan dugaan bom molotov, kata polisi.

Serangan terhadap pengadilan secara luas dikutuk oleh penyelenggara pawai, polisi dan pemerintah, yang katanya "merusak reputasi Hong Kong sebagai kota yang diperintah oleh aturan hukum".

Sebelumnya, polisi mengatakan pistol semi-otomatis Glock dan 105 peluru ditemukan selama penggerebekan bersama dengan sejumlah pisau dan petasan. Dikatakan ini pertama kalinya ditemukan pistol sejak protes dimulai.

Kota Hong Kong memang relatif tenang sejak kandidat pro-demokrasi menang telak dalam pemilihan dewan lokal dua minggu lalu.

Tetapi ketidakpuasan dengan Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, belum menghilang, dengan banyak pemrotes menuntut lebih banyak konsesi dari pemerintahnya.

"Tidak peduli bagaimana kami mengekspresikan pandangan kami, melalui pawai secara damai, melalui pemilihan yang beradab, pemerintah tidak akan mendengarkan," kata seorang pemrotes berusia 50 tahun, yang hanya disebut sebagai Wong, kepada kantor berita AFP.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Protes Anti-Pemerintah Kembali Pecah di Irak
Artikel Selanjutnya
Lari Pagi Jadi Bentuk Protes Masyarakat Thailand Terhadap Pemimpin Diktator