Sukses

Inggris Waspadai Campur Tangan China pada Sejumlah Universitas

Liputan6.com, London - Anggota parlemen Inggris telah memperingatkan perihal adanya bukti yang mengkhawatirkan terkait pengaruh China di beberapa universitas. Hal tersebut termasuk risiko potensial terhadap kebebasan akademik dari lembaga-lembaga Inggris yang menargetkan kemitraan di Tiongkok.

Dikutip dari CNN, Rabu (6/11/2019) Inggris adalah negara terbaru yang memperingatkan kemungkinan campur tangan pemerintah China dalam sistem pendidikan, setelah bertahun-tahun universitas secara agresif menargetkan siswa dari China, sebagai yang membayar lebih banyak daripada siswa Inggris atau Eropa.

"Terlepas dari kenyataan bahwa sekarang ada lebih dari 100.000 siswa China di Inggris, masalah pengaruh China telah menjadi bahan perdebatan yang sangat kecil dibandingkan dengan di Australia, Selandia Baru dan AS," menurut sebuah laporan dari Komite Luar Negeri DPR Inggris.

Inggris adalah salah satu tujuan paling populer di luar negeri untuk siswa China, selain AS, Australia dan Kanada. Ditambah lagi, beberapa universitas Inggris, termasuk Liverpool dan Nottingham telah membangun kemitraan atau hubungan dekat lainnya dengan Perguruan tinggi China.

Kemitraan yang bersifat ekonomi dan akademik, serta manfaat finansial yang sangat besar yang dibawa oleh mahasiswa Tiongkok, membuat universitas-universitas Inggris rentan terhadap tekanan dari pemerintah China, menurut laporan DPR Inggris.

"Universitas memiliki insentif yang kuat untuk membangun kemitraan di luar negeri untuk mengamankan pendanaan dan meningkatkan kolaborasi pada proyek-proyek penelitian, tetapi ini harus diimbangi dengan risiko potensial terhadap kebebasan akademik," kata anggota parlemen.

2 dari 4 halaman

Bukti Campur Tangan China

Beberapa akademisi Inggris dilaporkan mendapat tekanan politik China, termasuk para pejabat yang terkait dengan Institut Konfusius, program kebudayaan dan bahasa yang didanai pemerintah Tiongkok yang hadir di sebagian besar kampus Inggris. Lembaga itu diduga menyita surat yang menyebut Taiwan di Konferensi Akademik Eropa.

"Apakah anda melihat kaitannya? Ketika kepala kantor di Beijing muncul di sebuah konferensi di Portugal, menyita brosur dan surat-surat serta merobek semua halaman yang menyebutkan Taiwan dan tidak akan membiarkan para akademisi melihatnya?" kata Christopher Hughes, seorang profesor di London School of Economics, mengatakan kepada anggota parlemen sesuai dengan transkrip.

"Apakah kita mengatakan bahwa itu pengaruh dan gangguan yang tidak dapat diterima? Apakah kita mulai mengatakan bahwa mungkin organisasi-organisasi ini tidak boleh berada di kampus kita? Bahwa mungkin mereka memiliki agenda yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kita?" ujar Hughes.

Hughes menambahkan bahwa kehadiran Institut Konfusius di kampus-kampus Inggris, di mana mereka sering menjadi satu-satunya tempat di mana siswa dapat belajar bahasa China merupakan contoh tekanan halus dari Beijing.

Hal tersebut memberi dampak yang lebih luas tentang kebebasan akademik.

"Kami tahu Ts besar — ​​Taiwan, Tibet, dan Tiananmen. Sekarang, ada Hong Kong," kata Hughes. "Hal-hal ini akan dipinggirkan dan diperas karena para akademisi harus bekerja dengan Institut Konfusius dan mereka sendiri mendapatkan legitimasi," tutupnya.

3 dari 4 halaman

Kelompok Univeritas Tak Temukan Tuduhan Pemerintah

Hong Kong menjadi topik masalah yang diangkat oleh saksi-saksi lain yang diwawancarai oleh anggota parlemen. Protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung di kota semi-otonomi China tersebut, telah menyebabkan perkelahian dan perselisihan di kampus-kampus di Inggris, Australia dan Selandia Baru.

Pelajar China di negara-negara ini telah berulang kali melakukan demonstrasi tandingan untuk demonstrasi yang diadakan dengan simpati dengan protes Hong Kong. Akibatnya, banyak siswa termotivasi oleh patriotisme dan ketidaksetujuan dari kerusuhan yang semakin keras. Bahkan, ada dugaan bahwa diplomat China lokal telah ikut membantu dalam demonstrasi.

Sementara akademisi yang berbicara kepada komite khawatir tentang pengaruh asing, kelompok-kelompok universitas nyatanya menolak klaim tersebut, dengan Bill Rammell dari MillionPlus, yang mewakili 20 universitas di Inggris, mengatakan bahwa dia tidak mendengar satu pun bukti yang mendukungnya.

Grup Russell, yang mewakili beberapa universitas paling bergengsi di Inggris, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa "kami tidak mengetahui adanya upaya signifikan atau sistematis untuk mempengaruhi aktivitas universitas oleh aktor asing dalam cara apa pun yang dijabarkan dalam surat tersebut."

Kepedulian terhadap pengaruh China di kampus tidak terbatas pada Inggris saja. Akademisi di Selandia Baru dan Australia khususnya telah meningkatkan kekhawatiran atas potensi ancaman terhadap kebebasan akademik karena campur tangan oleh diplomat China dan aturan sensor untuk melindungi biaya mahasiswa Tiongkok.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Partner Backpacker Inggris yang Tewas Saat Bercinta Dinyatakan Bersalah
Artikel Selanjutnya
Pulangkan 39 Jasad WN Vietnam dalam Truk di Inggris, Bantuan Dana Rp 1,5 M Mengalir