Sukses

Protes Hong Kong Berlanjut dengan Rantai Manusia Sejauh Hampir 50 Kilometer

Liputan6.com, Hong Kong - Sebuah jalinan panjang rantai manusia membentang beberapa kilometer di kedua sisi pelabuhan Hong Kong pada Jumat malam, ketika demonstran melanjutkan protes damai, yang disebut terinspirasi oleh pengunjuk rasa anti-Soviet tiga dekade lalu.

Dengan bergandengan tangan dan menyanyikan lagu-lagu, puluhan ribu demonstran berjejer di trotoar, jembatan layang, dan taman-taman Hong Kong.

Dikutip dari The Guardian pada Sabtu (24/8/2019), barisan cahaya ponsel dilambaikan sebagai penutup jenis protes yang baru pertama kalinya terjadi di Hong Kong itu.

Protes Jumat malam itu tidak berizin, tapi berlangsung damai. Hal tersebut berbalik kontras dengan kekerasan dan kebrutalan polisi yang terjadi pada beberapa protes tak berizin sebelumnya.

Untuk demonstrasi "Hong Kong Way" hari Jumat, panitia telah menyerukan agar orang-orang berkumpul mengikuti satu garis yang panjangnya kira-kira serupa dengan total jalur kereta bawah tanah, yang meliuk-liuk hampir 30 mil, atau setara 50 kilometer.

Jalur rantai anusia itu membentang terpisah dari Pulau Hong Kong, Semenanjung Kowloon, dan wilayah New Territories dekat perbatasan China daratan.

Massa yang diprakarsai oleh barisan Hong Kong --yang mengenakan pakaian hitam dan masker-- mulai membentuk rantai manusia pada sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Tua, muda, dan pekerja kantor berjas ikut serta dalam aksi tersebut.

 

 

2 dari 3 halaman

Terinspirasi oleh Baltik Way

Aksi itu sekaligus memperingati kejadian serupa pada 23 Agustus 1980, ketika sekitar 2 juta pengunjuk rasa membentuk rantai manusia yang membentang 600 mil (setara 600 kilometer), melintasi Estonia, Latvia, dan Lithuania.

Dikenal sebagai "Baltik Way", aksi itu merupakan sebuah pembangkangan massal terhadap kebijakan otoriter Uni Soviet. Dalam jangka waktu setahun kemudian, ketiga negara tersebut merdeka dari Moskow.

Para pengunjuk rasa mengutip rantai manusia Baltik sebagai inspirasi.

"Di tempat itu, pada waktu itu, orang-orang mencoba menggunakan bentuk ekspresi ini untuk menyuarakan keinginan mereka agar bebas dari negara Soviet," kata seorang demonstran.

"Dalam istilah yang sangat mirip, orang-orang Hong Kong berusaha untuk mengekspresikan diri mereka dan mengekspresikan kerinduan mereka atas kebebasan dan hak asasi manusia," lanjutnya.

Tidak seperti protes lain yang menghantui Hong Kong dalam beberapa bulan terakhir, demonstran kali ini berbaris menyamping di sepanjang trotoar.

Rantai putus dan terbentuk lagi di persimpangan jalan untuk menghindari gangguan lalu lintas.

Setelah protes berakhir pada pukul 21.00 waktu setempat, demonstran melebur kembali ke jalan-jalan, mengikuti salah satu semboyan tidak resmi dari gerakan itu: "Jadilah seperti air".

3 dari 3 halaman

Protes Terbesar Sejak 1997

Sebelas pekan sudah protes silih berganti digelar di Hong Kong, menjadikannya sebagai yang terbesar dan terparah sejak kota itu dikembalikan dari kolonial Inggris ke China pada 1997 silam.

Pemerintah China telah menuduh pengunjuk rasa terpapar terorisme, bekerja dengan kekuatan asing, dan mengobarkan "revolusi warna" melawan pemerintahan pusat Beijing.

Ketika protes Hong Kong dimulai pada bulan Juni, itu dipicu oleh kemarahan atas RUU Ekstradisi yang memungkinkan tersangka ditangkap dan diadili sepihak oleh otoritas China daratan.

Namun, meski akhirnya RUU tersebut ditangguhkan, protes terlanjur meluas menjadi gerakan pro-demokrasi, yang meminta China tetap mempertahankan konsep "satu negara, dua sistem" sebagaimana mestinya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Demo Pro-Demokrasi di Hong Kong Ricuh Lagi, Bendera China Dibakar
Artikel Selanjutnya
Pekan Ini, Kongres AS Akan Loloskan RUU Dukung Massa Pro-Demokrasi Hong Kong