Sukses

16-7-1979: Kisah Dokter Tentara yang Bunuh Istri dan Dua Anaknya

Liputan6.com, Releigh - Pada hari ini, 16 Juli 1979, seorang dokter Angkatan Udara Amerika Serikat bernama Jeffrey MacDonald, diadili di North Carolina atas pembunuhan istri dan anak-anaknya.

Laki-laki berpangkat kapten itu, yang ditempatkan di Fort Bragg, melakukan panggilan darurat ke polisi militer pada dini hari 17 Februari 1970.

Petugas yang merespons teleponnya menemukan istri MacDonald, Colette, dan dua anaknya, Kimberley yang berusia lima tahun dan Kristen yang berumur dua tahun, tewas bersimbah darah. Tubuh ketiganya ditemukan penuh luka tusuk.

Ditemukan pula kata "pig" yang ditulis dengan darah di bagian kepala tempat tidur. MacDonald yang juga mengalami beberapa luka tusuk, mengatakan kepada petugas bahwa empat hippie telah menyerang dirinya dan keluarganya.

Hippie adalah seseorang dengan penampilan yang tidak konvensional, biasanya memiliki rambut panjang dan memakai manik-manik, yang terkait dengan subkultur yang melibatkan penolakan terhadap nilai-nilai konvensional dan penggunaan obat-obatan halusinogen.

MacDonald pun berkisah kepada polisi bahwa dia terluka akibat berusaha menyelamatkan istri dan putri-putrinya, perlawanan sengit terjadi.

Namun cerita MacDonald diragukan oleh penyelidik, pasalnya di tempat kejadian perkara hanya ada sedikit bukti yang ditemukan.

Majalah Esquire yang memuat artikel tentang pembunuhan terkenal Manson, ditemukan tergeletak di lantai di ruang tamu, tempat MacDonald mengklaim telah diserang.

Penyelidik berteori, cerita soal hippie dan tulisan di tembok adalah upaya untuk meniru tindak kriminal ala Manson dan meredakan kecurigaan.

Lebih penting lagi, bukti cipratan darah tampaknya tidak mendukung pengakuan MacDonald tentang insiden tersebut.

Para detektif seolah tak ingin kecolongan, mereka kemudian memeriksa darah yang ada di dinding dan mencocokkannya dengan golongan darah setiap anggota keluarga MacDonald.

Istri dan kedua buah hati MacDonald memiliki golongan darah yang berbeda dan dapat dibedakan. Cipratan darah sang kapten ditemukan di mana saja di rumah, kecuali di kamar mandi.

Selain itu, luka-lukanya jauh lebih parah daripada luka istri dan kedua anaknya -- Colette, Kimberley dan Kristen masing-masing ditikam 20 kali.

Namun, penyelidikan forensik awal sangat fatal dan tuduhan bahwa dokter ini adalah pelakunya, akhirnya dibatalkan pada tahun 1970.

 

2 dari 2 halaman

Gagal Naik Banding

Sidang militer yang digelar pada tiga bulan setelahnya, berakhir tanpa pengadilan militer karena kurangnya bukti, meski MacDonald diberhentikan dengan hormat tak lama setelah itu.

Meskipun MacDonald muncul di televisi dan mengeluh tentang perawatannya, para penyelidik tetap menaruh perhatian terhadap kasus ini. Pada 1974, dewan juri di pengadilan mendakwa MacDonald karena pembunuhan, tetapi karena berbagai penundaan, persidangan tidak dimulai lagi untuk lima tahun berikutnya.

Pada 1979, MacDonald akhirnya dijatuhi hukuman dengan tiga hukuman seumur hidup. MacDonald, masih bersikeras tidak bersalah, meminta penulis Joe McGinnis untuk membantu membebaskannya.

McGinnis mewawancarai MacDonald dan menyelidiki kasusnya sendiri, tetapi memutuskan bahwa MacDonald memang bersalah. Buku tentang kisah MacDonald, Fatal Vision, adalah buku terlaris pada masanya dan itu membuat MacDonald marah, menuntut McGinnis atas penipuan.

Sejak itu MacDonald kehabisan permohonannya — kasusnya telah naik banding ke Mahkamah Agung AS berkali-kali. Ia tetap dipenjara.

Di satu sisi, MacDonald ditolak untuk mengajukan pembebasan bersyarat dan akan diperbolehkan kembali mengajukannya pada tahun 2020, ketika dia berusia 76 tahun.

Pada tanggal yang sama tahun 1979, Saddam Hussein mengambil alih kursi kepresiden Irak. Awalnya ia turut andil dalam kudeta Presiden Irak Abdul Rahman Aref, yang kepemimpinannya digantikan Ahmed Hassan al-Bakr. Tak lama kemudian, ia mengambil alih kursi pimpinan tersebut.

Lalu pada 1969, dua astronaut NASA, Neil Armstrong, Buzz Aldrin dan Michael Collins meluncur ke Bulan dengan misi Apollo 11. Mereka bersiap menjadi manusia pertama yang melangkahkan kaki di satelit alami Bumi.

Sedangkan pada 1990, gempa dahsyat memporak-porandakan sebagian besar wilayah pulau Luzon, Filipina. Meski hanya 1 menit, namun sekitar 1.000 orang tewas.

Loading
Artikel Selanjutnya
Ditinggal Dokter Berfoto, Lansia di Tiongkok Meninggal Dunia
Artikel Selanjutnya
Serangan Udara Targetkan Rumah Sakit di Libya, 5 Dokter Tewas