Sukses

Dokter di AS Sukses Cabut Pisau 25 Cm yang Menancap di Kepala Anak Ini

Liputan6.com, Washington DC - Seorang dokter di Kansas Amerika Serikat baru-baru ini menolong seorang anak berusia 15 tahun dengan pisau sepanjang 25,4 cm bersarang di otaknya. Remaja itu bernama Eli Gregg, yang tengah bermain di luar rumah pada Sabtu, 15 Juni 2019 saat ibunya mendengar dia berteriak keras.

Awalnya, sang ibu mengira teriakan itu hanya bagian dari permainan kuda. Namun Gregg kemudian memasuki rumah dengan kondisi mengenaskan.

"Ketika ia membuka pintu, terlihat adanya darah dengan logam menancap di wajahnya," jelas ibunda Eli Gregg, Russel, seperti dikutip dari Huffpost yang berbasis di New York Amerika Serikat, pada Senin (24/6/2019).

Rupanya, Eli sedang memegang pisau ketika ia terjatuh. Tanpa sengaja, logam tajam itu menembus wajahnya, dan tertanam di tengkoraknya. Setelah diperiksa dokter, akhirnya diketahui ujung pisau berhenti tepat di arteri karotisnya --sepasang pembuluh darah yang yang mengantarkan darah ke otak dan kepala.

"Ya Tuhan, panggil 911. Ini buruk," kata Russell kala itu, sebagaimana ia menceritakan insiden nahas yang dimaksud kepada stasiun KOAM-TV yang berbasis di Pittsburg, Kansas, Amerika Serikat.

"Saya bahkan tidak yakin bagaimana itu terjadi ... itu menakutkan," tutunya.

 

*Peringatan, gambar pada halaman selanjutnya mengandung konten grafis

2 dari 3 halaman

Dokter Khawatir Ada Kerusakan Serius

Eli dilarikan dengan ambulans ke rumah sakit anak-anak terdekat. Saat itu, para dokter khawatir posisi pisau yang berbahaya di sebelah arteri karotis membuatnya berisiko terserang stroke atau kerusakan serius lain.

Ia kemudian dibawa ke rumah sakit University of Kansas Health. Dengan sigap, Dr. Koji Ebersole membantu mengeluarkan pisau itu dari kepalanya.

Saat itu, Ebersole dan timnya harus mengendalikan pendarahan di area kepala itu dengan piranti khusus. Sebelum akhirnya mereka dapat benar-benar menghilangkan bilah pisau dari wajah Eli Gregg, menurut Fox News.

Para ahli bedah melaporkan bahwa mereka harus menggunakan catok untuk menggenggam pisau itu, bukan dengan tangan mereka. Prosedur medis itu berhasil, dan Eli kemudian berada pada tahap pemulihan.

"Ia (Eli) selamat dari peristiwa itu," kata Ebersole kepada stasiun Kansas City, KCTV.

Eli tampaknya telah belajar dari pengalaman itu. Ibunya mengatakan kepada Inside Edition bahwa ia akan "menjauh dari benda-benda tajam."

3 dari 3 halaman

Insiden Serupa

Insiden tidak terduga yang berakhir dengan bilah pisau yang menancap, juga pernah terjadi pada Juni 2014. Saat itu, seorang pria di New York justru tertikam benda tajam di bagian punggung saat berusaha melerai perkelahian. Anehnya, bukannya mencari pertolongan, korban malah pergi mencari sarapan pagi.

Seperti dilansir dari New York Post, seorang pria telah mengejutkan para pengunjung yang sedang sarapan di kedai siap saji McDonald’s di Queens (New York City) ketika ia melenggang masuk dengan sebilah pisau menancap di punggungnya. Saat itu ia tengah sibuk mengobrol menggunakan telepon genggamnya.

Andrew Hardy (53) masuk dengan baju berlumuran darah dan tampaknya tenang-tenang saja ketika tiba di tempat itu sekitar jam 10 pagi.

"Dia terlihat santai dan tenang, tapi tetap kelihatan bahwa ia sedang terguncang," kata sahabatnya, Michel Green (43). "Saya mencoba mencabut pisaunya, tapi seseorang berseru, ‘Jangan, jangan! Pisau itu mungkin sudah mengenai pembuluh nadi!"

Seorang pengunjung lain menduga Hardy sedang mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang melalui telepon genggamnya.

Hardy ditikam beberapa menit sebelumnya ketika ia sedang berusaha melerai segerombolan pria yang saling menimpuki botol di Sutphin Boulevard di dekat Jalan 91, demikian menurut suatu sumber.

Perkelahian itu berlangsung hanya dua blok jauhnya dari stasiun Jamaica yang sangat sibuk karena menjadi titik pertemuan Long Island Rail Road yang terhubung ke Long Island, subway kota New York, dan kereta AirTrain yang terhubung ke bandara internasional.

Loading
Artikel Selanjutnya
Iran Bantah Mengalami Serangan Siber dari AS
Artikel Selanjutnya
Israel Turut Meragukan Proposal Perdamaian Usulan Donald Trump?