Sukses

Koalisi Arab Saudi-UEA Janji Tindak Tegas Houthi yang Merudal Bandara Abha

Liputan6.com, Abha - Koalisi pimpinan Saudi mengatakan akan "mengambil tindakan tegas" untuk melawan kelompok Houthi, setelah pemberontak Yaman itu melakukan serangan rudal ke bandara Abha di Arab Saudi, yang menyebabkan sedikitnya 26 orang terluka.

Turki al-Malki, juru bicara koalisi, mengatakan serangan rudal itu membuktikan perolehan senjata canggih baru oleh "milisi teroris".

"Ini juga menunjukkan kelanjutan dukungan Iran terhadap serangan terorisme lintas-perbatasan," tambah al-Maliki sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (13/6/2019).

Tidak ada tanggapan segera dari Iran, yang telah membantah mempersenjatai Houthi.

Pemberontak Houthi, yang menghadapi serangan terus-menerus oleh pihak koalisi sejak Maret 2015 --dan merenggut banyak korban sipil-- telah meningkatkan serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) melintasi perbatasan Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan sebuah proyektil mengenai aula kedatangan di bandara Abha, menyebabkan kerusakan material.

Tiga wanita dan dua anak termasuk di antara yang terluka, dan mereka diektahui sebagai pemegang paspor Saudi, Yaman dan India.

Delapan orang dibawa ke rumah sakit, sementara sebagian besar dirawat di lokasi.

 

 

2 dari 3 halaman

Uni Eropa Ikut Menanggapi

Di lain pihak, Uni Eropa mengatakan "serangan provokatif seperti itu menimbulkan ancaman bagi keamanan regional dan merusak proses politik yang dipimpin PBB di Yaman".

Stasiun televisi Almasirah TV --yang berafiliasi dengan Houthi-- melaporkan bahwa kelompok pemberontak itu melancarkan serangan rudal jelajah ke bandara Abha, yang berjarak sekitar 200 kilometer di utara perbatasan Yaman, di mana melayani rute domestik dan regional.

3 dari 3 halaman

Klaim Pertahanan Diri Houthi

Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan intervensi di Yaman pada 2015, untuk mencoba memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang diakui secara internasional, telah dipaksa keluar dari kekuasaan oleh Houthi.

Houthi, pada hari Rabu, bersikeras mengklaim mereka punya hak untuk mempertahankan diri dalam menghadapi lima tahun pemboman yang dipimpin Saudi, serta menuntut pembukaan blokade udara dan laut.

"Kelanjutan agresi dan pengepungan terhadap Yaman untuk tahun kelima, penutupan bandara Sana'a, dan penolakan terhadap solusi politik membuat orang-orang kami tidak bisa dicegah untuk membela diri sendiri," kata juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh Almasirah TV.

Loading
Artikel Selanjutnya
KJRI Jeddah: Tak Ada WNI Korban Serangan Rudal di Bandara Arab Saudi
Artikel Selanjutnya
Saudari Putra Mahkota Arab Saudi Akan Diadili di Prancis Terkait Kasus Kekerasan