Sukses

17-5-1987: Rudal Irak Menghantam Kapal Induk Amerika Serikat USS Stark

Liputan6.com, Washington DC - Pada 17 Mei 1987, sesaat setelah pukul 21.00 waktu setempat, sebuah pesawat Dassault Falcon 50 mendekati kapal induk Amerika Serikat, USS Stark, yang sedang melakukan patroli rutin di Teluk Persia. Versi lain menyebut, pesawat itu adalah jet tempur F-1 Mirage.

Kala itu, Perang Irak-Iran nyaris tamat, namun kedua belah pihak tetap saling serang. Situasi masih brutal.

Kapten Glenn R. Brindel meminta petugas radio untuk mengirim pesan. Meminta pilot pesawat tersebut untuk mengidentifikasi diri.

"Pesawat tak dikenal, ini adalah kapal perang Angkatan Laut AS di koordinat 078, (jarak) 12 mil. Kami minta Anda untuk mengidentifikasi diri," itu pesan yang dikirim dari USS Stark. Tak ada jawaban dari pilot.

Pesan kedua dikeluarkan tak lama kemudian. Masih tak berbalas. Pada pukul 22.10, Kapten Brindel diberitahu bahwa pesawat misterius itu telah mengunci kapalnya menggunakan radar Cyrano-IV.

Falcon 50 kemudian menembakkan dua rudal anti-kapal Exocet ke USS Stark. Misil pertama menembus kapal.

"Rudal pertama menghantam lambung kapal di dekat sayap anjungan, delapan kaki di atas permukaan laut. Memicu lubang di ruang berthing, kantor pos, dan toko kapal, memuntahkan propelan roket di sepanjang jalurnya," tulis Brad Peniston dalam bukunya, No Higher Honor, seperti dikutip dari situs news.usni.org.

Dalam kondisi terbakar hebat, rudal itu terhenti di sudut ruang kapten kapal. "Namun, gagal meledak."

Sementara, rudal kedua yang menghantam lima kaki lebih jauh, meledak. "Api berkobar nyaris satu hari lamanya, membakar tempat para kru, ruang radar, dan pusat informasi tempur," tambah Peniston.

Akibatnya, 37 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

Itu serangan yang tak terduga. USS Stark ada di luar zona perang, di perairan internasional. Para awak tidak menyangka akan mengalami serangan, terutama dari Irak, yang secara de facto adalah sekutunsaat itu.

Anehnya, seperti dikutip dari situs wearethemighty.com, sebuah helikopter Iran, bersama satu kapal Arab Saudi, berperan dalam operasi penyelamatan di USS Stark. Padahal, Iran berada di posisi yang berlawanan dengan AS.

Meski susah payah, USS Stark masih bisa mengambang dan bisa mencapai pelabuhan di dekat Bahrain, dengan bantuan USS Waddell, USS Conyngham.

Hantaman rudal Exocet ke USS Stark adalah satu-satunya serangan misil yang berhasil dilakukan ke kapal induk AS.

2 dari 2 halaman

Irak Minta Maaf

Serangan ke USS Stark yang menewaskan 37 anggota Angkatan Laut Amerika Serikat memicu kemarahan publik Negeri Paman Sam. 

Departemen Luar Negeri AS melayangkan serangkaian protes keras ke Baghdad. Meminta pertanggungjawaban dan penjelasan tentang serangan itu.

Awalnya, Irak mengklaim, kapal induk AS itu melanggar zona perang. Namun, mengalah saat melihat bukti yang disodorkan pihak Angkatan Laut AS.

Pihak Baghdad mengumumkan akan melakukan penyelidikan atas insiden tersebut dan meminta maaf pada AS.

"Jika benar serangan tersebut dilakukan pesawat Irak, itu adalah akibat dari kebingungan pilot," kata pihak Kementerian Luar Negeri Irak pada The Guardian.

Menurut hasil penyelidikan pihak Irak, pilot pesawat tersebut menduga, USS Stark adalah tanker milik Iran. Presiden Irak Saddam Hussein juga menyebut hal serupa.

Pejabat AS kemudian mengklaim, tindakan pilot jet tempur Irak tidak berdasarkan perintah, alias beraksi sendiri. Penerbang itu dikabarkan dieksekusi.

Namun, informasi itu dipertanyakan. Sebab, Angkatan Udara Irak belakangan mengungkapkan, pilot tersebut tidak dihukum dan masih hidup.

Sementara, Kapten Glenn Brindel dibebastugaskan dari jabatan sebagai kapten USS Stark. Ia kemudian mendapat sanksi dan pensiun dini.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
AS Setop Penerbangan Komersial Dari dan Menuju Venezuela
Artikel Selanjutnya
Kisah Mahasiswi S3 Indonesia yang Berpuasa di AS