Sukses

Militan Taliban Serang Kantor LSM Pemasok Bantuan Milik AS di Kabul

Liputan6.com, Kabul - Taliban dilaporkan telah menyerang kantor Counterpart International, LSM pemasok bantuan milik Amerika Serikat yang berada di Kabul, Afghanistan. Lima orang tewas dan 24 lainnya luka-luka.

Kelompok militan tersebut diyakini telah meledakkan "bom mobil bunuh diri" sebelum memasuki Counterpoint International dan sempat memantik pertikaian dengan pasukan keamanan Afghanistan.

Pasukan keamanan saling melontarkan tembakan dengan gerilyawan tersebut di kompleks di daerah Shahr Naw. Demikian yang diwartakan oleh BBC, Rabu malam waktu setempat, 8 Mei 2019.

Pelaku, yang berjumlah 5 orang, adalah mereka yang tewas dalam serangan itu. Sekitar 200 karyawan yang bekerja di gedung tersebut dievakuasi.

Di satu sisi, Taliban berdalih, serangan tersebut diluncurkan atas dasar bahwa LSM itu terlibat dalam "kegiatan Barat yang berbahaya".

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Nasrat Rahimi, mengunggah pernyataan di Twitter terkait jumlah orang yang tewas dan terluka, serta mengatakan, pasukan keamanan masih berjaga di bangunan tersebut.

"Dua lantai kantor LSM ini telah diamankan dan untuk menghindari korban sipil, operasi dilakukan dengan hati-hati," katanya.

Serangan itu terjadi di tengah perundingan putaran keenam antara Amerika Serikat dan Taliban di Qatar, yang bertujuan untuk mengakhiri "perang 18 tahun".

Pekan lalu, Taliban menolak perjanjian gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, serta utusan khusus Negeri Paman Sam untuk perdamaian di negara konflik ini, Zalmay Khalilzad.

2 dari 3 halaman

Kecaman Dubes AS untuk Afghanistan

Counterpart International telah beroperasi di Afghanistan sejak 2005 dan menjalankan proyek-proyek keterlibatan sipil, mendukung perempuan dan masyarakat terpinggirkan lainnya.

Badan amal itu mem-posting pernyataan yang mengatakan: "Kami sangat sedih dengan serangan ini dan bekerja secepat mungkin untuk menyelamatkan staf kami. Keselamatan dan keamanan mereka adalah perhatian utama kami."

Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut, "Counterpart International terlibat dalam kegiatan Barat yang berbahaya dan inter-mixing pria dan wanita."

Sebelum mereka digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001, Taliban melarang perempuan bekerja di luar rumah dan bersikeras bahwa wanita yang hendak keluar dari rumah harus ditemani oleh seorang kerabat laki-lakinya.

Sementara itu, Akbar Khan Sahadat, seorang jaksa penuntut di kantor Kejaksaan Agung yang dekat dengan tempat ledakan itu, menuturkan kepada AFP bagaimana dia bisa lolos dari serangan maut ini.

"Kami mulai berlari keluar dari gedung dan ketika berlari di luar, saya mendengar suara tembakan kecil dan suara granat meledak di dekat kami," kenangnya.

John Bass, Duta Besar AS untuk Afghanistan, mengecam serangan itu dalam sebuah cuitan di Twitter, menggambarkannya sebagai "kekerasan yang tidak masuk akal".

3 dari 3 halaman

Utusan AS: Perdamaian di Afghanistan Tergantung pada Iktikad Taliban

Utusan khusus Amerika Serikat (AS) untuk perdamaian Afghanistan, Zalmay Khalilzad mengatakan, berakhirnya konflik di negara Timur Tengah itu bergantung pada deklarasi gencatan senjata permanen oleh Taliban.

Dalam sebuah wawancara dengan Tolo News, stasiun televisi swasta terbesar Afghanistan pada Minggu 28 April, Khalilzad juga mengatakan bahwa tuntutan Taliban untuk gencatan senjata turut berfokus pada penarikan pasukan AS dari negara itu.

Namun, Khalilzad mengatakan, "Jika Taliban bersikeras untuk kembali ke sistem yang dulu mereka miliki, menurut pendapat pribadi saya, itu berarti kelanjutan perang, bukan perdamaian," ujarnya sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Senin, 29 April 2019afraaf.

"Fokus kami adalah pada terorisme. Tidak ada kesepakatan yang akan dilakukan jika kami tidak melihat gencatan senjata permanen dan komitmen untuk mengakhiri perang," tambahnya.

"Kami mencari perdamaian dan penyelesaian politik ... Kami ingin perdamaian memberi kami (AS) kemungkinan untuk mundur."

Khalilzad telah mengisyaratkan kemajuan dalam pembicaraan yang diadakan di Doha, antara Taliban dan pemerintah AS.

Pembahasan tersebut berpusat pada Taliban, yang menjamin Afghanistan tidak akan pernah lagi dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk serangan terhadap tanah asing, sebagai imbalan atas penarikan pasukan asing pada akhirnya.

Tetapi perundingan tidak menyertakan anggota pemerintah Afghanistan, yang dipandang Taliban sebagai "rezim boneka".

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengalaman Pertama WNI Berpuasa Ramadan di Amerika
Artikel Selanjutnya
AS Pastikan Muslim Beribadah Tanpa Rasa Takut di Bulan Ramadan