Sukses

Demi Ekosistem, Galapagos Larang Pakai Kembang Api Saat Tahun Baru

Liputan6.com, Puerto Baquerizo Moreno - Dalam menyambut Tahun Baru 2019, pihak berwenang di Galapagos telah melarang penjualan dan penggunaan kembang api di kepualaun ini demi melindungi flora dan fauna yang langka.

Para ahli konservasi mengatakan, hewan-hewan yang hidup di kepulauan yang berada di Samudra Pasifik tersebut mengalami peningkatan denyut jantung, gemetar, dan cemas berlebih setelah mendengar suara yang dihasilkan dari kembang api.

Otoritas lokal juga menegaskan bahwa kembang api telah beberapa kali menyebabkan banyak cedera setiap tahun, terutama di kalangan anak-anak saat menyambut Tahun Baru.

"Ekosistem di Kepulauan Galapagos sangat peka dan gampang terpengaruh oleh kembang api, terutama faunanya yang unik," ujar presiden dewan lokal, Lorena Tapia, melalui Twitter. Demikian seperti dikutip dari BBC, Selasa (1/1/2019).

"Mereka (flora dan fauna) adalah hadiah konservasi untuk Ekuador dan dunia," tambahnya, menjelaskan bahwa Galapagos terletak sekitar 1.000 km (621 mil) di lepas pantai daratan Ekuador.

Akan tetapi, kembang api yang hanya menghasilkan cahaya tetapi tidak menimbulkan suara, diperbolehkan digunakan. Namun hanya diizinkan saat perayaan Tahun Baru saja.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Desakan Terhadap Pemerintah

Ribuan orang mengunjungi Kepulauan Galapagos setiap tahun. Para turis umumnya tertarik oleh keanekaragaman hayati dan lingkungannya yang masih 'perawan'.

Sementara itu, kampanye untuk menentang penggunaan kembang api Tahun Baru dimulai pada 2017. Langkah ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak yang diperbolehkan mengangkut atau menjual kembang api di Galapagos, meski dia adalah pejaabat tinggi.

Di satu sisi, desakan diberlakukannya aturan baru ini menyusul adanya tekanan terhadap pemerintah Ekuador untuk berbuat lebih banyak dalam melindungi ekosistem Galapagos yang sensitif.

Plastik sekali pakai juga telah dilarang di negara kepulauan yang memiliki populasi 25.000 orang tersebut. Hal ini dikarenakan bisa mengancam kehidupan satwa yang berhabitat di Galapagos, seperti iguana dan kura-kura.

Dua spesies tersebut memainkan peran penting dalam pengembangan Teori Evolusi Charles Darwin.