Sukses

Kasus Penyiksaan Tersangka Teroris Menghantui Calon Direktur CIA

Liputan6.com, Washington DC - Isu negatif membayangi Gina Haspel, perempuan yang dicalonkan duduk di posisi Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat atau CIA yang baru.

Atas mandat Presiden Donald Trump, Haspel akan menggantikan Direktur CIA saat ini, Mike Pompeo -- usai pria itu dicalonkan menjadi Menteri Luar Negeri AS yang baru, menggeser Rex Tillerson yang dipecat oleh sang miliarder nyentrik.

Namun kini, penunjukkan Gina Haspel sebagai Direktur CIA yang baru dinilai kontroversial.

Karena, perempuan yang telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun -- termasuk berdinas sebagai agen rahasia -- untuk CIA itu diduga terlibat menjalankan program penyiksaan yang diterapkan oleh badan intelijen tersebut. Demikian seperti dikutip dari Vox (14/3/2018).

Program penyiksaan itu diterapkan dalam proses interogasi terhadap belasan figur, guna memeras informasi intelijen yang diinginkan oleh CIA.

Haspel, tulis Vox, diduga bertanggung jawab atas interogasi plus penyiksaan terhadap dua tersangka teroris di fasilitas detensi rahasia alias 'black site' yang dikelola CIA di Thailand.

Ia juga diduga menghilangkan dan menghancurkan bukti yang mampu menguak proses interogasi tersebut.

Dukungan Dobald Trump

Meski demikian, Donald Trump jelas memiliki kepercayaan pada Haspel -- perempuan pertama yang ditunjuk menjadi direktur dalam sejarah CIA.

Dalam sebuah pernyataan resmi kepada The Washington Post, Donald Trump memuji dua calon pejabatnya yang baru, Mike Pompeo sebagai calon Menlu AS dan Gina Haspel sebagai calon Direktur CIA.

"Gina Haspel ... akan menjadi direktur perempuan pertama bagi CIA, sebuah torehan bersejarah. Mike dan Gina telah bekerja bersama selama lebih dari setahun dan saling menghormati satu sama lain."

Haspel pun balas memuji,

"Saya berterima kasih kepada Presiden Trump atas kesempatan tersebut, dan dengan rendah hati merasa percaya diri," kata calon Direktur CIA Gina Haspel dalam sebuah pernyataan.

1 dari 3 halaman

Siapa Dua Tersangka Teroris yang Disiksa?

Gina Haspel diduga terlibat dalam proses interogasi rahasia plus  penyiksaan terhadap Abu Zubaydah dan Abd al Rahim al-Nashiri di black site CIA di Thailand.

Abu Zubaydah dan al-Nashiri "Disiksa sedemikian brutal, sampai di satu titik, ia sempat dikira tewas usai disiksa," The New Yorker melaporkan.

The New Yorker juga menulis, "CIA melakukan waterboarding terhadap Zubaydah sebanyak 83 kali dan berkali-kali membenturkannya ke tembok."

Proses interogasi dan penyiksaan itu direkam dalam 92 kaset rekaman dan kemudian dirahasiakan oleh CIA dari publik.

Namun pada tahun 2005, Gina Haspel menjadi salah satu dari beberapa figur di CIA yang memerintahkan pemusnahan kaset rekaman itu.

Pemusnahan kaset rekaman itu sempat mencuat dan diselidiki oleh Kementerian Hukum dan Kehakiman Amerika Serikat, atas mandat Presiden Barack Obama yang berkeinginan menutup dan mengusut program penyiksaan serta black site CIA sepanjang 'US War on Terror'.

Namun, pihak kementerian tidak memroses lebih lanjut mengenai penyelidikan tersebut.

 

2 dari 3 halaman

Telah Dikritik Sejak Lama

Sementara itu, pada tahun 2017, langkah Mike Pompeo mengangkat Gina Haspel sebagai Deputi Direktur CIA menuai kritik sejumlah pihak, mulai dari aktivis Hak Asasi Manusia dan Anggota Kongres AS.

Kritik itu berlandaskan pada dugaan keterlibatan Haspel pada program penyiksaan dan black site CIA di Thailand, serta penghapusan rekaman bukti-bukti interogasi para teroris di fasilitas tersebut.

Namun, tak sedikit pula politisi AS yang justru memuji langkah Mike Pompeo mengangkat Gina Haspel sebagai 'orang nomor dua' di lembaga intelijen tersebut kala itu. Mereka menganggap Haspel sebagai 'perempuan yang tahu dan ahli dalam bidang pekerjaan yang ia tekuni'.

Artikel Selanjutnya
Pakar: Rex Tillerson Menlu Terburuk Sepanjang Sejarah Amerika Serikat
Artikel Selanjutnya
Ambisi Donald Trump, AS Bakal Bentuk Pasukan Antariksa