Sukses

Beracun, Menyakitkan... 6 Serangga Paling Menakutkan di Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Serangga adalah makhluk hidup yang paling ambivalen dari segala yang bernafas.

Sebagian ada yang cukup manis untuk disukai, namun, tak sedikit di antaranya yang cukup mengerikan untuk dibenci.

Ada beberapa serangga yang lucu, tak berbahaya, dan bahkan layak untuk dipelihara. Kumbang dan kepik bunga misalnya.

Namun, tak jarang jika ada pula yang cukup menakutkan, bahkan untuk sekedar dilihat. Tak hanya itu, keberadaannya yang terkadang mengganggu dan merugikan, makin membuat manusia tak suka dengan serangga tipe itu.

Kecoak, kutu kasur, rayap, kelabang, atau kaki seribu segelintir contoh.

Kendati demikian, tak sedikit pula para penggemar yang tetap memelihara serangga-serangga menakutkan itu. 'Etnik, unik, dan lain-daripada-yang lain' adalah segelintir alasan.

Dari berbagai contoh, berikut 6 serangga paling menakutkan di dunia, seperti Liputan6.com rangkum dari The Listverse, Minggu (14/1/2018).

1 dari 7 halaman

1. Laba-Laba Pengembara Brazil

Biasa ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah dan salah satu laba-laba paling mematikan di dunia. Bahkan laba-laba ini masuk dalam Buku Rekor Dunia pada tahun 2010 sebagai laba-laba paling berbisa.

Laba-laba ini mempunyai rambut merah yang menutupi taring mereka. Mereka biasa berkeliaran pada malam hari untuk mencari mangsa.

Untungnya, laba-laba ini tidak terlalu menyukai manusia, sehingga kecil kemungkinan jika Arachnid itu akan mendadak menyerang manusia di alam liar.

2 dari 7 halaman

2. Tawon Jepang Raksasa

Tawon ini banyak ditemukan di Jepang. Ukurannya sekitar 2,5 cm dengan lebar sayap hingga 6,5 cm. Mereka tidak menyerang manusia kecuali jika merasa terganggu.

Sengatannya dapat berakibat fatal. Setiap tahun, 40 orang meninggal di Jepang karena gigitan lebah ini.

3 dari 7 halaman

3. Lalat Tsetse

Lalat ini hanya dapat ditemukan di benua Afrika dan hidup mengisap darah manusia atau hewan. Yang berbahaya dari mereka adalah mereka kerap membawa parasit trypanosoma dalam gigitan mereka.

Parasit tersebut dapat menyebabkan penyakit tidur yang juga menginfeksi otak. Setiap tahunnya, 250-300 orang meninggal akibat gigitan lalat ini.

4 dari 7 halaman

4. Kelabang Raksasa Amazon

Dengan panjang maksimal 35cm, Kelabang Raksasa Amazon sering dianggap sebagai kelabang terbesar dunia. Serangga itu sering ditemukan di Amerika Selatan, Karibia, Peru (di Peru dikenal dengan nama kelabang kaki-kuning raksasa Peru).

Seperti kebanyakan kelabang dan kaki seribu, tubuh serangga itu tersegmentasi menjadi beberapa bagian.

Kelabang raksasa amazon terdiri dari sekitar 21 - 23 segmen tubuh, cukup besar dan kuat jika ia harus berkelahi dengan serangga predator lain. Ia juga memiliki bisa yang cukup manjur dan fatal bagi banyak hewan kecil.

Meski tak berbahaya bagi manusia, racun tersebut cukup menyebabkan rasa sakit. Bahkan, bagi beberapa manusia yang sensitif dengan racun, bisa kelabang itu dapat membuat bagian tubuh yang digigit bengkak, memicu demam, mengigil, kelelahan, dan --dalam kasus ekstrem-- kematian.

5 dari 7 halaman

5. Semut Peluru

Disebut juga Paraponera. Semut ini banyak ditemukan di hutan hujan Nikaragua dan Paraguay.

Julukan mereka sesuai dengan akibat yang ditimbulkan bila digigit semut ini. Korban yang digigit semut ini akan merasa sakit seperti ditembak pistol paku.

Meski menyakitkan, gigitan mereka tidak fatal.

6 dari 7 halaman

6. Semut Pemanen Maricopa

Ia disebut sebagai serangga paling berbisa di dunia. Pogonomyrmex maricopa diketahui mengandung racun yang paling beracun, yang terdiri dari asam amino, peptida, dan protein.

Semut menyerang mangsanya dengan menempel ke korban dengan cubitan dan menyuntikkan racun sebanyak mungkin sebelum ia melepaskan gigitannya.

Racunnya 12 kali lebih kuat dari pada lebah madu.

Itu berarti, hanya membutuhkan 12 sengatan dari satu semut Maricopa untuk membunuh seekor tikus. Dan, hanya membutuhkan sekitar 350 sengatan untuk mampu membunuh manusia.

Kedengarannya seperti memerlukan waktu lama, namun bayangkan jika Anda diserang oleh sepasukan semut itu dalam waktu yang bersamaan.

Ketika seekor semut Maricopa menyengat korbannya, ia melepaskan feromon yang memberi sinyal semut lain di koloni tersebut untuk turut melakukan serangan.

Rasa sakit dari sengatan semut itu juga diukur sebagai salah satu yang lebih menyakitkan berdasarkan indikator Schmidt Sting Pain Index -- masuk pada Level 3 (hanya satu di bawah yang tertinggi).

Semut pemanen Maricopa dapat menyebabkan rasa sakit empat sampai delapan jam setelah menyengat korbannya. Mereka menghabiskan sebagian besar hidup mereka di daerah gurun dan paling banyak ditemukan di Arizona.

Artikel Selanjutnya
Kura-Kura Berambut Mohawk, Spesies Reptil Paling Terancam di Bumi
Artikel Selanjutnya
Penampakan Cacing Misterius Tertua di Dunia, Bentuknya Bikin Bergidik