Sukses

Gereja Koptik Mesir Batalkan Pertemuan dengan Wapres AS

Liputan6.com, Kairo - Kepala Gereja Koptik Mesir Paus Tawadros II memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence. Tatap muka antar keduanya semula dijadwalkan berlangsung di Kairo pada akhir bulan ini.

Keputusan Paus Tawadros II itu merupakan bentuk protes atas kebijakan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Demikian pernyataan pihak Gereja Koptik yang dirilis pada Sabtu 9 Desember.

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump "tidak memperhitungkan perasaan jutaan masyarakat Arab", ungkap seorang juru bicara Gereja Koptik Mesir.

"Gereja Ortodoks Koptik Mesir menolak untuk menerima Wakil Presiden AS Mike Pence," tegas jubir gereja, seraya menambahkan bahwa pihaknya akan berdoa bagi 'kebijaksanaan dan penanganan seluruh masalah yang memengaruhi perdamaian masyarakat Timur Tengah'. Demikian seperti dikutip dari alaraby.co.uk pada Minggu (10/12/2017).

Pada hari Rabu, beberapa saat sebelum Trump menyampaikan pidatonya, pihak gereja telah mengecam rencana Presiden ke-45 AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Langkah itu bertentangan dengan semua konvensi internasional atas Yerusalem, dan akan mengarah pada munculnya risiko signifikan yang dapat berdampak negatif terhadap stabilitas Timur Tengah dan seluruh dunia," kata pihak gereja.

Keputusan pihak Gereja Koptik Mesir ini mencuat setelah ulama terkemuka Mesir, Ahmed al-Tayeb, juga mengumumkan langkah yang sama, yakni menolak bertemu dengan Wapres Pence.

Tayeb telah memperingatkan bahwa rencana AS untuk memindahkan misi diplomatiknya dari Tel Aviv ke Yerusalem akan "membuka gerbang neraka".

Langkah Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu demonstrasi di berbagai belahan dunia juga seruan untuk melakukan intifadah.

2 dari 2 halaman

Palestina Juga Tolak Kunjungan Pence

Terkait dengan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump, seorang pejabat senior Palestina pun menyatakan penolakan atas kunjungan Wapres Pence di wilayah negaranya.

"Atas nama Fatah saya sampaikan bahwa kami tidak akan menyambut kedatangan wakil Trump di wilayah teritori Palestina. Dia (Pence) meminta bertemu (Presiden Mahmoud Abbas) pada 19 Desember ini di Bethlehem, tapi pertemuan itu tidak akan terwujud," tegas Rajoub seperti dikutip dari huffingtonpost.com pada Jumat 8 Desember.

CBS News melansir bahwa Rajoub juga meminta otoritas negara-negara Arab lainnya untuk tidak bertemu dengan Pence.

Keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem, "bertentangan" dengan kebijakan luar negeri AS yang telah berjalan selama tujuh tahun.

Tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sejak negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948. Sementara, menurut Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa seluruh pihak "tidak mendekati kesepakatan damai antara Israel-Palestina".