Sukses

Absen 20 Tahun, Pemerintah Haiti Berencana Bentuk Kembali Tentara

Liputan6.com, Port-au-Prince - Untuk kali pertama dalam 20 tahun, Pemerintah Haiti telah meluncurkan kampanye untuk membentuk kembali tentara negara. Pemerintah rencananya akan merekrut 500 laki-laki dan perempuan untuk membantu dalam urusan patroli perbatasan dan bencana alam.

Kementerian Pertahanan mengatakan, rekrutmen dibuka untuk laki-laki dan perempuan berusia 18 hingga 25 tahun yang telah lulus ujian sekolah menengah.

Perekrutan itu menyusul adanya pengumuman dari PBB bahwa pasukan keamanannya akan meninggalkan Haiti pada Oktober 2017. Organisasi internasional itu hanya meninggalkan sejumlah kecil polisi untuk mendukung Kepolisian.

Penarikan pasukan keamanan PBB telah disetujui pada April 2017, memicu perdebatan apakah Haiti harus membentuk tentara baru atau tidak.

Banyak politikus yang mendukung dibentuknya tentara dengan alasan menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pemuda.

Namun sejumlah kritik mengatakan, pasukan militer dapat dengan mudah dipolitisasi dan menjadi senjata di tangan siapa pun yang menjadi presiden atau perdana menteri.

Mereka juga menyebut bahwa anggaran kecil yang dimiliki Haiti seharusnya diperuntukkan bagi pasukan kepolisian nasional yang berjumlah 15.000 orang.

Dalam sebagian besar sejarah Haiti, para tentara dijadikan alat oleh presiden otoriter untuk menindak para pembangkang politik.

Selama keluarga dinasti Francois 'Papa Doc' Duvalier berdiri selama 29 tahun -- didirikan pada 1950-an, tentara disingkirkan dan digantikan oleh Tonton Macoutes, sebuah milisi yang terkena karena kebiadabanya.

Tetapi ketika anak laki-laki Duvalier, Jean Claude, digulingkan dan melarikan diri ke Prancis pada 1986, komandan tertinggi Angkatan Darat yang terkenal akan taktik represif dan berisi orang-orang Duvalier, masih terus berjalan.

Setelah presiden pertama Haiti yang terpilih secara demokratis, Jean-Bertrand Aristide, dilengserkan oleh kudeta militer pada 1991, tentara dan pasukan paramiliter melakukan kekejaman yang tak terhitung jumlahnya. Diperkirakan mereka telah menewaskan sekitar 4.000 orang dalam kurun tiga tahun.

Menanggapi kritikan tersebut, para pemimpin Haiti berpendapat bahwa tentara baru tersebut memiliki berbagai jenis tugas militer, mulai dari memberikan bantuan pasca-bencana alam dan penyelundupan senjata.

Namun rencana itu tidak menarik antusiasme banyak donor internasional, setelah mereka memberikan miliaran dolar untuk mengembangkan Polisi Nasional Haiti yang saat ini memiliki sekitar 15.000 anggota terlatih.

 

Simak juga Video Menarik Berikut Ini: