Sukses

Film Nominasi Oscar Buka Festival Sinema Australia Indonesia 2017

Liputan6.com, Jakarta - Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI 2017) telah resmi dibuka. Pada tahun ini, acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan besar Australia itu telah memasuki tahun ketiga.

Acara yang pada tahun ini diselenggarakan di tiga kota, yakni Jakarta, Makassar, dan Surabaya, dibuka langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson.

Sebanyak sembilan film pilihan asal Australia dan Indonesia akan diputar dalam FSAI 2017.

Enam judul film karya sineas Australia yang akan diputar dalam FSAI 2017 adalah Looking for Grace, Girl Asleep, Satellite Boy, Spear, The Ravens, dan Lion. Sementara itu tiga judul film lain karya anak bangsa adalah Sendiri Diana Sendiri, What They Don't Talk About When They Talk About Love, dan Sokola Rimba.

Tak hanya itu, enam karya terpilih dari total hampir 300 film yang ikut dalam Kompetisi Film Pendek FSAI 2017, turut dipamerkan dalam festival yang diselenggarakan di Jakarta, yakni pada 26 hingga 29 Januari.

Ke-enam judul film pendek terpilih adalah Ojo Sok-Sokan, Nunggu Teka, Deadline, It's a Match, Outgrowth, dan Ibu dan Anak Perempuannya.

Menurut Dubes Grigson, keenam karya finalis Kompetisi Film Pendek adalah salah satu film yang ia tunggu-tunggu dalam FSAI 2017.

"Saya menunggu untuk melihat film pendek, karena saya rasa ini adalah kesempatan besar bagi industri film Australia dan Indonesia untuk bekerja sama," ujar Grigson dalam Pembukaan FSAI 2017 di XXI Senayan City pada Kamis, 27 Januari 2017.

Ia menambahkan, para finalis adalah orang-orang kreatif yang mampu menghasilkan karya meski memiliki keterbatasan teknologi dan dana.

Film yang mendapat empat nominasi Golden Globe dan enam nominasi Academy Awards, Lion, menjadi pembuka FSAI 2017. Menurut Dubes Grigson, alasan dipilihnya Lion menjadi film pembuka karena memiliki cerita yang kuat.

"Lion adalah film dengan kisah kuat yang menarik tak hanya bagi warga Australia tapi juga seluruh dunia. Saya rasa film dengan cerita kuat seperti itu tak hanya menarik bagi warga Australia tapi juga Indonesia," ujar Grigson.

Dubes Grigosn juga menyebut bahwa Lion adalah film yang menggambarkan Australia, negara yang penuh dengan keberagaman.

"Australia adalah negara migran, jadi bukan hal mengejutkan jika Anda melihat sesuatu sekuat ini. Meski Lion merupakan film internasional, tapi sangat menggambarkan Australia," imbuh dia.

Bagi yang tertarik untuk mendapatkan tiket Festival Sinema Australia Indonesia, Anda dapat mendaftar di FSAI2017.evenbrite.com. Untuk melihat sinopsis dan jadwal lengkap pemutaran film, dapat dilihat di sini.