Sukses

Beda Hillary Clinton dan Donald Trump Sikapi Teror Belgia

Liputan6.com, Jakarta Serangan teror kembali menghantui Eropa dengan sasaran kali ini mengarah kepada kota Brussel, Belgia.

Serangkaian ledakan yang berawal dari Bandara Zaventem hingga stasiun metro Maelbeek di kota Brussels terjadi Selasa pagi kemarin, 22 Maret 2016, tentunya mengundang keprihatinan dunia.

Tidak tinggal diam, dua kandidat bakal calon Presiden AS, Donald Trump dan Hillary Clinton angkat bicara mengenai teror Belgia.

Donald Trump, sosok yang sempat bersikeras melontarkan niatnya untuk melarang kaum Muslim masuk ke AS apabila terpilih menjadi Presiden, kembali menyerukan rencananya itu.

Kali ini, rencananya bukan hanya sekedar menetapkan pelarangan terhadap orang Muslim. Ia merasa, apabila ialah yang terpilih untuk menduduki kursi kepresidenan sekarang, ia akan menginstruksikan untuk semua perbatasan ditutup sehingga tidak ada yang bisa akses masuk dan keluar.

“Kalau saya pasti akan melakukan penutupan di semua daerah perbatasan sampai kita tahu pasti apa yang terjadi,” Trump kepada Foxnews Selasa kemarin 22 Maret 2016, seperti dikutip dari Vox, Rabu (23/3/2016).

Kandidat partai Republik Donald Trump menganjurkan otoritas negara setempat untuk melakukan apapun untuk mengorek informasi dari otak di balik serangan Paris November 2015 lalu, Saleh Abdeslam.

Menurut Trump, teror di Belgia merupakan bencana besar dan bisa saja terjadi di AS.

“Kita harus bisa lebih pintar di AS apalagi menangani bagian imigrasi. Kita tidak pernah tahu orang-orang ini dari mana dan siapa mereka sebetulnya,” tuturnya.

Untuk kandidat dari partai Demokrat, Hillary Clinton penutupan daerah perbatasan seperti yang dikatakan Donald Trump terlalu berlebihan.

“Betul, memang kita harus memperketat pengamanan kita. Tetapi untuk menutup daerah perbatasan kita sangatlah tidak realistis,” kata dia seperti dikutip dari CNN.

Hillary menilai, cara Trump menanggapi masalah ini dengan niatnya untuk menutup daerah perbatasan akan berdampak buruk pada pergerakan ekonomi dan juga perdagangan Negeri Paman Sam itu.

“Teror untuk kesekian kalinya telah menyerang kita semua. Kita tidak boleh terintimidasi dengan apa yang mereka lakukan, jangan biarkan mereka merasa apa yang mereka lakukan berhasil mengguncang keyakinan dan keberanian kita yang seutuhnya,” tutup Clinton.