Dody, Sudah Disiksa Dipecat Pula

Dody Rusdiansyah, praja STPDN asal Sulteng dipecat dengan tidak hormat setelah memprotes kekerasan yang dilakukan senior kepadanya. Sebagian calon praja berkeras tak akan keluar dari STPDN.

Diterbitkan 23 September 2003, 20:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Pekanbaru: Kejam, sadis, tak manusiawi. Itulah pendapat sebagian besar penonton adegan kekerasan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang ditayangkan SCTV, Ahad pekan silam. Namun sejumlah mahasiswa sekolah pemerintah itu berkomentar, penyiksaan yang terekam dalam cakram padat tersebut belum apa-apa dan ada yang lebih parah. Setidaknya itulah yang menimpa Dody Rusdiansyah, mahasiswa STPDN Angkatan 14 kontingen Palu, Sulawesi Tengah. Pemuda itu dipukuli hingga patah tulang rusuk dan trauma tumpul thoraks [rongga dada]. Sampai sekarang korban masih tak bisa berbicara karena trauma. Ketika memprotes perlakuan tersebut, mahasiswa itu malah dikeluarkan dari STPDN secara tidak hormat. "Saya heran dan kecewa," keluh ayah korban Muslim Lahodo dalam telewicara dari Palu dengan Rosianna Silalahi di SCTV, Jakarta, Selasa (23/9) petang.

Seperti diceritakan sang anak kepada Muslim, kejadian berlangsung sekitar April silam. Saat itu, Dody yang menderita flu dan bronchitis meminta izin kepada senior agar diperbolehkan tak mengikuti kegiatan perpeloncoan. Kemudian oleh pengurus pusat kesehatan STPDN, korban disarankan beristirahat di ruang pusat kesehatan. Tak disangka, malamnya seorang senior yang juga dari Palu menculik korban dari ruang kesehatan. Mata korban kemudian ditutup lantas diseret keluar. "Lalu dia dipukuli secara tak manusiawi," kisah Muslim meniru perkataan putranya.

Korban mengaku sangat kesakitan. Dody juga masih disiksa secara psikis lewat intimidasi pelaku yang mengancam akan kembali dipukul jika melapor ke orang lain. Korban tak tahan. Dia kemudian melarikan diri dari bangunan yang dijaga ketat itu. Dalam keadaan terluka dan kaki digips, Dody kabur tanpa membawa bekal apapun. Tanpa alas kaki. Cuma baju kaos, jaket, dan celana training melekat di badan.

Dengan bantuan orang-orang yang ditemui, Dody melarikan diri ke Surabaya, Jawa Timur. Sesampainya di sana, dengan tertatih-tatih pemuda itu menumpang kapal feri menuju Makassar, Sulawesi Selatan. "Naik ke kapal pun dia harus digotong-gotong oleh orang-orang kapal," ungkap Muslim. Sesampainya di Makassar, Dody meminta bantuan tukang becak untuk diantarkan ke terminal bus. Dari sana, dia menumpang bus ke kampung halaman di Palu. "Sampai di rumah dia langsung tergeletak," kenang Muslim.

Muslim kesal menyaksikan siksaan yang menimpa anaknya. Lalu dia melaporkan kasus ini kepada Gubernur Palu. Sang Kepala Daerah kemudian mengutus sejumlah bawahannya ke rumah Dody dan menyarankan agar korban dirawat di rumah sakit. Muslim juga melayangkan surat protes kepada STPDN lewat bupati setempat yang kemudian ditembus ke Gubernur Palu selaku instansi pengirim. Oleh Gubernur Palu, surat itu kemudian ditindaklanjuti dengan membuatkan surat respons yang diparaf tiga pejabat gubernuran.

Dua bulan berlalu. Dody diizinkan pulang dari rumah sakit meski belum sembuh betul. Dalam rawat jalan, penyakit pemuda itu ternyata bertambah parah. Dody kemudian kembali dirawat di rumah sakit. Dokter bedah kemudian mengeluarkan surat keterangan soal penyakit korban. Surat itu pun lantas dikirim Muslim ke STPDN pada 1 Agustus. Empat hari kemudian, STPDN membalas surat protes Muslim dengan surat keputusan pemecatan Dody secara tidak hormat. "Saya bingung sekali. Masak kan mereka tak mempedulikan surat protes tembusan dari Gubernur [Palu]," keluh Muslim. Sampai sekarang, penyakit Dody masih terbilang parah. Untuk bersujud salat saja dia tak mampu karena dada kirinya sakit.

Bukan cuma Dody. Dohar Marbun, mahasiswa STPDN asal Sumatra Utara pun mengalami penyiksaan berat dari senior. Karena tak tahan dia mengadu kepada orang tuanya. Sang ayah kemudian hampir menculik Dohar dari STPDN, karena tak tahan melihat penderitaan putranya.

Dohar termasuk mahasiswa STPDN Angkatan 1999. Dia teman sekamar Ery Rahman, mahasiswa STPDN yang tewas dianiaya senior pada 2000 [baca: Wahyu Hidayat Bukan Korban Pertama]. Menanggapi rekaman kegiatan perpeloncoan STPDN yang ditayangkan SCTV, Dohar tak membantah. "Jujur, sebenarnya [penyiksaan] lebih dari itu," beber dia, saat dihubungi Rosianna Silalahi lewat telepon. Pokoknya, lanjut Dohar, kesan utama yang paling membekas saat menuntut ilmu di STPDN adalah kekerasan. "Saya malah pernah dipukul digilir berkali-kali oleh para senior," keluh dia [baca: Tradisi "Shaolin" di Jatinangor].

Dohar membantah pernyataan sebagian alumni STPDN yang menuding para korban kekerasan berfisik lemah. Menurut dia, bukannya fisik mereka yang lemah, tapi lantaran perlakuan para senior yang terlalu keras. "Saya yang sehat saja dipukuli, enggak kuat juga," ungkap Dohar. Namun dia juga menyetujui pernyataan bahwa tak semua senior berbuat kekerasan. "Tradisi yang membuat mereka begitu. Tapi yang pasti sekitar 90 persen begitu [melakukan kekerasan]," tegas Dohar.

Kematian Wahyu Hidayat dan Ery kontan menumbuhkan ketakutan di benak para mahasiswa STPDN Angkatan 15 yang saat ini baru masuk tahun ajaran baru. Sebagian mahasiswa yang berjumlah 1.200 orang itu kini tengah menjalani pendidikan di Pusat Pendidikan Teritorial Angkatan Darat, Cimahi, Jabar. Sebagian lain telah masuk kuliah sebelum pengukuhannya sebagai muda praja STPDN, awal Oktober mendatang.

Rata-rata calon praja menyatakan akan tetap melanjutkan studi. "Takut sih. Tapi apa boleh buat, sudah telanjur. Lagipula cita-cita saya dari dulu masuk STPDN," ungkap Athiah, calon praja asal Sulawesi Utara. Sementara Mandar, calon praja asal Sulteng menyatakan akan terus bersekolah di sini karena merasa masa depannya bakal terjamin. "Lagipula kan, kekerasan sudah dilarang," ungkap Tengku Ryan, kontingen dari Nanggroe Aceh Darussalam. Mereka berharap kakak-kakak kelasnya tak lagi melakukan tindak kekerasan dan meminta agar pemerintah tak membubarkan STPDN.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6