Kisah Haru Lilis, Impian Naik Haji Bersama Putri dengan Autisme Terwujud

Berbagai persiapan dilakukan Lilis dan keluarga untuk memastikan kelancaran perjalanan Sharfina, seorang penyandang autisme naik haji.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makkah - Selama 13 tahun, Lilis Ardifiyanti menyimpan satu harapan yakni suatu hari bisa mengajak sang putri, Sharfina menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama anggota keluarga.

Bagi keluarga lain, perjalanan haji mungkin menjadi penantian biasa. Namun bagi Lilis dan keluarga, keberangkatan ini memiliki makna berbeda. Keluarga harus mempersiapkan lebih banyak hal karena Sharfina dengan kondisi autism spectrum disorder/ASD. Kondisi ini membutuhkan pendampingan dan pola komunikasi khusus.

Tahun ini harapan Lilis terwujud. Sharfina berhasil mengikuti rangkaian ibadah haji bersama keluarga. Perjalanan panjang yang dimulai sejak pendaftaran pada 2013 akhirnya membawa mereka ke Tanah Suci.

“Awalnya kami mencoba mengajak Sharfina umrah dulu pada 2008 untuk melihat apakah dia bisa berada dalam rombongan besar, melakukan perjalanan jauh, dan menjalankan ibadah bersama banyak orang,” kata Lilis kepada tim media Center Haji di Makkah, Arab Saudi, Senin, 8 Juni 2026.

Pengalaman umrah tersebut menjadi titik penting bagi keluarga untuk melihat kemampuan Sharfina beradaptasi. Saat itu, Sharfina dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah tanpa mengalami kendala berarti.

Keberhasilan itu membuat keluarga mulai mempertimbangkan untuk membawa Sharfina berhaji. Setelah mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), keluarga kemudian mendaftarkan Sharfina bersama tiga anggota keluarga lainnya.

“Setelah dia mendapatkan KTP pada Februari (2013), sekitar April kami langsung mendaftarkan semuanya ke Kementerian Agama Tangerang Selatan. Kami juga sudah menyampaikan bahwa Sharfina adalah anak autistik,” kata Lilis.

Masa Tunggu Jadi Momen untuk Sharfina Latihan

Masa tunggu yang panjang memberi keluarga waktu untuk mempersiapkan Sharfina. Selain menunggu jadwal keberangkatan, mereka kembali mengajak Sharfina umrah pada 2023 sebagai latihan sebelum menghadapi perjalanan haji yang panjang.

Keluarga juga membangun kebiasaan agar Sharfina terbiasa berada di lingkungan baru. Perjalanan jauh, bergabung dengan kelompok besar, hingga menjalani aktivitas di luar rumah menjadi bagian dari persiapan.

Menurut Lilis, hal terpenting bagi penyandang autis adalah mendapatkan gambaran jelas tentang apa yang akan dilakukan. Rutinitas dan penjelasan bertahap membantu Sharfina merasa lebih nyaman.

“Kalau anak autis sudah tahu urutan kegiatannya, dia lebih merasa aman. Sebelum ibadah kami jelaskan dulu, misalnya nanti tawaf tujuh kali, setelah itu sa’i tujuh kali. Jadi dia punya gambaran apa yang akan terjadi,” tuturnya.

Selama di Tanah Suci, Sharfina mampu mengikuti berbagai rangkaian ibadah, mulai dari tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, hingga ibadah di Mina. Keluarga tetap memberikan pengawasan khusus, terutama saat berada di tengah kerumunan besar.

Gunakan Tali Penghubung

Untuk menjaga keamanan saat kondisi ramai, keluarga menggunakan alat bantu sederhana berupa tali yang dihubungkan antara Sharfina dan pendampingnya. Cara tersebut sudah diterapkan sejak pengalaman umrah pertama.

“Kalau di tempat ramai seperti tawaf, kami tidak cukup hanya memegang tangan karena bisa terlepas. Dengan tali ini dia tetap bisa berjalan mengikuti kami, sementara kami juga masih bisa membaca panduan ibadah,” jelas Lilis.

 

Tantangan Muncul Saat di Mina

Tantangan terbesar muncul ketika berada di Mina. Cuaca panas dan jarak perjalanan membuat Sharfina sempat merasa tidak nyaman. Namun, keluarga terus membantu dengan memberikan penjelasan dan menjaga kondisinya.

Lilis mengatakan, Sharfina lebih mudah menghadapi situasi sulit ketika mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Dia sering bertanya kapan selesai atau kapan pulang. Karena itu kami selalu memberikan gambaran kegiatan berikutnya supaya dia tidak merasa kehilangan kepastian,” ujarnya.

Di tengah perjalanan tersebut, dukungan dari lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting. Saat berada dalam satu kamar bersama jemaah lain, perempuan berusia 30 tahun itu mendapat penerimaan yang baik.

Menurut Lilis, teman sekamar Sharfina sesama jemaah Kloter JKB 23 tidak merasa terganggu dengan kondisi putrinya. Bahkan mereka dapat berinteraksi dengan baik setelah saling mengenal.

“Awalnya dia memang tidak langsung mau berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Tapi setelah terbiasa, dia mulai bertanya dan berinteraksi,” kata Lilis.

Lilis berharap pengalaman Sharfina dapat membuka pandangan masyarakat bahwa penyandang autisme bukan berarti tidak mampu melakukan perjalanan spiritual seperti jemaah lainnya.

“Kami ingin keluarga lain tidak takut. Yang penting dipersiapkan, anaknya dikenalkan dengan situasi yang akan dihadapi, dan ada pendamping yang benar-benar memahami kondisinya,” pungkas Lilis.