Lupus adalah Penyakit Seribu Wajah yang Sering Disalahartikan

Lupus kerap disalahartikan karena gejalanya mirip penyakit lain, padahal bisa merusak organ tanpa disadari.

Diterbitkan 28 Mei 2026, 16:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lebih dikenal lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat.

Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat, sehingga menyerang organ tubuh sendiri dan memicu peradangan kronis. Kondisi ini membuat lupus memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.

Secara global, lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi, tapi belum teridentifikasi secara optimal di berbagai negara akibat keterbatasan data epidemiologi. Data epidemiologi global lupus tahun 1992 hingga 2022 yang dikumpulkan dari studi 30 tahun terakhir menunjukkan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya.

Sementara, Indonesia menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan lupus.

Ini menjadikan penyakit lupus bukan hanya persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

"Lupus sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Sandra Sinthya Langow, dalam keterangannya, dikutip Kamis, 28 Mei 2026.

"Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," tambahnya.

Pemicu dan Dampak Lupus

Sandra menambahkan bahwa secara klinis, lupus dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan.

Salah satu mekanisme penting yang berperan dalam proses inflamasi pada lupus adalah jalur Interferon Tipe I yang dapat membuat tubuh berada secara terus menerus dalam kondisi menyerang dirinya sendiri.

Jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat, peradangan kronis ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang bersifat permanen.

"Perjalanan penyakit lupus bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks," kata Sandra.

Keterlambatan diagnosis dan penanganan lupus dapat memberikan dampak dan berpengaruh terhadap pasien.

Data menunjukkan sekitar 82 persen pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan, 43,9 persen mengalami ketidakhadiran di sekolah atau pekerjaan, 32,5 persen terpaksa berhenti bekerja sepenuhnya, dan sekitar 50 persen menghadapi dampak psikologis yang signifikan akibat perjalanan penyakit yang panjang.

Beban Lupus Tak Hanya Dirasakan Secara Fisik

Kondisi ini memperlihatkan bahwa beban lupus tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis, aktivitas harian, serta kemampuan pasien untuk tetap produktif.

Oleh karena itu, peningkatan kesadaran publik terhadap gejala lupus menjadi langkah penting agar pasien dapat mencari pertolongan medis lebih cepat dan memperoleh penanganan yang sesuai sejak dini.

Seiring berkembangnya pemahaman terhadap mekanisme penyakit, pendekatan penanganan lupus juga terus mengalami kemajuan.

Saat ini, penanganan lupus tidak hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi sebagai target utama.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini bertujuan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah secara konsisten, mencegah kerusakan organ, serta meminimalkan penggunaan Glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.

The European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) juga merekomendasikan hal serupa dengan menekankan pentingnya remisi, pembatasan kerusakan organ, pencegahan flare, serta pengurangan penggunaan Glukokortikoid dalam penanganan lupus.

Salah satu inovasi terbaru adalah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia yang diindikasikan untuk lupus. Terapi ini bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I. 

Anifrolumab bekerja dengan menghambat sinyal melalui reseptor Interferon Tipe I, jalur yang diketahui berperan dalam patogenesis lupus.

Pendekatan ini menjadi bagian dari perkembangan terapi yang lebih terarah untuk membantu pasien dengan lupus aktif pada kategori sedang hingga berat, sesuai evaluasi dan pengawasan dokter.

"Pendekatan penanganan lupus kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang," Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, dalam keterangan yang sama.

Inovasi terapi perlu berjalan beriringan dengan edukasi, diagnosis yang lebih cepat, serta penerapan praktik klinis berbasis bukti.

Hal ini penting agar pasien dapat memperoleh terapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, serta mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan dalam perjalanan penyakit yang bersifat kronis.