Tak Hanya Stroke, Hipertensi Juga Bisa Picu Disabilitas Netra hingga Demensia

Hipertensi bisa picu disabilitas netra dan demensia alias pikun, begini penjelasan dokter.

Diterbitkan 20 Mei 2026, 20:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis saraf sekaligus Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Eka Harmeiwaty, mengatakan, hipertensi bisa memicu berbagai masalah termasuk disabilitas netra dan demensia.

Menurutnya, hipertensi memicu kerusakan di dinding pembuluh darah termasuk dapat pula merusak pembuluh darah mata.

"Di mata ada pembuluh darah, nah jika pecahnya pembuluh darah berlanjut terus, itu bisa menyebabkan kebutaan," kata Eka kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media bersama Omron di Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026.

"Kemudian bagaimana dengan demensia? Nah, pada pasien-pasien demensia yang terganggu itu pembuluh darah yang kecil-kecil di otak. Pasien hipertensi yang tidak terkontrol memiliki risiko pembuluh darah yang kecil-kecil itu tersumbat, nah itulah yang merusak sel-sel saraf yang kemudian bisa menyebabkan demensia," tambah Eka.

Dia, mengatakan, pasien hipertensi tidak perlu mengalami stroke dulu untuk terkena demensia. Umumnya, pikun atau demensia terjadi pada pasien hipertensi kronik atau hipertensi yang sudah terjadi sejak lama.

"Kalau pikun biasanya pada hipertensi kronik, yang lama, kalau kebutaan usia muda juga bisa, karena hipertensi sekunder," ujarnya.

Dilansir Cleveland Clinic, hipertensi sekunder adalah tekanan darah tinggi dengan penyebab yang dapat diidentifikasi. Seringkali, penyebabnya adalah kondisi medis atau obat yang dikonsumsi. Umumnya, tekanan darah bisa diturunkan dengan mengobati pemicunya.

Hipertensi sekunder berbeda dengan hipertensi primer, yang tidak memiliki satu penyebab yang jelas. Sebagian besar kasus hipertensi adalah primer.

Para ahli dulunya berpikir bahwa hanya 5 hingga 10 persen kasus tekanan darah tinggi memiliki penyebab sekunder. Tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah sebenarnya kasus hipertensi sekunder mungkin jauh lebih tinggi.

Ini karena banyak kasus tidak dikenali atau didiagnosis sebagai hipertensi primer.