Sukses

Gagal ke Gunung Kilimanjaro karena Pandemi, Jiwa Petualang Wanita Buta di Australia Ini Tak Surut

Liputan6.com, Jakarta Pandemi harus membuat Nicole Forbes-Hood harus membatalkan pendakiannya ke gunung Kilimanjaro di Afrika. Namun, wanita dengan gangguan penglihatan di Australia itu mengganti petualangannya dengan menempuh Larapinta Trail.

Forbes-Hood secara legal dinyatakan buta, karena lahir dengan kondisi mata degeneratif aniridia, di mana sebagian atau seluruh irisnya hilang.

Ibu 43 tahun ini mengatakan bahwa tidak ada operasi, kacamata, atau lensa kontak yang dapat membantu karena seluruh bagian belakang matanya tidak berkembang.

Dilansir dari ABC News pada Selasa (29/6/2021), Forbes-Hood awalnya berencana mendaki gunung Kilimanjaro di Tanzania, demi meningkatkan kesadaran dan menggalang dana untuk Guide Dogs Queensland.

"Sungguh kesempatan yang luar biasa seumur hidup demi mengumpulkan dana untuk amal yang telah memberikan begitu banyak kembali kepada saya," kata Forbes Hood.

Di satu sisi, wanita asal Sunshine Coast itu juga dapat melakukan sesuatu yang keluar dari zona nyamannya.

2 dari 6 halaman

Terhalang Pandemi

Namun, semua rencananya harus berubah akibat ditangguhkannya perjalanan internasional karena pandemi COVID-19. Hal itu tidak menyurutkan keinginannya.

"Saya masih ingin dapat melakukan sesuatu yang saya lakukan dengan semua pelatihan ini dan kerja keras dengan penggalangan dana saya," katanya.

Forbes-Hood akhirnya memutuskan bahwa dia dan sang suami, Manaia, akan mencoba Larapinta Trail.

Dikutip dari laman nt.gov.au, Larapinta Trail adalah sebuah jalur jalan kaki jarak jauh yang ada di Australia Tengah, dan membentang 230 kilometer di sepanjang punggung West MacDonnell Ranges.

Walking track ini dibagi menjadi 12 bagian yang masing-masing membutuhkan waktu hingga satu sampai dua hari untuk berjalan.

 

 

3 dari 6 halaman

Tak Bisa Ajak Anjing Pemandu

Forbes-Hood awalnya ingin mengajak anjing pemandunya untuk ikut dalam petualangannya tersebut. Ia mengungkapkan, hewan bernama Oskar itu sudah ikut dirinya mendaki saat masih berusia tiga tahun.

"Dia benar-benar mengubah hidup saya. Saya jadi lebih lambat dan kurang percaya diri selama lima tahun terakhir, terutama karena penglihatan saya memburuk secara signifikan."

"Sekarang ketika saya duduk dengan Oskar, dia bukan hanya teman saya, tetapi saya menaruh kepercayaan penuh saya padanya dan saya bisa lebih cepat berdiri dan berjalan dengan kepala tegak."

Forbes-Hood mengatakan bahwa medan dan kondisi yang dia lalui akan terlalu keras untuk anjingnya. Maka dari itu kali ini, sang suami akan menjadi pemandu penglihatannya.

4 dari 6 halaman

Andalkan Tongkat dan Sang Suami

Dalam perjalanannya, ibu dua anak ini mengandalkan tongkat pendakian dan suaminya, untuk memberikan isyarat verbal demi memastikan medan yang dia hadapi.

Ada kalanya Ms Forbes-Hood tidak memiliki penglihatan sama sekali, tergantung kondisi pencahayaan. "Kadang-kadang agak menakutkan, terutama mendaki Gunung Sonder dan di beberapa Razorback Ridge yang sempit."

Meski tidak bisa melihat melihat dengan matanya pemandangan yang spektakuler, namun Forbes-Hood merasa senang dapat melalui momen-momen yang sulit.

"Saya memanfaatkan semua indra yang lain untuk mencium bau, hanya mendengar burung-burung dan suara tanah di sekitar saya," katanya.

Forbes-Hood mengatakan bahwa mereka mengambil banyak foto, sehingga gambar-gambar penuh kenangan itu bisa diperbesar di komputer hingga dapat dilihat olehnya sampai ukuran tertentu.

Dalam perjalanan itu, Forbes-Hood berhasil menempuh perjalanan hingga 65 kilometer, serta menggalang dana sebesar enam ribu dolar untuk Guide Dogs Queensland.

5 dari 6 halaman

Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19

6 dari 6 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini