Sulit Bedakan Hijau dan Merah, Ketahui Faktor Penyebab Buta Warna

Gangguan penglihatan warna atau buta warna discromatopsia biasanya bersifat bawaan atau kongenital.

Diterbitkan 12 April 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang yang buta warna sulit membedakan warna-warna tertentu. Hijau dan merah, merupakan dua warna yang paling umum sulit dibedakan oleh orang dengan gangguan penglihatan warna atau discromatopsia ini.

Dokter spesialis mata Drasthya Zarisha mengatakan kondisi buta warna umumnya sudah ada sejak lahir. Namun, baru sadar memiliki gangguan penglihatan warna ketika mengikuti tes kesehatan untuk sekolah, pekerjaan, atau pembuatan surat izin mengemudi (SIM).

Lalu, kok bisa seseorang buta warna? Drasthya mengatakan hal ini terkait dengan faktor keturunan, khususnya kondisi buta warna yang diwariskan orangtua.

“Sebagian besar kasus gangguan penglihatan warna bersifat bawaan atau kongenital,” kata Drasthya mengutip laman IPB University.

Orang dengan kondisi discromatopsia mengalami kelainan pada sel kerucut di retina, yakni sel yang berperan penting dalam menangkap dan membedakan warna. Sementara, pada individu dengan penglihatan normal atau trikromatis, mata mampu mencampur tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru.

Buta warna kongenital berkaitan dengan gen resesif yang terletak pada kromosom X, khususnya pada spektrum merah-hijau. Karena itu, kondisi ini lebih sering diturunkan melalui ibu yang berperan sebagai carrier.

Ayah yang mengalami buta warna tidak serta merta menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya. Hal ini karena anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.

“Jika seorang ibu membawa gen buta warna atau mengalaminya, maka anaknya berpotensi memiliki kondisi serupa. Untuk anak laki-laki, cukup satu gen X yang terdampak untuk mengalami buta warna, sedangkan pada perempuan dibutuhkan dua gen X yang terdampak,” jelasnya.

Buta Warna Total dan Parsial

Mengenai jenis, ada buta warna total dan parsial. Buta warna total atau akromatopsia merupakan kondisi paling berat karena individu hanya dapat melihat dalam nuansa abu-abu akibat tidak berfungsinya sel kerucut. Pada kondisi ini, ketajaman penglihatan juga dapat menurun dari ringan hingga berat.

“Sementara pada buta warna parsial, gangguan hanya terjadi pada sebagian spektrum warna,” pungkasnya.

Cara Tes Buta Warna

Drasthya menyebutkan bahwa pemeriksaan sederhana dapat dilakukan melalui tes buta warna, salah satunya menggunakan Buku Ishihara. Tes ini menggunakan lempeng warna pseudoisokromatis untuk menguji kemampuan membedakan warna, khususnya merah dan hijau.

“Untuk mengetahui lebih spesifik gen yang terlibat, dapat dilakukan pemeriksaan genetik,” tambahnya.

Buta Warna, Bisakah Diobati?

Hingga saat ini belum ada metode untuk mencegah maupun menyembuhkan buta warna bawaan. Hal ini karena gangguan terjadi pada “sensor warna” di retina sejak lahir.

Meski demikian, penderita tetap dapat beradaptasi dengan berbagai cara, seperti menggunakan strategi membaca kode warna, pelabelan, atau memanfaatkan aplikasi ponsel untuk membantu identifikasi warna.

Pada kasus buta warna yang didapat akibat penyakit tertentu, perbaikan persepsi warna dimungkinkan jika penyebabnya dapat diobati.